Tampilkan postingan dengan label Raden Firda Siti Humaira. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raden Firda Siti Humaira. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

ARTIKEL ILMIAH


(Raden Firda Siti Humaeroh:2115091875)
ARTIKEL ILMIAH
“PPG Versus Akta 4: Mana yang lebih efektif?”

I.              Pendahuluan
Profesi guru kini tengah menjadi incaran bagi para calon mahasiswa. Layaknya artis, profesi guru dikatakan tengah naik daun saat ini. Perhatian pemerintah yang akhir-akhir ini lebih terfokus terhadap guru, menjadikan profesi guru menjadi incaran. Berbagai tunjangan yang diberikan kepada guru, membuat para calon mahasiswa semakin tergiur dengan profesi ini. Tetapi, pemerintah kini telah membuat kebijakan baru mengenai PPG dan menghilangkan Akta 4. Apa itu PPG dan apa kabarnya Akta 4? Penulis akan mengulasnya melalui artikel ini.

II.           Apa itu PPG?
PPG merupakan kependekan dari Pendidikan Profesi Guru. Menurut UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Dengan demikian program PPG adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk lulusan S-1 Kependidikan dan S-1/D-IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru, agar mereka dapat menjadi guru yang profesional sesuai dengan standar nasional pendidikan dan memperoleh sertifikat pendidik. Sehingga keluaran PPG mampu beradaptasi dan melaksanakan tugas profesi pendidik yang unggul, bermartabat, dan dibanggakan lembaga pendidikan pengguna, masyarakat dan bangsa Indonesia. Bagi lulusan kependidikan, program PPG ditempuh selama satu tahun, sedangkan bagi lulusan Non Kependidikan program PPG ditempuh selama dua tahun. Untuk mengikuti program PPG ini, para calon peserta harus mengikuti tes terlebih dahulu. Jika, peserta lulus tes, maka ia lanjut ke proses program PPG. Dan bagi yang sudah memiliki akta 4 tetapi belum menempuh sertifikasi guru, maka ia diharuskan mengikuti PPG.
PPG juga memiliki beberapa tujuan, yaitu untuk menghasilkan guru profesional yang memiliki kompetensi:
·         merencanakan melaksanakan, dan menilai pembelajaran
·         menindaklanjuti hasil penilaian dengan melakukan pembimbingan, dan pelatihan peserta didik
·         mampu melakukan penelitian dan mengembangkan keprofesian secara berkelanjutan.
III.        Apa itu Akta 4?
Akta 4 atau akta mengajar adalah surat tanda bukti penguasaan kemampuan mengajar yang diberikan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga kependidikan (LPTK) kepada seseorang yang telah memenuhi segala persyaratan akademik program pendidikan guru secara bersambungan (consecutive model). Akta IV merupakan tindakan on going processing guna mengasah kemampuan dasar kependidikan (pedagogic) bagi para insan pendidik maupun yang berkecimpung di dunia pendidikan. Bagi yang mengambil kependidikan, akta 4 ini akan didapatnya ketika ia lulus kuliah dan dapat langsung mengajar di sekolah-sekolah. Sedangkan bagi yang non kependidikan dan ingin menjadi tenaga pengajar, maka harus mengambil program Akta 4 lagi, yang mana diisi dengan perkuliahan dengan mata kuliah kependidikan. Tetapi, sayangnya Akta 4 kini telah dihapuskan dan diganti dengan PPG. Lalu bagaimana dengan lulusan yang memiliki Akta 4 tetapi belum mengikuti program sertifikasi guru? Maka lulusan tersebut harus mengikuti program PPG sesuai dengan persyaratannya.

