Tampilkan postingan dengan label Siti Lutfiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siti Lutfiah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2011

TUGAS ARTIKEL ILMIAH SITI LUTFIAH

1.4 Mind Map Artikel Ilmiah


TUGAS ARTIKEL ILMIAH SITI LUTFIAH



Pergeseran Bahasa Daerah dalam Komunikasi Lintas Budaya
Oleh Siti Lutfiah

Hinggga saat ini, komunikasi lintas budaya menjadi sangat menarik untuk dikaji karena keanekaragaman penutur dalam masyarakat. Menurut Paul Ohoiowutun secara kebahasaan komunikasi lintas budaya terjadi karena adanya transmigrasi, hubungan perdagangan, diplomasi dan tali pernikahan antar budaya. Harus diakui bahwa saat ini, di negara-negara yang memiliki banyak sekali kebudayaan daerah seperti di Indonesia, sering mengalami peristiwa komunikasi lintas budaya. Tidaklah mengherankan jika di Indonesia kini, anak-anak yang berdarah campuran, tidak dapat menggunakan bahasa daerah (bahasa ibu)-nya sendiri. Dalam hal ini, percampuran yang terjadi tidak hanya antar suku di Indonesia. Percampuran antar negara pun termasuk ke dalam masalah komunikasi lintas budaya.
Tidak mustahil jika suatu saat nanti akan ada satu bahasa dari satu suku dan budaya tertentu yang akan mengalami kepunahan karena pergeseran tersebut. Padahal, salah satu keunikan dan kemenarikan negara Indonesia terletak pada keberanekaragaman budaya dan bahasanya. Dapat diibaratkan seperti sayur tanpa garam Indonesia kelak, jika keberanekaragaman budaya dan bahasanya satu persatu hilang.

·         Hubungan Komunikasi Lintas Budaya dengan Pergeseran Bahasa Daerah
Komunikasi lintas budaya ini, pada umumnya berfokus pada bagaimana bahasa digunakan dalam masyarakat yang berbudaya ganda sedangkan pergeseran bahasa terjadi karena adanya komunikasi lintas budaya. Memang tidak dapat dipungkiri, di Indonesia kini permasalah tersebut begitu berkembang pesat. Hanya saja, kita sangat perlu mencegah hal tersebut terjadi. Kenapa? Karena kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia, patut mempertahankan keberanekaragaman budaya dan bahasa yang menjadi ciri dan mahkota kebanggaan bangsa ini.
Menurut Fishman (1972) , pergeseran sebenarnya terjadi pada keturunan ketiga atau keempat setelah pelaku komunikasi lintas budaya tersebut mulai memudar bahasa ibunya. Hal tersebut digambarkan oleh Fishman dalam alur pergeseran sebagai berikut:

Pada kotak-kotak tersebut digambarkan bagaimana pergeseran terjadi. Di mana pada awalnya seseorang hanya memiliki bahasa ibu, kemudian memeroleh bahasa kedua, selanjutnya mahir dalam menggunakan bahasa kedua sehingga tak lagi mempergunakan bahasa ibu. Dan pada akhirnya terbentuklah suatu kemonolingualan dari bahasa kedua.
Hal itulah yang sering terjadi di Indonesia. Misalnya saja, pada kasus yang dialami oleh penulis makalah ini sendiri. Penulis terlahir dari keluarga percampuran antara suku Jawa (Jawa Solo) dengan suku sunda (Banten). Selama hidupnya penulis tidak pernah menggunakan bahasa Jawa (Jawa Solo) sama sekali, bahkan mengerti pun tidak. Bahasa ibu yang diketahui oleh penulis hanyalah bahasa sunda, yaitu bahasa yang diturunkan dari sang ayah. Meskipun ibu mengerti bahasa Jawa, beliau sama sekali tidak pernah menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Dominasi bahasa Sunda yang terlihat pada keluarga penulis.
Berdasarkan contoh tersebut, pergeseran terjadi karena adanya pernikahan antar budaya, yang mengakibatkan salah satu pihak menyesuaikan dengan bahasa ibu yang dimiliki pihak lain, kemudian terjadilah kemonolingualan dari pemerolehan bahasa kedua, dan pada akhirnya keturunan berikutnya tidak lagi memiliki 2 bahasa ibu.
Selain dari permasalahan-permasalahan yang telah dijabarkan. Terdapat faktor lain yang mengakibatkan terjadinya pergeseran bahasa, yaitu seperti penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa pemersatu bangsa. Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, bahwa bangsa Indonesia terdiri atas beragam budaya dan bahasa maka tentu saja bahasa Indonesia merupakan alat yang dipergunakan untuk memersatukan segala perbedaan tersebut, termasuk dalam berkomunikasi lintas budaya. Namun penggunaan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi pun, sebenarnya dapat menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa ibu.
Contohnya, seperti yang terjadi pada artis Cinta Laura. Cinta Laura adalah salah satu artis berdarah campuran Indonesia (Bali) -Jerman. Sejak kecil ia dibesarkan dengan bahasa kedua dari ayah yaitu bahasa Inggris, yang merupakan bahasa komunikasi sehari-hari di dalam keluarga Cinta Laura. Cinta Laura tidak dapat berbahasa Ibu (bahasa Bali), sehingga dalam berkomunikasi di Indonesia ini, dia menggunakan bahasa nasional bahasa Indonesia. Bahasa Indonesianya pun tidak begitu fasih, bahkan terkadang menyisipkan bahasa Inggris dalam berkomunikasi atau kita lebih mengenal dengan sebutan kebarat-baratan.
Bila dilihat dari sudut padang kekomunikatifan berbahasa, mungkin peristiwa yang terjadi pada Cinta Laura tidaklah salah, karena yang penting dalam berkomunikasi lisan adalah apakah lawan berbicara kita mengerti maksud yang ingin disampaikan. Namun apabila dilihat dari segi sosiolinguistik, terutama aspek yang menjadi bahasan artikel ini yaitu pergeseran bahasa daerah. Peristiwa yang terjadi pada Cinta Laura termasuk ke dalam pergeseran bahasa daerah. Cinta Laura tidak dapat berbahasa ibu (bahasa Bali).
Dari kedua kasus tersebut, sebenarnya dapat diambil satu garis yang sama. Bahwa peristiwa semacam ini, dikembalikan lagi kepada orang tua yang mengajarkan kita berbahasa. Apakah di dalam keluarga yang memiliki percampuran suku atau negara  mendapatkan pembelajaran mengenai bahasa ibu secara merata dan setara. Biasanya orang tua cenderung mengajarkan bahasa yang komunikatif terlebih dahulu dan melupakan bahasa ibu untuk diajarkan kepada anak-anaknya, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran bahasa kedua yang dianggap lebih memiliki suatu kebanggaan tertentu dalam penggunaannya.
Pada dasarnya semua bahasa itu sama dan memiliki kedudukan yang sama (Paul Ohiowutu, 2002 dalam Sosiolinguistik memahami bahasa dalam konteks masyarakat dan kebudayaan 99-100). Namun terkadang penafsiran kita salah terhadap suatu kedudukan bahasa. Bahasa daerah cenderung dinilai rendah dan kampungan bagi sebagian masyarakat kita. Padahal tanpa adanya bahasa daerah maka bahasa nasional bahasa Indonesia tak akan pernah ada dan keunikan negara kita salah satunya terletak pada keberagaman bahasa, mulai dari Sabang hingga Merauke.

