Tampilkan postingan dengan label Fify Fildzah Habibah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fify Fildzah Habibah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

Artikel Ilmiah : PENTINGNYA SIKAP POSITIF TERHADAP BAHASA NASIONAL KITA Oleh Fify Fildzah Habibah

Mind Map Artikel Ilmiah


-  Artikel Ilmiah -
PENTINGNYA SIKAP POSITIF TERHADAP BAHASA NASIONAL KITA
Oleh Fify Fildzah Habibah (2115091110)
Kelas 3-B

1.         Pendahuluan
Sumpah Pemuda  yang dicetuskan oleh para pemuda di tahun 1928 telah melahirkan sumpah suci yang memberikan landasan bagi kesadaran kita untuk bersatu dalam bertanah air dan berbangsa dengan satu sikap sama dalam menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pernyataan yang terkandung dalam sumpah ketiaga itu telah menempatkan bahasa Indonesia pada kedudukan yang terhormat yaitu sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional berlatar rasa psikologis yang sama, maksudnya, bahasa nasional ini terlahir dari perasaan sama-sama pernah terjajah, sama-sama penderitaannya, sehingga menjadikan bahasa Indonesia menjadi alat pemersatu bangsa, pada waktu itu. Lalu kini? Semangat juang itu laksana padam. Kini bahasa Indonesia hanya dilandaskan sebagai “alat komunikasi” bagi kebanyakan orang. Itu pun masih terjadi interferensi di sana-sini dalam penggunaannya. Rupanya pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah masih kurang. Kenapa pelajaran sejarah? Ya karena banyak sekali orang-orang yang tidak tahu perjuangan bertahun silam para pemuda bangsa ini untuk menelurkan dan menetaskan pilar-pilar bahasa nasional dalam Sumpah Pemuda 1928!
Menyadari hal tersebut, maka penting bagi kita, bagi pecinta bangsa ini, bagi seluruh rakyat Indonesia, untuk bersikap positif terhadap bahasa Indonesia. Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional akan tetap terhormat bila kita mampu bersikap positif terhadap bahasa Indonesia. Bukan tak mungkin sikap positif tersebut membawa serta negara ini menuju bangsa yang lebih bermartabat karena negara yang bermartabat adalah negara yang warga masyarakatnya mampu menjunjung tinggi bahasa persatuan.