IV.        PPG Versus Akta 4: Mana yang lebih efektif?
Banyak yang beranggapan bahwa dengan adanya PPG maka kedudukan para sarjana pendidikan terancam, padahal sebetulnya hal tersebut tak perlu dikhawatirkan, mengapa? Karena melalui ulasan mengenai perbedaan, keunggulan, serta kelemahan antara PPG dan akta 4 di bawah ini, akan memberikan gambaran kepada pembaca untuk menilai mana yang lebih efektif, program akta 4 atau PPG? Perbedaan, keunggulan serta kekurangan tersebut, diantaranya:
Ø  calon mahasiswa pada program akta mengajar berasal dari sarjana Non-kependidikan, ini berarti sarjana kependidikan sudah mendapat akat 4 ketika ia lulus dan tidak perlu lagi menempuh program akta 4. Sementara calon mahasiswa PPG  berasal dari sarjana Kependidikan dan Non Kependidikan yang sesuai dengan program studinya atau program studi yang serumpun dengan persyaratan yang sangat ketat, seperti IPK 2,75 dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris TOEFL minimal skor 400 untuk semua program studi
Ø  akta mengajar diselenggarakan oleh LPTK setidaknya oleh fakultas, sedangkan PPG diselenggarakan oleh program studi yang ditetapkan oleh pemerintah dengan persyaratan yang juga sangat ketat, seperti akreditasi program studi kategori B dan program studinya  memiliki setidaknya 2 orang dosen bergelar doktor jabatan akademik paling rendah lektor dan 4 orang dosen bergelar magister dalam jabatan akademik paling rendah lektor kepala. Karena beratnya persyaratan tersebut, maka tidak semua program studi diizinkan menyelenggarakan PPG, apalagi mengakui legalitas kelas jauh yang saat ini marak diselenggarakan oleh sebuah perguruan tinggi yang berada di luar domisili tanpa mendapat izin penyelenggaraan dari Menteri
Ø  Kurikulum akta mengajar terdiri dari 10 SKS mata kuliah kependidikan dan 26 SKS mata kuliah proses belajar mengajar atau secara keseluruhan berjumlah 36 SKS, dan 4 SKS dari 36 SKS tersebut (11%)  adalah mata kuliah Program Pengalaman Lapangan (PPL). Sedangkan struktur kurikulum program PPG terdiri dari (a) pendidikan bidang studi (Subject Specific Pedagogy) yang mencakup standar kompetensi, materi, strategi, metode, media, dan evaluasi yang dilakukan dalam bentuk workshop sebesar 40% dan 60% lainnya digunakan untuk kegiatan Program Pengalaman Lapangan (PPl).
Ø  Pada program akta 4, peserta lebih terarah terhadap teori-teori, sedangkan pada PPG peserta lebih diarahkan kepada praktek mengajar.
Ø  Bagi yang telah memiliki akta 4 tetapi belum mengikuti sertifikasi guru, maka ia harus tetap mengikuti program PPG. Dan jika menginginkan menjadi PNS. Maka nia harus mengikuti CPNS.
Ø  PPG bagi lulusan kependidikan ditempuh selama satu tahun, sedangkan bagi lulusan non kependidikan ditempuh selama dua tahun.
Ø  Sebelum ada  PPG, bagi lulusan kependidikan, ia hanya perlu mengikuti tes CPNS (jika menginginkan menjadi CPNS) dan serifikasi guru. Bagi non kependidikan ia harus menempuh program akta 4, CPNS (jika menginginkan menjadi CPNS), dan sertifikasi guru. Sedangkan  setelah ada program PPG, bagi lulusan kependidikan tetap harus mengikuti PPG untuk yang belum mengikuti program sertifikasi guru.
Ø  Keuntungan lain dari PPG yang lain adalah selepas  mendapatkan sertifikat PPG kita langsung menjadi pegawai negeri dengan gaji dua kali lipat layaknya guru-guru yang lulus sertifikasi. Dan tidak perlu menempuh program sertifikasi guru lagi.

V.           Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa program PPG lebih efektif daripada program akta 4. Karena dengan mengikuti PPG, bagi yang berminat dan berbakat untuk menjadi tenaga pengajar, ia tidak perlu lagi mengikuti program sertifikasi guru (bagi yang belum menempuh sertifikasi guru)  dan CPNS lagi. Ia hanya perlu mengikuti PPG dan jika telah mendapatkan sertifikat pendidik maka ia langsung menjadi pegawai negeri dengan gaji dua kali lipat layaknya guru-guru yang lulus sertifikasi. Tak perlu mengikuti dua program sekaligus (sertifikasi guru dan CPNS).