·         Peran Pemertahanan Bahasa terhadap Pergeseran Bahasa Daerah
Berdasarkan penjelasan mengenai pergeseran diatas yang mengacu pada kepunahan suatu bahasa. Maka sangat diperlukan pemertahanan bahasa, agar kepunahan tersebut tidak terjadi. Pemertahanan bahasa merupakan suatu sikap di mana, tetap menjaga dan melestarikan suatu bahasa. Pemertahanan bahasa daerah di era globalisasi ini sangatlah diperlukan. Kenapa? Karena seiring berkembangnya era globalisasi,  berkembang pula pola pikir manusia. Pola pikir manusia saat ini cenderung mengarah pada pola pikir masyarakat Barat,. Segala sesuatu yang berbau barat/ luar negeri dianggap lebih memiliki nilai keprestisan yang begitu tinggi. Bisa kita lihat pada contoh pembahasan sebelumnya. Memang tak dapat dipungkiri bahwa saat ini, setiap individu dituntut untuk memiliki kemahiran dalam berbahasa asing Namun hal tersebut harus diimbangi dengan sikap tidak mengabaikan pelestarian bahasa daerah.
Kita dapat ambil contoh pemertahanan bahasa daerah yang terjadi di daerah Sukaraja Bogor dan Petir Banten. Di daerah tersebut, masyarakatnya menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Sunda. Bahasa Sunda yang dipergunakan pun terbilang berbeda dengan bahasa Sunda dialek Bogor dan Banten pada umumnya, yaitu selalu diakhiri oleh kata “Jing” dalam setiap kalimatnya. Dalam berkomunikasi pun sampai saat ini, mereka masih menggunakan akhiran tersebut dan tetap memertahankan kekhasan bahasa sundanya itu.
Menurut Sumarsono pada kasus seperti di atas itu, terdapat 4 faktor yang menyebabkan terjadinya pemertahanan di daerah tersebut. pertama, wilayah permukiman mereka terkonsenterasi pada satu tempat yang secara geografis terpisah dari daerah lainnya. Kedua, adanya toleransi dalam berkomunikasi yang terjadi antara masyarakat di daerah kota dengan masyarakat daerah permukiman dalam. Ketiga, adanya loyalitas yang tinggi antara penutur dengan bahasa yang dipergunakan. Keempat, di dalam komunikasi intrakelompok tetap dipergunakan bahasa daerahnya tersebut.