2.         Sikap Negatif terhadap Bahasa Nasional Kita
Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia mempunyai empat fungsi yaitu sebagai lambang kebanggaan nasional, sebagai lambang identitas nasional, sebagai alat persatuan bangsa, dan sebagai alat penghubung antarbudaya dan antardaerah. Fungsi pertama disebut sebagai fungsi pelambang kebanggaan. Fungsi kedua dapat disebut sebagai pelambang identitas nasional. Fungsi ketiga dapat disebut sebagai alat persatuan bangsa. Fungsi keempat dapat disebut sebagai alat penghubung budaya dan daerah.[1] Berdasarkan pemahaman di atas, dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia memang memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting dalam pembentukan rasa nasionalisme yakni semangat juang untuk lebih memajukan bangsa ini, melalui bahasa Indonesia. Hal ini berarti di dalam bahasa Indonesia, terhembus nafas kebanggaan, jati diri, persatuan, dan penghubung kemajemukan.
Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia akan mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasar rasa kebanggaan nasional. Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia harus mempunyai jati dirinya sendiri. Sebagai bahasa persatuan, bahasa Indonesia memungkinkan terbinanya semangat nasionalisme di kalangan suku-suku bangsa Indonesia. Sebagai alat penghubung antarbudaya dan antardaerah, bahasa Indonesia dapat menjadi jembatan budaya antara berbagai suku bangsa dan antara bangsa.[2]
Kembali ke permasalahan awal, sikap kita terhadap bahasa Indonesia dapat dikatakan cenderung “negatif”. Banyak sekali terjadi penyimpangan (interferensi) dalam bercakap sehari-hari. Interferensi dalam bentuk lisan misalnya penyebutan istilah “AC” dan “WC”. Seperti yang lazim diketahui, AC (Air Conditioner) adalah alat elektronik yang mampu membuat/mengeluarkan udara dingin dengan menyerap panas dari luar. Sedangkan WC (Water Closet) merupakan sarana untuk mandi dan cuci kakus (MCK). Berdasarkan pengalaman sehari-hari, hampir semua orang menyebut istilah “AC” dan “WC” dengan sebutan /a-se/ dan /we-se/. Padahal penyebutan yang benar untuk istilah “AC” dalam bahasa Indonesia adalah “pendingin ruangan” dan “WC” adalah “MCK (mandi cuci kakus)”. Atau bila memang penyebutan bahasa indonesianya lebih panjang dan rumit, mereka seharusnya cukup menyebut kedua istilah (pemendekan) asing tersebut dengan apa adanya. “AC” disebut /a-ce/ bukan /a-se/ dan “WC” disebut /we-ce/ bukan /we-se/. Jika memang ingin menggunakan kedua istilah asing tersebut dengan bahasanya, mengapa tidak secara “sepenuhnya” digunakan? Jadi /ei-si/ atau Air Conditioner untuk AC dan /dabelyu-si/ atau Water Closet untuk WC. Itu merupakan satu di antara banyak interferensi yang terjadi pada bahasa Indonesia. Cermatilah penggunaan bahasa di sekitar Anda dan temukan sendiri betapa banyak interferensi yang terjadi di dalamnya.
Bahasa asing merupakan faktor pertama yang diduga-duga mampu dan telah banyak menggeser kedudukan sang Bahasa Nasional kita Yang Terhormat. Orang-orang cenderung lebih suka mengatakan “thanks” dari pada “terima kasih”, lebih suka mengatakan “sorry” ketimbang “maaf”, lebih suka mengatakan istilah dalam bahasa asing lainnya bercampur dengan bahasa Indonesia. “Suka” dalam konteks ini memiliki dua makna. Makna yang pertama adalah “suka” yang berarti secara sadar memang memiliki perasaan “senang” dan “gengsi” menggunakan bahasa asing dalam komunikasinya.  Makna “suka” yang kedua adalah secara spontan dengan intens menggunakan bahasa asing karena faktor “kebiasaan” atau “terpengaruh” oleh lingkungan yang orang-orang di dalamnya juga cenderung menggunakan bahasa asing tersebut.
Menghadapi arus globalisasi, memang perlu bagi kita untuk menambah daftar kekuasaan kita terhadap bahasa asing. Sikap belajar bahasa asing dalam konteks ini bukanlah suatu sikap yang negatif. Akan sangat baik bila masyarakat kita banyak yang bisa berbahasa asing. Namun hal ini janganlah dijadikan alasan untuk tidak lagi menghormati bahasa nasional kita. Paling baik lagi, orang-orang yang ingin belajar atau menggunakan bahasa asing, hendaknya terlebih dahulu memperbaiki kualitas pemahaman mereka terhadap bahasa Indonesia itu sendiri.
Dari pengalaman pribadi di tempat saya bekerja di sebuah tempat kursus bahasa Inggris, saya bercerita kepada rekan saya mengenai beberapa negara di Asia Tenggara yang sudah menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi negaranya. Maksud saya mengatakan hal yang demikian adalah untuk menyampaikan bahwa betapa mirisnya negara-negara tersebut yang memiliki bahasa nasional tetapi bahasa itu tidak dijadikan bahasa resmi kenegaraannya. Betapa beruntungnya kita yang masih menjadikan bahasa nasionalnya sebagai bahasa resmi kenegaraan, karena dari situ tecerminlah semangat persatuan bangsa ini dalam segala bentuk aktivitas kenegaraan. Namun rekan saya menanggapi lain. Ia malah (dengan bersemangatnya) berkata bahwa seharusnya negara Indonesia mencontoh negara-negara tersebut. Rekan saya berpikir, negara ini kalau tidak mau menjadi negara yang tertinggal patutlah menjadi negara yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa resminya. Ya ampun! Tidak tahukah ia bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang disosialisasikan sebagai syarat berdirinya negara ini?
Yang terjadi dan terucapkan oleh rekan saya tersebut merupakan salah satu sikap yang jelas-jelas negatif terhadap bahasa nasional kita, bahasa Indonesia. Lalu bagaimanakah dengan penerapan sikap positif terhadap bahasa Indonesia?

3.         Penumbuhan Sikap Positif
Sikap adalah kesiapan bereaksi. Sikap adalah kesiapan mental dan syaraf yang terbentuk melalui pengalaman yang memberikan arah atau pengaruh yang dinamis kepada reaksi seseorang terhadap semua objek dan keadaan yang menyangkut sikap itu. Batasan tersebut dikemukakan oleh Halim dalam Tasai dan Zaidan (2009: 1.5). Sikap itu sendiri mempunyai tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen perilaku. Komponen kognitif adalah pengetahuan tentang bahasa secara keseluruhan sampai dengan penggolongan serta hubungan-hubungan bahasa tersebut sebagai bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa daerah.[3] Dalam pemahaman ini, sikap positif terhadap bahasa Indonesia berarti mengetahui “ilmunya”. Bahasa Indonesia bukan bahasa yang tidak memiliki kaidah-kaidah di dalamnya. Kaidah berarti aturan dasar yang patut dilaksanakan. Bersikap positif dalam secara kognitif berarti mengetahui segala hal tentang bahasa Indonesia serta memahami hubungannya dengan bahasa di luar bahasa Indonesia.
Komponen afektif (Halim dalam Tasai dan Zaidan, 2009: 1.5) menyangkut perasaan atau emosi yang mewarnai atau menjiwai pengetahuan dan gagasan yang terdapat di dalam komponen kognitif. Apabila seseorang memiliki nilai rasa baik atau suka terhadap sesuatu atau suatu keadaan dan memperlihatkan kesukaannya itu, maka orang tersebut dapat dikatakan memiliki sikap positif. Dan berlaku pula sebaliknya. Terkait dengan sikap positif terhadap bahasa Indonesia, maka sikap positif di sini lebih kepada perasaan senang karena bangga menggunakan bahasa Indonesia. Ketahuilah, rasa bangga terhadap sesuatu dapat memunculkan kesenangan menggunakan dan merasai sesuatu itu.
Komponen perilaku berhubungan erat dengan kecenderungan berbuat atau bereaksi dengan cara tertentu. Dalam hubungan itu, ada nilai moral yang muncul.[4] Perilaku positif terhadap bahasa Indonesia dalam hal ini adalah perilaku bertanggung jawab dalam mempertahankan bahasa Indonesia agar menjadi bahasa nasional yang seyogyanya memiliki empat kedudukan dan fungsi yang telah dijabarkan sebelumnya. Perilaku bertanggung jawab ini berarti perilaku yang mampu mempertahankan bahasa Indonesia tetap berkedudukan dan berfungsi sebagaimana mestinya sebagai bahasa nasional.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Tasai dan Zaidan (2009: 1.6) yang menyatakan, jika pada Anda telah tumbuh rasa bangga, rasa cinta, rasa memiliki, dan rasa bertanggung jawab untuk mempertahankan bahasa Indonesia, berarti pada Anda telah tumbuh sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. Jika Anda telah berhasil menumbuhkan rasa bangga, rasa cinta, rasa memiliki, dan rasa bertanggung jawab untuk mempertahankan bahasa Indonesia pada khalayak, berarti Anda telah berhasil menumbuhkan sikap yang positif terhadap bahasa nasional kita, bahasa Indonesia, kepada khalayak tersebut.