Daftar Pustaka

ARTIKEL JURNAL ILMIAH


(Raden Firda Siti Humaeroh:2115091875)
ARTIKEL JURNAL ILMIAH
ABSTRAK
Rahma Dewi Hartati, dkk. 2011. Konteks Wacana Rambu-Rambu Lalu Lintas  serta Implikasinya dalam Pembelajaran Menulis Siswa Kelas IV SD Negeri 01 Pajeleran Cibinong-Bogor. Skripsi, Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.
            Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui konteks wacana rambu-rambu lalu lintas yang dapat diaplikasikan ke dalam pembelajaran menulis siswa SD kelas IV. Metode penelitian yang akan digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah foto rambu-rambu lalu lintas di Kecamatan Cibinong-Kabupaten Bogor dalam kategori rambu kalimat dan perpaduan kalimat dan lambang. Penelitian ini berlangsung dari semester gasal 2010/2011 di daerah Kecamatan Cibinong dengan luas wilayah 3105, 66 Ha.

A.      PENDAHULUAN
Wacana merupakan satuan tertinggi yang dibentuk oleh gabungan kalimat dalam suatu deskripsi bahasa yang berisi informasi yang lengkap dan digunakan sebagai alat berkomunikasi. Produk yang dihasilkan dari wacana dapat berupa bentuk wacana lisan maupun wacana tulis yang digunakan untuk berkomunikasi. Melalui wacana seseorang mampu memberi gambaran tentang berbagai perisiwa komunikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman mengenai gambaran makna wacana dalam komunikasi ini sangat ditentukan oleh konteks berlangsungnya sebuah wacana.
Berdasarkan berbagai macam penelitian mengenai konteks yang bertujuan membangun suatu komunikasi yang baik dan jelas, oleh karena itu peneliti ingin mengkaji secara mendalam mengenai konteks komunikasi yang terdapat pada rambu-rambu lalu lintas yang memiliki keunikan tersendiri dengan bentuk kalimat perintah sederhana dan tertera berdasarkan kondisi jalan atau konteks namun dapat memeberikan arti dan dipahami oleh para pengguna jalan sendiri yang penelitian tersebut masuk ke dalam kajian wacana. Begitu pula dari contoh visual atau gambar rambu-rambu lalu lintas, penulis ingin mendapatkan implikasi penelitian ke dalam proses pembelajaran bahasa khususnya dalam keterampilan menulis bagi siswa sekolah dasar yang difokuskan kepada siswa kelas IV SD karena para siswa sudah mendapatkan pengetahuan menulis dasar dan penulis ingin menjadikan penelitian ini suatu variasi contoh pembelajran menulis yang tidak terlalu cenderung mengambil di dalam buku saja seperti di sekolah SD Negeri Pajeleran 01 penulis mendapatkan informasi dari hasil wawancara dan observasi bahwa guru masih menggunakan contoh di dalam buku dan jarang menggunakan media menarik dalam pembelajaran menulis. Selain itu dengan penelitian yang dilakukan penulis ingin menganalisis seberapa besar pengaruh suatu bahasa untuk menyampaikan suatu amanat, bagaimana apabila ada sedikit kesalahan bahasa yang membuat suatu kalimat berubah makna sehingga dapat terlihat pula seberapa besar mempengaruhi para pengguna jalan yang secara tidak langsung maupun langsung berpatokan kepada rambu-rambu lalu lintas sebagai petunjuk arah, dan untuk mengetahui konteks wacana pada rambu-rambu lalu lintas terangkum dalam koordinat wacana yang dapat diaplikasikan ke dalam pembelajaran menulis pengumuman siswa SD kelas IV.

B.       METODE
Metode yang digunakan peneliti adalah metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis rambu-rambu lalu lintas yang berada di jalan-jalan arteri atau jalan utama yang menghubungkan daerah satu dengan daerah lainnya dan mampu dilewati oleh kendaraan bermotor maupun mobil, melalui kajian wacana (konteks komunikasi tulis).