·         Optimalisasi peranan masyarakat dalam memertahankan bahasa daerah
Optimalisasi peranan masyarakat dalam memertahankan bahasa daerah sebenarnya sangat erat kaitannnya dengan sikap masyarakat. Hal ini berkaitan dengan bagaimana masyarakat dalam bersikap terhadap berkembang pesatnya era globalisasi. Menurut Garvin dan Mathiot (1968) terdapat 3 sikap bahasa. Pertama, kesetiaan bahasa (Language Loyalty) yang mendorong masyarakat suatu bahasa mempertahankan bahasanya, dan apabila perlu mencegah adanya pengaruh bahasa lain. Kedua, kebanggaan bahasa (language pride) yang mendorong orang mengembangkan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas dan kesatuan masyarakat. Ketiga, kesadaran adanya norma bahasa (awareness of the norm) yang mendorong orang menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun; dan merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap perbuatan yaitu kegiatan menggunakan bahasa (language use). Apakah sikap tersebut telah ada pada diri kita?  Karena bila sikap-sikap tersebut belum ada, kemungkinan suatu bahasa itu punah pasti ada.
Begitu besar peran masyarakat dalam pengoptimalan sikap pemertahanan bahasa, terhadap pergeseran bahasa di era globalisasi saat ini. Mengapa demikian? Karena banyak masyarakat yang mulai bersikap negatif terhadap bahasa daerah. Tak ada lagi rasa bangga terhadap bahasa derahnya sendiri, dan cenderung mengalihkan rasa bangga itu kepada bahasa lain yang bukan milik kita.
Berkenaan dengan sikap-sikap negatif tersebut, sejalan dengan yang dikatakan oleh Halim (1978:7) tentang bagaimana cara mengubah sikap negatif, yaitu melalui pendidikan bahasa. Namun itu saja tidaklah cukup, karena perlu diimbangi dengan adanya motivasi dalam diri untuk menumbuhkan rasa bangga berbahasa daerah dan rasa memiliki bahasa daerah. Selain daripada pendidikan bahasa dan motivasi, pengaplikasiaan bahasa daerah dalam berkomunikasi pun sangat diperlukan.

·         Kesimpulan
Bersandar pada sejumlah hal yang telah disebutkan, seperti pentingnya peran pemertahanan bahasa, dan optimalisasi sikap pemertahanan adalah bagian yang tak dapat terpisahkan dari komunikasi lintas budaya, penyebab pergeseran bahasa daerah. Maka hendaklah dipertimbangkan kembali hal-hal tersebut, sebagai satu upaya untuk mencegah terjadinya kepunahan suatu bahasa daerah di Indonesia.
Namun jangan sampai hal tesebut, membentuk  suatu sikap antipati dan tertutup terhadap perkembangan yang ada. Bahkan seharusnya menjadikan kita lebih cermat dalam menyaring berbagai macam perkembangan di era globalisasi ini. Jangan sampai menjadikan kita malah terseret dalam arus globalisasi yang berkembang begitu pesat.

Daftar Pustaka
Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 1995. Sosiolinguistik perkenalan awal. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Ohoiwutun, Paul. 2002. Sosiolinguistik: Memahami Bahasa dalam Konteks Masyarakat dan Kebudayaan. Jakarta: Kesain Blanc.




TUGAS ARTIKEL JURNAL ILMIAH SITI LUTFIAH

1.3 Mind Map Artikel Jurnal Ilmiah


TUGAS ARTIKEL JURNAL ILMIAH SITI LUTFIAH



REPRESENTASI “CINTA ABADI” TAJ MAHAL DALAM NOVEL TAJ MAHAL KARYA JOHN SHORS: SUATU KAJIAN DEKONSTRUKSI
OLEH VIRLY RAZKIA
 
ABSTRAK
Virly Razkia. 2011. Representasi “Cinta Abadi” Taj Mahal dalam Novel Taj Mahal Karya John Shors: Suatu Kajian Dekonstruksi. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.
Penelitian karya Virly Razkia ini mengkaji novel Taj Mahal karya John Shors, berkaitan dengan representasi “Cinta Abadi” yang merupakan lambang cinta antara Shah Jahan dan Mumtaz Mahal. Simbol “Cinta Abadi” Taj Mahal. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan dekonstruksi yang dicetuskan oleh Jacques Derrida, dengan memanfaatkan teori strukturalisme model A.J Greimas sebagai landasan menemukan oposisi biner bagi langkah kerja dekonstruksi. Penelitian ini mengajukan beberapa paradox yang ditimbulkan dari pertentangan simbol “Cinta Abadi” yang merupakan superior dan symbol “bukan cinta abadi” seperti simbol pernikahan politis, simbol peperangan, dan simbol perselingkuhan yang menjadi inferior. Pembongkaran dilakukan dengan menggunakan metode Sous rature (cara membongkar makna dengan menyilang kata dan menangguhkannya) dan pembalikan privilese (cara membongkar dengan membalikan oposisi biner atas superior dan inferior). Hasil analisis pembongkaran memperlihatkan jejak-jejak yang seharusnya mengarah kepada representasi “cinta abadi” selalu saja tertunda dan membelot, sehingga timbul representasi “bukan cinta abadi” Taj Mahal sebagai pemilihan jalan tengah. Analisis dekonstruksi serta memperlihatkan pembalikan privilese oposisi biner dan meruntuhkan hierarkis yang khas dengan struktural.
Kata kunci: Taj Mahal, Representasi “Cinta Abadi”. Representasi “bukan cinta abadi”, dekonstruksi novel, oposisi biner.

PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Taj Mahal adalah sebuah monument yang terletak di Agra, Negara India, dibangun atas keinginan Kaisar Mughal Shah Jahan, anak Jahangir, sebagai sebuah mausoleum untuk istrinya, Arjumand Banu Begum, juga dikenal sebagai Mumtaz-ul-Zamani atau Mumtaz Mahal. Pembangunannya mengahbiskan Waktu 22 tahun (1630-1653) dan merupakan sebuah adi karya dari arsitektur Mughal. Permaisuri bernama Mumtaz Mahal ini diwujudkan dengan dibangunnya makam menyerupai masjid untuk mengenangnya. Kisah yang mengharukan dan sarat akan keagungannya cinta itulah yang membuat lambing “Cinta Abadi” Taj Mahal terus melekat dan menjadi sebuah kisah warisan hingga kini. Kisah Taj Mahal diangkat dalam karya sastra pada abad ke-21, yakni tepatnya pada tahun 2004 dalam bentuk prosa berupa novel.
Hadirnya Taj Mahal dalam bentuk karya sastra sama dengan mengangkat tema cerita dari sebuah realitas, yang mengungkap berbagai kemisteriusan dari bangunan Taj Mahal. Hal inilah yang menjadikan peneliti tertarik untuk mengkaji novel Taj Mahal karya John Shors.  Namun , penelitian ini sama sekali tidak berhubungan secara langsung dengan penelitian dalam bidang arkeolog yang melihat dari  segi bangunan ataupun sejarahnya. Dalam hal ini peneliti hanya ingin memperlihatkan pembongkaran representasi “Cinta Abadi” Taj Mahal karya John Shors dengan menggunakan pendekatan dekontruksi. Dekontruksi dilakukan dengan mengkotomikan representasi “Cinta Abadi” dengan “Bukan Cinta Abadi”. Dari 2 frasa paradoks tersebut, akan didapatkan makna-makna yang  menjadi kata kunci dari dekontruksi.
Selain dari pada hal-hal yang telah disebutkan, peneliti merasa bahwa Taj Mahal yang merupakan produk masa lampau bisa diberi makna baru lewat pengkajian terhadap teks sastra dan mengalami pengbongkaran pada representasinya. Berangkat dari hal-hal tersebut maka penelitian ini pun, dilakukan oleh Virly Razkia.

  1. Tujuan
Penelitian dilakukan dengan tujuan mengungkapakan dekontruksi representasi “Cinta Abadi” Taj Mahal dalam novel Taj Mahal karya John Shors dengan menggunakan pendekatan dekontruksi.

METODE PENELITIAN
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode kualitatif memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikannya dalam bentuk deskripsi terhadapa pemaknaan teks. Dalam penelitian ini, diawali dengan analisis menggunkan pendekatan struktural model Greimas, lalu dilanjutkan dengan analisis menggunkan pendekatan dekonstruksi.
Langkah-langkah dekonstruksi sebagai berikut:
1)      Mengidentifikasi hierarki oposisi dalam teks di mana biasanya lantas terlihat peristilahan mana yang diistimewakan secara sistematik
2)      Oposisi-oposisi tersebut dibalik, misalnya dengan menunjukkan adanya saling ketergantungan di antara yang berlawanan itu, atau dengan mengusulkan privilese secara terbalik.
3)      Memperkenalkan sebuah istilah atau gagasan baru yang ternyata tak bias dimasukkan ke dalam kategori oposisi lama.
Langkah-langkah di atas jelas menunjukkan bahwa pembacaan dekonstruktif berbeda dari pembacaan biasa.  Pembacaan biasa selalu berupaya untuk membuktikan bahwa makna itu tidak tunggal.
LANGKAH ANALISIS
1.      Peneliti membaca secara berulang objek penelitian, yaitu novel Taj Mahal karya John Shors.
2.      Setelah memahami isi yang terkandung dalam novel, peneliti menentukan unit analisis dengan bantuan pendekatan struktural model Greimas, yaitu:
a)      Subjek adalah pahlawan atau seseorang yang memiliki tujuan terhadap objek. Subjek selalu hamper diisi oleh tokoh manusia.
b)      Objek adalah seseorang atau sesuatu yang bersifat abstrak, yang diigini, dicari, atau diburu oleh subjek.
c)      Pengirim adalah seseorang, sesuatu atau kuasa, yang menjadi sumber ide dan berfungsi sebagai penggerak cerita. Pengirimlah yang menimbulkan keinginan bagi subjek atau pahlawan untuk mencapai objek atau tujuan.
d)     Penerima adalah bisa juga subjek yang berhasil mendapatkan objek, dengan sebelumnya mendapat persetujuan dan pengirim atau kuasa.
e)      Penolong adalah seseorang atau sesuatu yang membantu atau mempermudah usaha pahlawan atau subjek dalam mencapai objek.
f)       Penentang adalah seseorang atau sesuatu yang menghalangi usaha pahlawan atau subjek dalam mencapai objek.
3.      Kemudian setelah menentukan unit analisis struktur novel Taj Mahal, peneliti menggunakan unit analisis dari model Greimas tersebut untuk diterapkan dalam representasi “Cinta Abadi” Taj Mahal dengan menggunakan pendekatan dekonstruksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis pembongkaran yang memperlihatkan jejak-jejak yang tidak mengarah ke simbol “Cinta Abadi”, maka dekonstruksi pada garis besar paradoks bisa dijawab dengan beberapa tahapan, sebagai berikut:
a)      Pada tahap pertama, menyilang kata “Cinta Abadi’ dan menggantinya dengan tiga kata sekaligus yaitu pernikahan politisi, perselingkuhan, dan peperangan, sehingga bisa dibaca: Simbol Taj Mahal adalah pernikahan politis, perselingkuhan dan peperangan
b)      Pada tahap kedua, menyilang kata “Cinta Abadi” lalu menggantinya dengan “Bukan Cinta Abadi”, sehingga dibaca: representasi “Bukan Cinta Abadi” Taj Mahal. Representasi “Bukan Cinta Abadi” adalah pemilihan jalan tengah dari pertentangan representasi “Cinta Abadi” dengan simbol-simbol “Bukan Cinta Abadi”. Selain itu dekonstruksi mencoba membalik privilese yang ada, dengan memarginalkan “Cinta Abadi” yang tadinya diistimewakan.
c)      Pada tahap ketiga yaitu tahap akhir, mempersandingkan paradoks yang berisi simbol “Cinta Abadi” dengan simbol-simbol seperti “pernikahan politis”, “Cinta terlarang”, “kurun waktu yang panjang”, dsb, lalu mengerucutkannya menjadi “Simbol bukan cinta abadi”. Sehingga symbol “Cinta Abadi” yang orientasinya ke representasi “bukan cinta abadi” terlihat dapat bertukar tempat/pembalikkan privilese. Dengan demikian, perobohan susunan hierarkis telah dilakukan dengan adanya kesetaraan kini.
Pada intinya, pembongkaran yang dilakukan telah menolak kemapanana yang selam ini mengiringi nama Taj Mahal. Seperti prinsip dekonstruksi yang selalu anti dengan kemapanan, pembalikan privilese oposisi biner maupun Sous Rature bukan dimaksudkan untuk membuat yang dimarginalkan menjadi superior atau membuat yang superior menjadi inferior. Pembalikan privilese bermaksud membuktikan bahwa tidak adanya oposisi biner, yang ada hanya kesetaraan, saling keterggantungan, dan keterikatan satu sama lainnya. Sedangkan, Sous Rature bukan bermaksud menghilangkan selamanya suatu makna, namun hanya menyilangnya (tidak menghapusnya), lebih tepatnya menunda untuk beranjak melihat jejak berikutnya. Untuk melihat jejak-jejak tersebut perlu dibantu dengan berbagai kacamata sebagai sudut pandang, misalnya seperti kacamata agama yang peneliti gunakan dalam analisis ini.
Hasil akhir dari pembongkaran representasi “Cinta Abadi” Taj Mahal tidaklah muttlak menjadi “Bukan Cinta Abadi’ karena makna senantiasa terus bergerak. Dekonstruksi bekerja membongkar lalu membangun, lalu bangunan baru itu tidak berada dalam jebakan atas dirinya sendiri, karena ia akan bersedia menunggu jikalau akan dibongkar lagi, dan seterusnya. Jika pada penelitian ini berhenti sampai makna “ Buakn Cinta Abadi”, tidak menutup kemungkinan aka nada penelitian selanjutnya yang akan kembali membongkar dan menemukan makna lainnya. Dengan demikian, makna bisa menjadi multitafsir dan lebih variatif.