4.         Simpulan
Berteguh pada hal yang telah dipaparkan di atas, pentingnya sikap positif terhadap bahasa nasional kita, bahasa Indonesia, mudah-mudahan cukup tergambarkan. Dengan penuh kesadaran, pahamilah bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memiliki kedudukan dan fungsi yang menjadi pilar-pilar penopang persatuan bangsa ini. Maka dari itu, merasa membanggai, merasa mencintai, merasa memiliki, serta merasa harus bertanggung jawab dalam mempertahankan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional agar berjalan sebagaimana mestinya merupakan sikap positif terhadap bahasa nasional kita. Dengan kata lain, penumbuhan sikap positif terhadap bahasa Indonesia merupakan salah satu upaya mewujudkan negara yang sejatinya nasionalis dan negara yang bersatu dalam kemajemukan. Perlu ditekankan bahwa sikap positif ini sama sekali bukanlah sikap merendahkan bahasa lain untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme tersebut pada diri Anda.

Daftar Rujukan
Akhadiah, Sabarti dkk. 2003. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik; Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Keraf, Gorys. 1994. Komposisi. Flores:  Nusa Indah.
Tasai, Amran dan Abdul Rozak Zaidan. 2009. Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.


LAMPIRAN







[1] Amran Tasai dan Abdul Rozak Zaidan., “Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia” (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), hlm. 3.14.
[2] Amran Tasai dan Abdul Rozak Zaidan., “Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia” (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), hlm. 3.14.
[3] Amran Tasai dan Abdul Rozak Zaidan., “Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia” (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), hlm. 1.5.
[4] Amran Tasai dan Abdul Rozak Zaidan., “Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia” (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), hlm. 1.5.


ARTIKEL JURNAL ILMIAH SKRIPSI Oleh Fify Fildzah Habibah

Mind Map Artikel Jurnal Ilmiah Skripsi

ARTIKEL JURNAL ILMIAH
Oleh Fify Fildzah Habibah
2115091110
Kelas 3-B

Judul Artikel      : Pengaruh Strategi Pembelajaran The Power Of Two Terhadap Kemampuan Menulis Surat Pembaca Siswa Kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan
Karya                         : Dini Larasati


ABSTRAK

Larasati, Dini. 2011. Pengaruh Strategi Pembelajaran The Power Of Two terhadap Kemampuan Menulis Surat Pembaca Siswa Kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan. Skripsi. Jakarta: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta. Juni 2011.

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran the power of two terhadap kemampuan menulis surat pembaca siswa kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan melakukan pretest dan posttest dua kelompok. Penelitian ini dilakukan di SMP Martia Bhakti pada Maret 2011. Sampel penelitian yaitu sebanyak dua kelas dengan jumlah 63 siswa. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t; diperoleh t-hitung (9,43) lebih besar dari t-tabel (1,67) dengan taraf signifikasi α = 0,05 yang berarti bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Jadi, penggunaan strategi pembelajaran the power of two memberikan pengaruh positif pada pembelajaran menulis surat pembaca siswa kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan.