C.      HASIL PENELITIAN
K
A
L
I
M
A
T
P
W
L
K
TOPIK
PEMBACA
L
L
J
R
S
W
W
T
R
F
PK
L
AB
L
SK
B
PA
L
P
R
D
PR
D
E
PJ
3
6
10
15
2
15
17
Jumlah
Presentase (%)
8,8%
17,6%
29,4%
44%
6%
44%
50%

TEMPAT
AMANAT
ST
BKP
BKT
J
BK

Pe
1
Pe
2
Pe
3
Pe
4
14
2
16
2
10
6
15
3
41,1%
6%
47%
6%
29,4%
17,6%
44%
8,8%
Berdasarkan tabel rekapitulasi yang didapatkan maka dapat dirangkum seperti berikut dari 34 data (100%) peristiwa, waktu, ragam bahsa, dan lorong yang digunakan semua sama yaitu dalam lingkup lalu lintas jalan raya sepanjang waktu yang dituliskan dalam wacana tulis dengan menggunakan ragam bahasa formal, sedangkan topik wacana terdiri dari: 1) perlengkapan keselamatan berlalu lintas berjumlah 3 data (8,8%), 2) Aturan arah lalu lintas berjumlah 6 data (17,6%), 3) Seruan keselamatan lalu lintas berjumlah 10 data (29,4%), 4) Petunjuk arah, lokasi/daerah berjumlah 15 data (44%).
Pada kolum peserta terdiri dari penulis (addressor) dan pembaca (addresse). Penulis (addressor) dalam data pun semua sama yaitu pihak berwenang DLLAJ sedangkan pembaca (addresse) dibagi kembali berdasarkan tujuan rambu ditujukan untuk siapa, yaitu: 1) Pengendara roda dua (motor) berjumlah 2 data (6%), 2) Pengendara roda empat (angkutan umum) dan motor berjumlah 15 data (44%), 3) Pengendara roda dua, pengedara roda empat dan pejalan kaki berjumlah 17 data (50%). Selain itu secara konteks berdasarkan tempat pun terbagi kembali menjadi: 1) Sisi tengah jalan berjumlah 14 data (41,1%) , 2) Bahu kiri tepat di pertiga jalan berjumlah 2 data (6%), 3) Bahu kiri jalan tepat tikungan berjumlah 2 data (6%), 4) Bahu kiri jalan dua arah berjumlah 16 data (47%). Sedangkan berdasarkan amanat didaptkan empat pembahasan berupa: 1) Perintah berjumlah 10 data (29,4%), 2) Peringatan berjumlah 6 data (17,6%), 3) Petunjuk berjumlah 15 data (44%), dan 4) Perintah dan peringatan berjumlah 3 data (8,8$).

D.      KESIMPULAN
Dari hasil analisis data, maka ada keterkaitan antara peristiwa, topik, peserta, tempat, waktu. Lorong, kode dan amanat, terlihat seperti topik yang sering didapatkan berupa petunjuk arah lokasi atau daerah yang masih dalam lingkup lalu lintas tertulis sangat jelas sehingga terlihat kebutuhan rambu-rambu untuk para pengguna jalan adalah petunjuk arah yang berguna untuk menunjukkan lokasi yang harus dilaluinya, sehingga meski dengan dibantu dengan arah tanda panah, sudah mampu dimaknai pengguna jalan berdasarkan konteks. Namun demikian dari hasil penelitian ditemukan adanya rambu-rambu yang masih melanggar konteks wacana khususnya secara tempat sehingga mengurangi kekuatan makna yang ingin disampaikan oleh pembuatnya kepada para penggunanya dan pada akhirnya menjadi rambu yang biasa dan diabaikan. Akan tetapi sebagian besar rambu-rambu lalu lintas ini sudah sesuai konteks dalam lingkup komunikasi di lalu lintas jalan yang dapat dipahami para pengguna jalan ketika berkendaraan meski bentuk penulisannya seerhana dan tidak menggunakan struktur yang lengkap.