KESIMPULAN
                        Jadi , dapat disimpulkan ke dalam beberapa point hasil dari penelitian ini:
                      1.  Simbol “Cinta Abadi” tidak terceminkan dari adanya simbol pernikahan politis  yang cenderung mengandung kekerasan dalam rumah tangga.
                     2.  Paradoks merupakan dua simbol antara “Cinta Abadi dan “Bukan Cinta Abadi”  secara bersamaan, telah mempertanyakan kemutlakan representasi “Cinta  Abadi’. Jika dari dua hal, salah satunya benar, maka satu hal lainnya belum  tentu adalah salah. Begitu pun dengan paradox dalam setiap sub unit analisis  pembongkaran. Dengan demikian, ada jalan tengah atau pemilihan jalan ketiga  yaitu representasi “Bukan Cinta Abadi” Taj Mahal yang merupakan istilah baru  untuk menyebutkan hasil pembongkaran pada penelitian ini.


Sumber: Skripsi Virly Razkia ( Representasi “Cinta Abadi” Taj Mahal dalam Novel Taj Mahal karya John Shors: Suatu Kajian Dekonstruksi)
Penulis artikel: Siti Lutfiah (Angkatan 2009, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta)


TUGAS LAPORAN BUKU SITI LUTFIAH

1.2 Mind Map Laporan Buku




LAPORAN BUKU “EVALUASI PEMBELAJARAN
Karya Drs. Asep Jihad, M.Pd. dan Dr. Abdul Haris, M.Sc.”
Ditulis oleh: Siti Lutfiah