Kata Kunci : strategi pembelajaran – the power of two – surat pembaca



1.               PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Salah satu wadah agar seseorang dapat berkomunikasi melalui bahasa tulisan adalah surat. Surat adalah jenis karangan (komposisi) paparan (Soedjito & Solchan, 1987: 1). Dalam surat tersebut, penulis dapat menyampaikan atau mengungkapkan gagasan atau pikirannya kepada orang lain (pembaca). Surat pun beragam bentuknya misalnya seperti surat undangan, surat pribadi, surat dinas, surat perjanjian, surat dagang, surat kuasa, surat pengaduan, memo, telegram, dan surat pembaca. Surat pembaca merupakan opini singkat yang ditulis oleh pembaca dan dimuat dalam rubrik khusus surat pembaca. Surat pembaca biasanya berisi keluhan atau komentar pembaca tentang apa saja yang menyangkut kepentingan dirinya atau masyarakat (Sumadiria, 2007: 4).
            Keluhan yang disampaikan dalam surat pembaca ini terkadang menuai masalah bagi penulisnya, seperti yang dialami oleh Khoe Seng Seng dan kawan-kawan. Mereka menulis keluhan yang dialaminya sebagai konsumen melalui surat kabar. Mereka didakwa karena telah mencemarkan nama baik suatu perusahaan (Ibid). Namun dakwaan ini rupanya tidak sesuai dengan hukum yang mengatur tentang surat pembaca. Hukum ini diatur di dalam UU No. 40/1999 pasal 17 tentang pers yang menyatakan bahwa, “Masyarakat boleh ikut serta membangun pers termasuk mengemukakan pendapat lewat pers.” Ini berarti bahwa masyarakat diperbolehkan menyampaikan aspirasinya melalui pers dan dilindungi oleh undang-undang tentang pers.
            Sesungguhnya penulis surat pembaca tidak layak untuk dipidana. Menurut Leo Batubara, “Hal ini dapat memasung kebebasan berpendapat masyarakat dalam pers dan fungsi kontrol media menjadi tidak berfungsi. Oleh sebab itu, agar penulis surat pembaca tidak terkena masalah seperti Aseng, perlu diajarkan kepada generasi muda dalam menyatakan pendapat secara benar lewat surat pembaca. Pengajaran sejak usia dini merupakan cara yang tepat dalam menyampaikan pendapat melalui surat pembaca, yaitu sejak masih di bangku sekolah.
Menulis surat pembaca merupakan salah satu tuntutan belajar siswa kelas IX SMP berdasarkan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Kegiatan menulis surat pembaca ini masuk ke dalam keterampilan menulsi dalam Standar Kompetensi : mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karya ilmiah sederhana, teks pidato, serta surat pembaca. Kompetensi Dasarnya adalah menulis surat pembaca tentang lingkungan sekolah. Dalam kompetensi dasar ini, siswa dituntu untuk mampu menulis secara cermat apa yang akan mereka sampaikan kepada publik. Kegiatan menulis surat pembaca merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bidang menulis, khususnya dalam hal menuangkan gagasan siswa yang berbentuk tulisan melalui media bahasa dengan struktur yang tepat.
Berangkat dari ilustrasi di atas, peneliti (Dini Larasati) merasa tertarik untuk meneliti mengenai kemampuan menulis surat pembaca siswa kelas IX. Sedangkan mengenai strategi pembelajaran yang akan digunakan, Dini menilai bahwa strategi pembelajaran The Power Of Two (kekuatan berdua) merupakan strategi yang cocok untuk mempelajari materi pembelajaran dengan kompetensi dasar menulis surat pembaca oleh kelsa IX SMP. Alasan penentuan strategi pembelajaran tersebut adalah karena the power of two merupakan salah satu strategi dalam konsep belajar aktif. Konsep belajar aktif akan menjadikan para siswa belajar lebih aktif daripada gurunya dalam proses pembelajaran. Hal ini sangat baik bagi perkembangan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran, apalagi untuk kegiatan produktif seperti menulis.
B.     Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh strategi pembelajaran the power of two terhadap kemampuan menulis surat pembaca pada siswa kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan. Tujuan operasional penelitian ini adalah untuk mengetahui data empiris mengenai ada atau tidak adanya pengaruh positif strategi pembelajaran the power of two terhadap kemampuan menulis surat pembaca.

2.                  METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini mempunya dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas dari penelitian ini adalah penggunaan strategi pembelajaran the power of two, sedangkan variabel terikat adalah kemampuan menulis surat pembaca siswa SMP kelas IX. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan tahun ajaran 2010/2011 yang terdiri dari empat kelas. Dari empat kelas itu, Dini mengambil dua kelas untuk dijadikan sampel dalam penelitiannya. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak atau simple random sampling. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IX di SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan pada semester genap awal bulan Maret tahun ajaran 2010/2011.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan Randomized Control-Group Pretest-Posttest Design yaitu dengan melakukan pretest dan posttest dua kelompok. Kedua kelompok dalam penelitian ini yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen merupakan kelompok yang diberikan perlakuan berupa strategi pembelajaran the power of two, sedangkan kelompok kontrol merupakan kelompok yang menggunakan strategi pembelajaran guru sehari-hari. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa tes menulis surat pembaca yang dilakukan di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Proses pelaksanaan penelitian dilakukan sebanyak lima kali pertemuan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Pengambilan data dalam penelitian ini dilaksanakan di kelas eksperimen dan kelas kontrol pada jam pelajaran Bahasa Indonesia. Langkah pertama yaitu mengadakan pertemuan dengan guru Bahasa Indonesia kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan untuk menjelaskan tujuan dan rencana penelitian. Langkah kedua mengadakan survey lapangan, mendata jumlah siswa dan mencatat nama siswa sebagai populasi, menentukan kelas yang akan dijadikan kelas eksperimen dan kelas kontrol, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, memberi perlakuan kepada kelas eksperimen dengan menerapkan strategi pembelajaran The Power Of Two, dan langkah yang terakhir yaitu memberi pretest dan posttest kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah data terkumpul, Dini memberi skor pada seluruh pekerjaan siswa.