LAPORAN BUKU


Raden Firda Siti Humaeroh (2115091875)
LAPORAN BUKU
PERENCANAAN PENGAJARAN


Judul                         : Perencanaan Pengajaran
Penulis                      : Drs. Harjanto
Penerbit                    :Rineka Cipta, Jakarta Kompleks Perkantoran Mitra Matraman    Blok B   No, 1-2 Jl. Matraman R0aya No. 148 Jakarta 1315
Tahun Terbit           : 2010, cetakan 7
ISBN                          : 978-979-518-720-2

            Buku Perencaan Pengajaran karya Drs. Harjanto dibuat sebagai pegangan mahasiswa fakultas tarbiyah baik negeri maupun swasta (PTAIS) di seluruh nusantara dan memiliki tujuan agar mahasiswa memiliki penegetahuan dan pemahaman tentang hakikat perencanaa pengajaran, sehingga mahasiswa mampu serta terampil dalam merencanakan pengajaran. Materi buku ini telah disesuaikan dengan silabi dan pokok bahasan kurikulum nasional yang dikeluarkan oleh Ditjen Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama RI, Jakarta, tahun 1995.
            Dalam buku tersebut terdapat sembilan bab, yang mana bab pertama membahas mengenai pengertian perencanaan pengajaran beserta tujuannya dengan subbab pengertian perencanaan pengajaran, masalah-masalah pokok dalam perencanaan pengajaran, proses perencanaan, jenis-jenis perencanaan, dan pentingnya perenanaan pengajaran.
            Bab dua membahas mengenai konsep pendekatan sistem dalam pengajaran dengan subbab pengantar, pendekataan permintaan masyarakat, pendekatan ketnagakerjaan, pendekatan “Nilai Imbalan”, dan konsep pendekatan sistem dalam pengajaran.
            Bab tiga membahas mengenai berbagai model pengembangan sistem instruksional dengan subbab model dasar sistem instruksional, rincian masing-masing komponen sistem instruksional, hubungan antar komponen dalam sistem instruksional, model-model pengembangan instruksional I, dan pengembangan sistem dan desain instruksional.
            Bab empat membahas mengenai aplikasi berbagai model pengembangan sistem instruksional dengan subbab pola-pola instruksional, model-model pengembangan instruksional II, serta tujuan dan fungsi pengembangan instruksional.
            Bab lima membahas mengenai perencanaan tujuan-tujuan instruksional dengan subbab perencanaan desain instruksional, kemampuan dan hubungan kerja, identifikasi tujuan instruksional umum, dan spesifikamsi tujuan pengajaran.
            Bab enam membahas mengenai perencanaan bahan-bahan pengajaran dengan subbab aspek-aspek materi, kriteria pemilihan materi pengajaran, dan identifikasi satuan bahasan.
            Bab tujuh membahas mengenai perencanaan media pengajaran dengan subbab pemilihan media, media pengajan dan manfaatnya, kegiatan belajar mengajar dan media, serta model, pemeran dan museum sekolah.
            Bab delapan membahas mengenai perencanaan evaluasi pengajaran dengan subbab pengertian dan fungsi evaluasi pengajaran, alat evaluasi pengajaran, prinsip-prinsip dasar tes hasil belajar, sistem penilaian, langkah-langkah menyusun tes, evaluasi dan validitas paket pengajaran, dan hakikat evaluasi.
            Bab sembilan yang merupakan bab akhir dalam buku ini membahas mengenai penyusunan satuan pelajaran dengan subbab kerangka satuan pelajaran, isi satuan pelajaran, struktur organisasi  satuan pelajaran, bentuk satuan pelajaran, dan kriteria pembuatan model satuan pelajaran.
            Secara umum, buku ini membahas mengenai perencanaan pengajaran, konsep pendekatan sistem pengajaran, beragai model dan aplikasi pengembangan sistem instruksional, perencanaan tujuan instruksional, bahan-bahan pengajaran, evaluasi pengajaran, dan penyusunan satuan pelajaran.
            Buku ini mempunyai sasaran pembaca secara umum mahasiswa jurusan kependidikan (IKIP dan FKIP), khususnya mahasiswa Fakultas Tarbiyah pada perguruan tinggi negeri maupun swasta, dan para praktisi kependidikan.
            Buku perencanaan pengajaran ini sangat baik dijadikan buku bacaan maupun pegangan bagi mahasiswa kependidikan maupun praktisi kependidikan. Selain didukung dengan adanya diagram-diagram, juga dilengkapi dengan contoh-contoh materi. Secara teknik penulisan pun buku ini dapat dikatakan baik, karena tidak ditemui kesalahan penulisan, bahasanya mudah dimengerti, jarak antar kata dan paragraf pun tidak dekat, sehingga tidak memusingkan pembaca. Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan biodata penulis yang mana biodata tersebut membantu meyakinkan pembaca bahwa penulis memang berkecimpung di dunia pendidikan dan memahami mengenai dunia pendidikan besera masalah-masalah di dalamnya.