Evaluasi pembelajaran merupakan tahapan penting dalam proses pembelajaran, yang dilakukan semua jenjang pendidikan. Proses ini juga merupakan langkah strategis dalam upaya meningkatkan output pembelajaran yang lebih terukur dan kompetitif. Karena hal itulah, penulis membuat buku yang mengkhususkan pada evaluasi pembelajaran sehingga dapat dipergunakan sebagai panduan, para guru dan praktisi pendidik lainnya. Buku yang berjudul “Evaluasi Pembelajaran” ini, ditulis oleh Drs. Asep Jihad, M.Pd. dan Dr. Abdul Haris, M.Sc. , diterbitkan tahun 2008 oleh penerbit Multi press di Yogyakarta, dengan jumlah halaman sebanyak 196 halaman.
Dari keseluruhan halaman tersebut, buku ini memuat konten isi yang begitu lengkap. Dengan berbagai uraian mengenai evalusi pembelajaran  dalam mengembangkan kualitas pembelajaran. Buku ini terdiri dari 7 bab,  pada bab 1 berisi mengenai pengertian, ciri-ciri dari pembelajaran dan hasil belajar, kemudian pada bab 2 berisi mengenai strategi, metode dan model pembelajaran, pada bab 3 berisi mengenai pengertian, fungsi, tujuan, prinsip dan aspek penilaian, pada bab 4 berisi mengenai Jenis instrumen, langkah-langkah penilaian serta penskoran, pada bab 5 berisi mengenai penilaian kelas, pada bab 6 berisi mengenai penyusunan instrumen beserta teknik penskorannya dan pada bab terakhir yaitu bab 7, berisi mengenai kriteria tes yang baik.
Berdasarkan keseluruhan isi pada setiap babnya, dibahas mengenai evaluasi secara lebih mendalam yang dikaitkan dengan berbagai bidang keilmuan, sehingga buku ini tak menjadi satu panduan khusus bagi satu bidang keilmuan saja. Tidak seperti buku-buku sejenis yang banyak memberikan persfektif teoritis, buku ini mengawinkan aspek-aspek konseptual dengan aspek-aspek aplikatif yang dekat dengan realitas empiris proses evaluasi pembelajaran di lapangan sehingga sangat mudah untuk mengaplikasikan dan mempraktekannya. Secara teknis, penulisan buku ini sudah sangat baik, bahasanya pun tak rumit untuk dimengerti hanya saja bentuk tulisan yang terlalu merapat membuat kita akan cepat lelah membacanya. Diksi yang digunakan pun, sangat baik sesuai dengan EYD. Jadi secara keseluruhan buku ini cukup bagus dijadikan pedoman bagi para guru maupun calon guru.  Meskipun dari segi teknis penulisan buku ini masih belum baik, tapi dari segi konten isi, buku ini memuat aplikasi-aplikasi yang mudah untuk dipraktekan.


PERBAIKAN TUGAS RESENSI SITI LUTFIAH

1.1 Mind Map Resensi


Tugas Perbaikan Resensi Buku Tes Bahasa Karya Soenardi Djiwandono


Test Bahasa untuk Guru bahasa
Oleh: Siti Lutfiah



Test bahasa adalah salah satu alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran terhadap sesuatu yang bersifat abstrak, tidak kasat mata, tidak kongkrit, seperti kemampuan berpikir, kemampuan mengingat, serta 4 kemampuan berbahasa (Soenardi Djiwandono 2008: 15).


Tes bahasa adalah sesuatu yang sangat penting bagi para guru bahasa, ini menjadi acuan bagi Soenardi untuk mengupas masalah tes bahasa secara lebih mendalam dan lebih khusus. Ia menulis buku ini dipicu oleh kesadaran, bahwa hingga dewasa ini belum cukup tersedia pegangan tentang tes bahasa. Padahal tes bahasa merupakan bagian penting dari  pembelajaran bahasa dan termasuk ke dalam kurikulum pembelajaran bahasa. Penulis juga berharap pengetahuan mengenai tes bahasa secara mendalam, dapat membantu tugas para pengajar. Terutama bagi para pengajar bahasa , di berbagai jenjang pendidikan. Dengan adanya buku tes bahasa ini, para pengajar bahasa dimudahkan dalam menyusun, menyelenggara, dan memproses hasil tes.
Para pengajar dituntut untuk dapat profesional. Hal tersebut berlaku pula bagi para pengajar bahasa. Keprofesionalan seorang pengajar pada umumnya dapat dilihat dari penguasaan dan kemahiran mereka dalam bidang kajian yang diajarkannya, serta keterampilan dalam mempersiapkan, meramukan dan menyelenggarakan pembelajaran yang bermutu. Tidak boleh ketinggalan kemahirannya dalam memproses hasil tes. Semua itu, amat perlu dilengkapi dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan untuk dapat memberikan penilaian secara adil, akurat, dan bertanggung jawab terhadap tingkat pencapaian para pelajar di bawah tanggung jawabnya.
Maka untuk tercapainya tujuan dan harapan-harapan tersebut dipaparkan dalam buku ini pada bab 1 dan 2, mengenai landasan dan latar belakang penyelenggaraan tes bahasa dan berbagai pendekatan tes bahasa. Pada bab-bab tersebut juga, disajikan beberapa cara memandang dan memahami bahasa secara berbeda-beda. Semuanya disesuaikan dengan perkembangan ilmu bahasa yang menjadi dasar dan latar belakang masing-masing pendekatan, serta tes bahasa yang digunakan. Pada bab 3 dibahas secara rinci mengenai jenis tes secara umum, sebagaimana dikenalkan dan digunakan dalam wacana-wacana yang berkaitan dengan tes pada umumnya.  
Pada bab 4 dibahas lebih khusus mengenai jenis-jenis tes bahasa sedangkan ciri-ciri tes yang baik dibahas pada bab 5 dengan beberapa poin mengenai hakekatnya, jenis dan cara verifikasinya yang dapat diterapkan pada tes berbagai bidang kajian, termasuk tes bahasa. Bab 6 membahas mengenai penyusunan tes bahasa yakni berkaitan dengan penskoran. Pada bab 7 dibahas mengenai analisis hasil tes yang berupa nilai, dan pada bab terkhir yaitu bab 8, dibahas mengenai Interpretasi hasil tes. Dari 8 bab tersebut penulis mengupas berbagai masalah yang ada kaitannya dengan tes bahasa secara lebih mendalam. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan berbagai contoh-contoh dan ulasan yang lebih lengkap termasuk rumus-rumus penghitungan yang sering digunakan untuk mengungkap berbagai aspek dan ciri tes.
Pada konten inilah kiranya bisa dibandingkan antara buku tes bahasa, Soenardi Djiwondono dengan buku humaniora non fiksi sejenis lainnya seperti buku evaluasi pembelajaran karangan Asep Jihad dan Abdul haris, yang terletak berbeda pada konten isi, yakni kekhususan dan kerincian mengenai tes bahasa. Kekhususan buku tes bahasa ini, menjadi alternatif bagi para pengajar maupun calon pengajar bahasa untuk mengelengkapi pengetahuan dalam bidang tes bahasa. Buku  ini juga merupakan pengembangan dari buku “tes bahasa dalam pengajaran” oleh penulis yang sama,  diterbitkan ITB Bandung pada tahun 1996. 
Terdapat banyak keunggulan dari buku tes bahasa hasil revisi ini dengan buku tes bahasa sebelumnya, karena buku tes bahasa hasil revisi ini, memiliki cakupan yang lebih luas tentang tes pada umumnya dan tes bahasa khususnya, sehingga selain dapat digunakan oleh para pengajar bahasa, buku ini juga dapat digunakan oleh pengajar dari bidang ilmu lain. Selain keunggulan-keunggulan yang telah disebutkan sebelumnya, buku ini pun memiliki kekurangan dari segi teknik penulisan seperti : pada kepaduan kalimat dan paragraf yang masih kurang koheren, kemudian pada kota tempat penerbit pun tidak tercantum dalam buku ini. Tapi secara keseluruhan buku ini sangat baik dimiliki oleh semua pengajar terutama pengajar bahasa dilihat dari konten materi.
         