3.                  HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Data Kelompok Eksperimen
Tes menulis surat pembaca siswa yang diberi perlakuan menggunakan strategi pembelajaran the power of two dilakukan di kelompok eksperimen. Data hasil pretest kelompok eksperimen, ditemukan nilai tertinggi adalah 78, dan nilai terendahnya adalah 34; dengan nilai rata-rata sebesar 50,11 dan nilai median 48,40 serta modus sebesar 46,07. Jumlah simpangan baku adalah 12,83 sedangkan nilai variansnya 164,5 dengan jumlah sampel sebanyak tiga puluh siswa.
Dari hasil nilai posttest yang diperoleh untuk kelas eksperimen, didapatkan nilai tertingginya adalah 93 sedangkan nilai terendah adalah 63 dengan nilai rata-rata sebesar 80,30 dan nilai median 80,70 serta modus sebesar 83,75 ; jumlah simpangan baku adalah 7,60 sedangkan nilai variansnya 57,81 dengan jumlah sampel sebanyak tiga puluh tiga siswa.

B.     Deskripsi Data Kelompok Kontrol
Dari hasil pretest kelompok kontrol, ditemukan nilai tertinggi adalah 72, sedangkan nilai terendahnya adalah 34 dengan nilai rata-rata sebesar 46,57 dan nilai median 45,17 serta modus sebesar 38,33 ; jumlah simpangan baku adalah 12,7 sedangkan nilai variansnya 161,36 dengan jumlah sampel sebanyak tiga puluh siswa.
Berdasarkan hasil posttest yang diperoleh untuk kelompok kontrol, didapatkan nilai tertinggi adalah 80 sedangkan nilai terendah adalah 34 dengan nilai rata-rata sebesar 48,17 dan nilai median 43,5 serta modus sebesar 38,34 ; jumlah simpangan baku adalah 15,55 dan nilai variansnya 241,66 dengan jumlah sampel sebanyak tiga puluh siswa.

C.    Pengujian Persyaratan Analisis Data
Sebagai persyaratan dalam pengujian analisis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji liliefors serta uji homogenitas dengan menggunakan uji bartlett pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada kelas eksperimen, didapatkan bahwa sampel (33)  pretest dan posttest berdistribusi normal dengan angka Lo pretest (0,0438) dan Lo posttest (0,0497) < dari Lt (0,886). Sama halnya pada kelas kontrol yang juga sampelnya (30) berdistribusi normal dengan angka Lo pretest (0,0311) dan Lo posttest (0,0133) < dari Lt (0,886).
Pada penelitian ini, uji homogenitas dihitung dengan menggunakan uji bartlett pada taraf signifikansi α 0,05. Berdasarkan perhitungan, uji homogenitas terhadap sampel 30 siswa kelompok kontrol dan 33 siswa kelompok eksperimen, diperoleh X2 hitung (1,22) < X2 tabel (3,84); maka dapat disimpulkan bahwa sampel dalam penelitian ini memiliki varians yang homogen.


D.    Pengujian Hipotesis
Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah terdapatnya pengaruh penggunaan strategi pembelajaran the power of two terhadap menulis surat pembaca siswa kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan. Perbedaan hasil pada kelompok eksperimen dan kontrol diteliti dengan melakukan uji t. Kriteria pengujian hipotesis ini adalah H0 ditolak jika thitung > ttabel, dengan artian terdapat pengaruh strategi pembelajaran the power of two terhadap kemampuan menulis surat pembaca siswa kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan.
Berdasarkan hasil penghitungan menggunakan uji t, didapatkan thitung (9,43) > ttabel (1,67), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan terdapatnya pengaruh strategi pembelajaran the power of two terhadap kemampuan menulis surat pembaca siswa kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan, diterima.