Minggu, 20 November 2011

RESENSI BUKU TES BAHASA; PEGANGAN BAGI PENGAJAR BAHASA


Raden Firda Siti Humaeroh (2115091875): TES BAHASA DALAM  EVALUASI PEMBELAJARAN

Judul              : Tes Bahasa
Penulis          : Prof. Dr.M. Soenardi Djiwandono
Penerbit        : PT Indeks Jakarta
Tahun Terbit : 2008, Cetakan Pertama
ISBN              : 979-683-881-1
Tebal buku    : 276 halaman

            Dalam dunia pendidikan kegiatan evaluasi sangat penting dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah menguasai meteri dan kemampuan apa yang dimiliki oleh siswa. Selain itu evaluasi juga membantu guru untuk mengetahui daya tangkap dan kesulitan yang dihadapi siswa. Evaluasi dapat dilakukan dengan melakukan tes. Tes yang dilakukan oleh guru haruslah sesuai dengan tujuan dari pelaksanaan tes tersebut.
Karenanya, Prof. Dr. M. Soenardi Djiwandono membuat buku yang berjudul “Tes Bahasa” dengan tujuan membantu pengajar dalam melaksanakan tes, terutama dalam bidang bahasa. Berdasarkan jenisnya, buku tes bahasa tersebut termasuk ke dalam buku pengayaan kepribadian non fiksi.
Buku tes bahasa membahas mengenai pelaksanaan tes yang baik dan sesuai dengan tujuan dilaksanakannya tes. Buku tersebut juga membahas mengenai fungsi dari pelaksanaan tes bahasa dan jenis-jenis tes, juga bagaimana cara melakukan penilaian terhadap tes tersebut.
Buku tersebut sangat membantu pembaca terutama para guru ataupun pengajar dalam melaksanakan tes, terutama guru bidang bahasa. Karena dalam buku tersebut disajikan berbagai contoh tabel mengenai pelaksanaan dan penilaian tes. Bahasa yang digunakan pun mudah dimengerti, walaupun tidak sedikit istilah asing yang disajikan, tetapi istilah asing tersebut dijelaskan dengan baik dalam buku tes bahasa tersebut.  Sayangnya, buku tersebut tidak dilengkapi dengan Taksonomi Bloom yang dibutuhkan dalam melaksanakan tes. Dalam penulisannya pun masih terdapat kata yang tercetak dengan salah, inilah yang menjadi kekurangan bagi buku tersebut.
Secara keseluruhan buku tes bahasa tersebut sudah dapat dikatakan baik, karena buku tersebut sangat membantu guru dalam melaksanakan tes. Dan disarankan kepada para guru maupun pengajar untuk membaca buku Tes Bahasa karya Prof. Dr.M. Soenardi Djiwandono sebagai bahan acuan dalam melaksanakan tes, terutama tes bahasa.