Minggu, 20 November 2011

"RESENSI BUKU TES BAHASA" SITI LUTFIAH (2115091876) 



Test Bahasa untuk Guru bahasa



Tes bahasa adalah salah satu alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran terhadap sesuatu yang bersifat abstrak, tidak kasat mata, tidak kongkrit, seperti kemampuan berpikir, kemampuan mengingat, serta kemampuan berbicara atau kemampuan menulis kemampuan-kemampuan bahasa yang lain (Soenardi Djiwono 2008: 15)
Oleh Siti Lutfiah

Tes bahasa adalah sesuatu yang sangat penting bagi para guru bahasa, ini menjadi acuan bagi Soenardi Djiwondono untuk mengupas masalah tes bahasa secara lebih mendalam dan lebih khusus.


Soenardi Djiwono menulis buku ini dipicu oleh kesadaran bahwa hingga dewasa ini belum cukup tersedia pegangan tentang tes bahasa, yang merupakan bagian penting dari  pembelajaran bahasa yang merupakan bagian dari kurikulum pembelajaran bahasa, termasuk pembelajaran bahasa asing, yang kebutuhan dan penyelenggaraan pembelajaran dewasa ini masih luas dan beragam Penulis juga berharap pengetahuan mengenai tes bahasa secara mendalam dapat membantu tugas para pengajar, khususnya pengajar.  

Menyelenggarakan dan memproses hasil tes yang diselenggarakan sebagai bagian tak terpisahkan dari tugas guru. Dalam tugas penyelenggaraan pembelajaran, seorang guru profesional pada umumnya tentu saja diharapkan pertama-tama memiliki penguasaan dan kemahiran dalam bidang kajian yang diajarkannya, serta keterampilan dalam mempersiapkan, meramu dan menyelenggarakan pembelajaran yang bermutu. Semua itu amat perlu dilengkapi dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan untuk dapat memberikan penilaian secara adil, akurat, dan bertanggung jawab terhadap tingkat pencapaian para pembelajar di bawah tanggung jawabnya, di samping manfaat-manfaat lain yang dapat diperoleh dari penggunaan tes yang telah dikembangkan, diselenggarakan, dan dikaji hasilnya secara profesional.

Maka untuk tercapainya tujuan dan harapan-harapan tersebut dipaparkan dalam buku ini pada bab 1 dan 2 yang berisi mengenai landasan dan latar belakang penyelenggaraan tes bahasa dan berbagai pendekatan tes bahasa, yang menyajikan beberapa cara memandang dan memahami bahasa yang berbeda-beda, sesuai dengan perkembangan ilmu bahasa yang menjadi dasar dan latar belakang masing-masing pendekatan dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa, dan tes bahasa yang digunakan. Dalam bab 1  juga dijelaskan mengenai evaluasi dari suatu tes bahasa yang terkait dengan berbagai tujuan dan hasil pembelajaran yang ingin dicapai. Pada bab 3 dibahas secara rinci mengenai jenis tes secara umum sebagaimana dikenal dan digunakan dalam wacana tentang tes pada umumnya serta pada bab 4 dibahas lebih khusus mengenai jenis-jenis tes bahasa sedangkan ciri-ciri tes yang baik dibahas pada bab5 dengan beberapa poin mengenai hakekatnya, jenis dan cara verifikasinya yang dapat diterapkan pada tes berbagai bidang kajian, termasuk tes bahasa. Bab 6 membahas mengenai penyusunan tes bahasa yakni berkaitan dengan penskoran. Pada bab 7 dibahas mengenai analisis hasil tes yang berupa nilai dan pada bab terkhir yaitu bab 8, dibahas mengenai Interpretasi hasil tes.