E.     Pembahasan Hasil Penelitian
Secara umum dapat dikatakan bahwa kemampuan menulis surat pembaca siswa kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan meningkat dengan menggunakan strategi pembelajaran the power of two. Hal ini disebabkan karena nilai rata-rata yang diperoleh kelompok eksperimen lebih tinggi daripada nilai rata-rata yang diperoleh kelompok kontrol, padahal kedua kelompok ini diberikan studi kasus yang sama, tajuk rencana (bahan bacaan) dengan tingkat keterbacaan yang sama, alokasi waktu yang sama, kisi-kisi penilaian yang sama, dan siswa yang heterogen. Ini berarti baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol terhimpun siswa dengan tingkat kecerdasan yang beragam, ada yang pintar dan ada yang kurang pintar. Hanya mereka telah diberi perlakuan yang berbeda.
Tidak hanya pada rata-rata nilai yang diperoleh, situasi dan kondisi kelas pada kedua kelompok pun berbeda. Kelompok eksperimen lebih antusias mendengarkan pelajaran ketika guru mengajarkan materi dengan memasangkan siswa secara acak, membuat permainan debat antar pasangan-pasangan siswa dan melakukan penilaian bersama-sama terhadap setiap dua pasangan siswa yang berdebat. Terlihat keantusiasan mereka saat saling serang pernyataan dan saling mempertahankan pendapat masing-masing. Dengan begitu, ketertarikan siswa pada pelajaran mengakibatkan peningkatan hasil belajar, khususnya pada kemampuan menulis surat pembaca.

4.                  SIMPULAN
Berdasarkan analisis data penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat pengaruh strategi pembelajaran the power of two terhadap kemampuan menulis surat pembaca siswa kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan. Hal ini ditandai dengan didapatnya harga thitung (9,43) > ttabel (1,67), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang dirumuskan bahwa terdapat pengaruh strategi pembelajaran the power of two terhadap kemampuan menulis surat pembaca siswa kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan, diterima. Pemilihan strategi pembelajaran the power of two dalam menulis surat pembaca dapat memberi salah satu alternatif strategi pengajaran karena terbukti dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa, khususnya kegiatan menulis surat pembaca. Strategi ini sesuai untuk pengajaran kemampuan menulis surat pembaca  siswa kelas IX SMP.

5.                  KEPUSTAKAAN
Larasati, Dini. 2011. Pengaruh Strategi Pembelajaran The Power Of Two terhadap Kemampuan Menulis Surat Pembaca Siswa Kelas IX SMP Martia Bhakti Bekasi Selatan. Skripsi. Jakarta: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.




Laporan Buku Strategi Pembelajaran Efektif Berbasis Riset Otak Karya Judy Willis, M.D. Oleh FIFY FILDZAH HABIBAH

Mind Map Laporan Buku
LAPORAN BUKU STRATEGI PEMBELAJARAN EFEKTIF BERBASIS RISET OTAK KARYA JUDY WILLIS, M.D.