MINDMAP

Jumat, 23 September 2011

RADEN FIRDA SITI HUMAIRA, Komentar Resensi "Kebangsaan di Mata Seorang Pancasilais" Karya Yohannes Kurniawan

"Kebangsaan di Mata Seorang Pancasilais" Karya Yohannes Kurniawan

Raden Firda Siti Humaira


            Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. Seorang penulis pertimbangan buku (resensator) bertolak dari tujuan untuk membantu para pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca sebuah buku tertentu, atau perlu tidaknya menikmati suatu hasil karya seni. Seorang resensator harus memahami sepenuhnya tujuan dari pengarang aslinya dan harus menyadari sepenuhnya apa maksud ia membuat resensi itu. selain itu, artikel ini ditulis denngan tujuan untuk membantu penulis dalam memahami bagaimana teori merensi sebuah buku.
            Dalam resensi Yohanes Krisnawan diresensi mengenai sebuah buku yang berjudul “Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia”. Dalam resensinya tersebut Yohanes Krisnawan telah memahami benar mengenai tujuan dari pengarang aslinya dan harus menyadari sepenuhnya apa maksud ia membuat resensi itu. hal tersebut dapat kita ketahui dari ulasan yang menyatakan bahwa awalnya Soediman tersinggung dengan pidato Bung Karno tentang Pancasila, karena Soediman sendiri sejak muda mendapat pendidikan barat. Tetapi beberapa tahun kemudian Soediman memahami ajakan Bung Karno untuk mempelajari Pancasila dan menyetujui gagasan Bung Karno tentang perlunya bangsa Indonesia melakukan Revolusi Total. Dengan demikian resensator telah memaparkan pemahamannya mengenai tujuan buku yang ia resensi dengan memaparkan bahwa Soediman telah merubah pandangannya dari pemikiran barat ke Pancasila. Resensator juga menyadari tujuan ia menulis resensi tersebut adalah untuk membantu para pembaca menilai apakah buku karya Soediman tersebut layak untuk menjadi bacaan yang baik dikonsumsi oleh pembaca.
            Resensator mengawali resensinya dengan  latar belakang yang membandingkan antara Pancasila dengan pemikiran Barat. Hal tersebut tertulis pada bagian awal, yaitu “Pancasila sebagai isi jiwa bangsa Indonesian memiliki kebenaran pada adanya makna ‘kesatuan dalam perbedaan dan perbedaan dalam kesatuan’. Makna ini tidak ditemukan dalam pemikiran Barat yang berpangkat pada individualisme”. Latar belakang tersebut menjadi awal pembahasan dari resensi yang ditulisnya. Resensator juga memberikan data mengenai buku yang diresensinya, data tersebut berupa: judul buku, penulis buku, penerbit buku, cetakan, tebal buku, dan ISBN buku. Berdasarkan teori Gorrys Keraf maka resensi yang ditulis oleh Yohanes Krisnawan tersebut sudah membantu pembaca untuk mengetahui mengenai buku yang diresensinya dan buku yang diresensinya tersebut termasuk jenis buku filsafat.
            Dalam resensinya, resensator memaparkan mengenai keunggulan buku dengan mengatakan bahwa secara subtansial buku Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia sangat inspiratif dan buku tersebut dilengkapi dengan beberapa tulisan, antara lain pidato Bung Karno berjudul “Ilmu dan Amal” (1951), pidato Notonegoro berjudul “Pancasila Dasar Filsafat Negara Republik Indonesia” (1951), dan Orasi B Arief Sidharta tentang Pemikiran Soediman (2009). Selain itu, resensator juga memaparkan mengenai kekurangan buku yang diresensinya dengan mengatakan bahwa nilai yang terkandung dalam buku tidak didukung penyuntingan yang baik. Selain banyak terjadi kesalahan teknis penulisan, tata letak yang kurang nyaman, penyajian daftar isi, dan daftar pustaka yang tidak sesuai dengan kaidah, resensator juga menyarankan agar buku tersebut sebaiknya dilengkapi beberapa ilustrasi foto-foto dokumenter.
            Secara keseluruhan resensi yang ditulis oleh Yohanes Krisnawan sudah sesuai dengan teori Gorrys Keraf, mulai dari data buku, latar belakang, isi buku, jenis buku, keunggulan, kekurangan, tujuan ia meresensi buku tersebut, bahkan ia juga memberikan saran agar buku yang diresensinya dilengkapi beberapa ilustrasi foto-foto dokumenter. Dengan demikan resensi yang ditulisnya dikatakan sangat membantu pembaca untuk menilai apakah buku tersebut patut menjadi bahan bacaan.