Konten Isi

Kupasan tentang berbagai masalah yang ada kaitannya dengan tes bahasa disajikan secara lebih mendalam oleh Soernadi Djiwondono. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan berbagai contoh-contoh dan ulasan yang lebih lengkap termasuk rumus-rumus penghitungan yang sering digunakan untuk mengungkap berbagai aspek dan ciri tes.



Pada konten inilah kiranya bisa dibandingkan antara buku tes bahasa, Soenardi Djiwondono dengan buku pengayaan pengetahuan IPS dan humaniora non fiksi sejenis lainnya seperti buku evaluasi pembelajaran karangan Asep Jihad dan Abdul haris, yang terletak berbeda pada konten isi, yakni kekhususan dan kerincian mengenai tes bahasa. Kekhususan buku tes bahasa ini, menjadi alternatif bagi para pengajar maupun calon pengajar bahasa untuk mengelengkapi pengetahuan dalam bidang tes bahasa.

Buku TES BAHASA: pegangan bagi pengajar bahasa ini merupakan pengembangan dari buku tes bahasa dalam pengajaran oleh penulis yang sama yang diterbitkan oleh penerbit ITB Bandung pada tahun 1996.  Terdapat banyak keunggulan dari buku tes bahasa hasil revisi ini dengan buku tes bahasa sebelumnya, karena buku tes bahasa hasil revisi ini, memiliki cakupan yang lebih luas tentang tes pada umumnya dan tes bahasa khusunya, sehingga selain dapat digunakan oleh para pengajar bahasa, buku ini juga dapat digunakan oleh pengajar dari bidang ilmu lain. Buku tes bahasa ini pun memiliki kekurangan, yakni dari segi teknik penulisan seperti pada kepaduan kalimat dan paragraf yang masih kurang koheren. Tapi secara keseluruhan buku ini sangat baik dimiliki oleh semua pengajar terutama pengajar bahasa.

MIND MAP




               

                      

Selasa, 20 September 2011

SITI LUTFIAH, Komentar Resensi "Kebangsaan di Mata Seorang Pancasilais" oleh Yohanes Krisnawan

Komentar Resensi "Kebangsaan di Mata Seorang Pancasilais" 
oleh Yohanes Krisnawan

SITI LUTFIAH, 

            Meresensi adalah kegiatan selalu bersinggungan dengan ringkasan dan ikhtisar,  karena di dalam suatu resensi terdapat ringkasan dan ikhtisar dari buku yang akan diresensi. Tujuan resensi adalah menyampaiakan kepada para pembaca, apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapatkan sambutan dari masyarakat atau tidak.
            Dalam meresensi suatu buku perlu memerhatikan beberapa tahapan seperti dasar resensi, sasaran-sasaran resensi. Dengan memerhatikan tahapan-tahapan tersebut akan menghasilkan suatu resensi yang penilaiannya bersifat obyektif tanpa ada yang dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi.
            Banyak para peresensitor yang hanya mengejar materi atau bersifat komersil saja saat ini, sehingga hasil resensi mereka banyak sekali mengungkapkan kelebihan yang tak diimbangi dengan kekurangan dari buku tersebut, dan bahkan terkadang tak menunjukan kekurang dari suatu buku sama sekali.
            Dalam judul resensi “kebangsaan di mata seorang Pancasilais” yang ditulis oleh Yohanes Krisnawan, terlihat bahwa resensi tersebut hampir sesuai dengan tahapan-tahapan yang diperlukan dalam suatu artikel yang baik. Seperti, pada pendahuluan dari resensi yang dimulai dengan latar belakang mengapa ia tertarik meresensi buku tersebut, meskipun tersirat dan hanya tergambarkan dari kekagumannya pada tokoh Bung Karno dalam pidato-pidatonya yang bersifat pancasilais meskipun mendapatkan pendidikan ala Barat. Kemudian berlanjut pada terdapatnya ringkasan dari isi buku yang bersinggungan dengan pengertian dari resensi yang terdapat ringkasan atau ikhtisar di dalamnya. Serta si penulis resensi menuliskan identitas buku secara lengkap, agar pembaca resensi mendapatkan gambaran bentuk fisik dari buku tersebut. Selain itu jenis buku yang diresensipun termasuk kedalam buku ilmu pengetahuan mengenai seorang pancasilais yang kemudian disesuaikan pula gaya bahasanya dengan pembaca. Dari segi keunggulan serta kekurangan buku, penulis resensi telah menuliskannya secara tersurat dalam resensi tersebut, hanya porsi antara keunggulan dan kekurangannya masih tidak seimbang porsinya. Untuk penilaian diakhir resensi si penulis, memberikan penilaiannya apakah buku tersebut layak dibaca atau tidak, namun semua dikembalikan kepada pembaca.
            Alangkah baiknya dalam menulis resensi diperhatikan setiap tahapannya dan tetap berpaku pada teori yang ada agar resensi hasil tulisan kita terpapar secara sistematis. Selain itu menulis resensi bukan hanya karena keuntungan semata namun memerhatikan aspek dimana, apakah benar buku tersebut layak atau tidak dibaca sehingga ada transparasi dan kejujuran dalam menulis resensi tak hanya menonjolkan keeunggulannya saja, namun kekurangannya pun perlu di beritahukan kepada para pembaca artikel tersebut.