Oleh Fify Fildzah Habibah

Laporan buku ini merupakan tugas mata kuliah Pengembangan Keterampilan Menulis yang diampu oleh Ibu Fathiaty Almurtadho bagi kelas 3-B angkatan 2009 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni Uiversitas Negeri Jakarta tahun ajaran 2011/2012 di Semester V. Tugas ini disusun untuk melatih mahasiswa dalam  mengembangkan (memproduksi) penulisan argumentatif yang berbentuk penulisan laporan buku ilmiah (non-fiksi). Berikut ini adalah isi laporan buku Strategi Pembelajaran Efektif Berbasis Riset Otak karya Judy Willis, M.D.
Strategi Pembelajaran Efektif Berbasis Riset Otak merupakan sebuah judul buku karya Judy Willis, M.D. yang diterjemahkan oleh Akmal Hadrian di Indonesia dengan tebal v + 184 halaman (ISBN: 979-1137-15-3). Buku ini diterbitkan pertama kali pada Mei, 2010 oleh Mitra Media di Jalan Sambilegi Baru Lor No. 5 Maguwaharjo, Sleman Yogyakarta.
Dr. Judy Willis merupakan seorang neurolog tersertifikasi dan guru sekolah menengah di Santa Barbara, Clifornia, yang telah mengombinasikan hasil pelatihannya di bidang neurosains dan pencitraan syaraf dengan pelatihan pendidikan gurunya serta pengalaman mengajar di kelas selama beberapa tahun. Dia telah menjadi orang yang memiliki otoritas di bidang riset terhadap otak yang terpusat pada pembelajaran serta strategi-strategi kelas yang dihasilkan dari riset tersebut.
Terdapat empat bab di dalam buku karangan Judy Willis ini. Bab pertama yaitu Memori, Pembelajaran, dan Keberhasilan dalam Ujian. Bab selanjutnya adalah Beberapa Strategi untuk Meraih Perhatian Siswa. Setelah itu bab ketiga yaitu Bagaimana Stres dan Emosi Mempengaruhi Pembelajaran. Dan yang terakhir, Penilaian yang dapat Membangun Dendrit.
Bab pertama, Memori, Pembelajaran, dan Keberhasilan dalam Ujian, menjelaskan tentang bagai mana memori yang disimpan oleh otak sangat mempengaruhi pengembangan pikiran (intelegensi) siswa dalam pembelajaran yang hasil akhirnya diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan dalam ujian. Dalam fungsi otak sebagai penyimpan memori, bagian otak yang paling berperan adalah dendrit yang membangun sel-sel otak. Berdasarkan riset otak, pembelajaran dapat menyebabkan pertumbuhan sel-sel otak, itu berarti dengan terus belajar, secara otomatis dendrit-dendritnya akan terus bertunas. Dendrit ini meningkat dalam ukuran dan jumlahnya ketika merespon skil-skil yang dipelajari dari pengalaman dan informasi lainnya.
Bab kedua bercerita tentang strategi-strategi apa saja yang dapat meraih perhatian siswa. Ada dua strategi utama yang ditekankan untuk menarik perhatian siswa. Strategi yang pertama yaitu dengan membangun iklim emosional yang positif. Strategi ini dapat dicapai melalui beberapa cara antara lain dengan menggugah rasa ingin tahu siswa , menyajikan humor-humor dan tayangan-tayangan visual yang menarik, serta mengusahakan pembelajaran yang berpusat siswa aktif di kelas. Strategi yang kedua yaitu menyediakan media pembelajaran yang unik dan beragam. Kedua strategi ini diperlukan dalam pembelajaran agar siswa tidak merasa cepat bosan dengan pembelajaran yang cenderung monoton.
Bab ketiga mengulas bagaimana stres dan emosi mempengaruhi pembelajaran. Stres dapat menimbulkan kegelisahan emosi yang akan berdampak pada kelemahan kognisi (bernalar) dan psikomotor anak yang kurang baik. Ruang kelas adalah salah satu tempat di mana siswa seharusnya dapat melepaskan stres sehingga emosi mereka kembali positif dan hal-hal yang mereka lakukan pun juga positif. Ketika guru menggunakan strategi-strategi yang dapat mengurangi stres dan membangun lingkungan emosional yang positif, mereka akan mendapatkan kegembiraan emosional dan belajar dengan lebih efisien serta menempatkan mereka pada tingkat kognisi yang lebih tinggi.
Bab terakhir pada buku ini membahas tentang penilaian yang dapat membangun dendrit. Judy Willis dalam bahasan ini menganjurkan bagi guru untuk menilai siswa-siswanya dari waktu-ke waktu (Makro ke mikro). Dalam hal ini, guru diminta untuk sepanjang waktu memberi penilaian kepada siswa, tidak hanya di akhir semester atau di akhir tahun saja. Artinya, setiap hari guru perlu membuat catatan tentang perkembangan belajar siswanya setelah guru tersebut mengajar mereka. Catatan-catatan (penilaian) tersebut barulah dirangkum menjadi sebuah penilaian utuh pada akhir semester/tahun ajaran. Perangkuman seperti ini adalah makanan untuk dendrit karena ia dapat membuat koneksi-koneksi pembelajaran baru yang dapat tumbuh menjadi dendrit baru.
Dari tampilan luar (cover), desain buku terlihat cukup menarik dengan warna biru dan ungu yang pekat serta dilengkapi gambar otak, sangat mendukung judul buku. Buku ini tergolong buku yang berstruktur lengkap, dalam arti, dari segi luaran, buku ini memiliki cover depan yang menarik, cover belakang dilengkapi dengan sinopsis relatif jelas dan ISBN. Dari segi isi, buku ini pun dikatakan lengkap. Ada halaman hak cipta berisi data buku (lengkap dengan alamat penerbit) dan ISBN, daftar isi, lembar ucapan terima kasih dan pengantar dari Judy Willis sendiri, pembahasan materi (4 bab), penutup, glosari, bibliografi (daftar pustaka yang sangat banyak, menjadikan buku ini memiliki akurasi data yang cukup tinggi), tentang pengarang, dan tak ketinggalan dengan adanya indeks.
Kualitas penjilidan buku ini sudah bagus karena buku ini kokoh/tidak mudah lepas lembarannya dan didukung oleh gaya penulisan huruf yang agak renggang. Kertas dalam buku ini cukup tebal dengan margin yang tidak terlalu merepet ke tepian kertas. Secara fisik, pada dasarnya buku ini cukup mumpuni. Sayang ada beberapa hal yang kurang dari segi isi.
Bahasa pada buku ini cenderung ilmiah, terlalu banyak istilah/ungkapan dalam bidang kesehatan yang agaknya membuat pembaca buku ini cepat bosan bahkan mengantuk ketika membaca buku. Adanya glosari pada buku ini nampaknya belum cukup memuaskan pembaca (khususnya pembaca yang tidak bergerak di bidang sains) dalam memahami isi buku, karena dalam glosari sendiri masih ada beberapa istilah/ungkapan bidang sains yang terdengar asing bagi pembaca awam. Tak hanya itu, kualtias penerjemahan buku agaknya masih belum menyeluruh. Masih ada kata asing (Bahasa Inggris) sepert skil, dekode, dll yang lumayan sering muncul dan tidak disulih ke dalam bahasa Indonesia. Pembahasaannya pun masih terkesan kaku sehingga kurang komunikatif.
Walau begitu buku ini tetap memiliki nilai tambah lain untuk memuaskan para pembacanya. Terdapat kata mutiara dari tokoh-tokoh dunia seperti Socrates, Elizabeth Berg, Albert Einstein, dan sebagainya di setiap permulaan bab. Hal ini tentu dapat memotivasi para pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Selain kata mutiara, ada istilah gray matter (lapisan abu-abu pada otak yang merupakan bagian cerdas otak) yang langganan hadir pada setiap bab buku ini. Bedanya, gray matter ini dimunculkan beberapa kali dalam satu babnya (disisipkan di tengah atau di akhir buku). Gray matter  berisi fakta-fakta mengenai riset otak yang dikaitkan dengan proses/kegiatan pembelajaran. Jadi, gray matter ini sarat akan informasi penting tentang kinerja otak khususnya kinerja otak dalam proses/kegiatan pembelajaran.

Jumat, 18 November 2011

BAHASA MEMERLUKAN TES Oleh Fify Fildzah Habibah


BAHASA MEMERLUKAN TES
Oleh Fify Fildzah Habibah

DATA BUKU
Judul               : Tes Bahasa; Pegangan Bagi Pengajar Bahasa 
Penulis           : Prof. Dr. M. Soenardi Djiwandono
Penerbit         : PT Indeks, Jakarta
Terbitan         : Pertama, 2008
Tebal              : xiv + 260 Halaman
ISBN               : 979-683-881-1

Pengajaran bahasa mau tidak mau selalu menuntut evaluasi guna mengetahui apakah tujuan pembelajaran bahasa itu sudah tercapai atau belum. Di dalam kegiatan mengevaluasi, tentunya dibutuhkan suatu alat untuk dapat mengukur dan menilai pencapaian/tujuan tersebut. Alat yang dimaksud itu adalah sebuah tes, dalam tulisan ini, khususnya tes bahasa.
Di dalam kata pengantar pada bukunya, Djiwandono mengatakan bahwa ia menyadari hingga saat ini belum cukup banyak rujukan buku pegangan mengenai tes bahasa. Padahal menurutnya, itu adalah suatu bagian yang penting dari pembelajaran bahasa yang merupakan bagian dari kurikulum pembelajaran bahasa. Dalam buku inilah Djiwandono berusaha mengungkapkan berbagai masalah terkait tes bahasa yang mengungkap berbagai aspek dan ciri tes bahasa yang dibaginya menjadi delapan bab.
Pada kajian permulaan buku, ia menulis bab-bab bertajuk evaluasi kemampuan bahasa, pendekatan-pendekatan tes bahasa, yakni guna menentukan dan mendasari bagaimana pembelajaran bahasa diselenggarakan. Pada bab selanjutnya, Djiwandono membahas tentang jenis tes secara umum yang setelah itu ia saring lagi hanya pada bahasan mengenai jenis-jenis tes bahasa. Penggunaan tes bahasa belumlah dikatakan baik bila tidak dilihat dari segi validitas dan realibilitas tes. Kedua aspek itulah yang nantinya akan menentukan bahwa tes tersebut baik serta sesuai penggunaannya dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa. Dua ciri ini—yakni validitas dan reliabilitas—dapat kita temui bahasannya secara terperinci pada bab lima. Pada bab inilah kita sudah mulai menjumpai rumus-rumus aljabar statistika.
Setelah mengungkap ciri, Djiwandono beralih pada persoalan menyusun tes yang terdiri dari dua sistem yaitu tahap menyusun rencana tes dan tahap menyusun perangkat tes. Setelah soal disusun dan diujikan, kini Djiwandono membahas cara menganalisis hasil tes tersebut yaitu melalui penskoran. Di sini akan ada banyak sekali rumus statistik yang bermunculan. Namun jangan khawatir, Djiwandono tetap menyediakan keterangan secara jelas dan terperinci mengenai arti-arti dari setiap lambang yang menjadi rumus itu. Dengan ini pembaca tidak mungkin kesulitan memahami rumus untuk menskor tes yang telah disusun juga diujikan. Djiwandono menulis tentang interpretasi hasil tes pada bab terakhir bukunya. Terdapat dua acuan dalam interpretasi hasil tes ini; (1) Penilaian Acuan Norma, dan (2) Penilaian Acuan Kriteria.
Berdasarkan uraian mengenai isi buku Tes Bahasa di atas, kita dapat sesegera mungkin menyimpulkan gambaran keseluruhan buku yang ditulis Djiwandono pada 2008 lalu. Keterpaduan antara bab satu dengan bab yang lain cukup runtut, serta gaya bahasa yang formal namun tidak berkesan kaku membuat buku ini semakin mudah dicerna maknanya. Topik-topik yang disusun dari bab awal hingga akhir berjalan sistematis yaitu dari kajian yang paling mendasar hingga yang sangat kompleks. Tak hanya itu, dalam rangka mempertajam pemahaman, penguasaan, dan penguatan materi, Djiwandono telah menyediakan pertanyaan-pertanyaan tentang isi dari setiap bab yang bersangkutan. Pertanyaan tersebut dapat mendorong seseorang untuk berdiskusi memecahkan permasalahan yang ada di dalamnya. Hal ini diharapkan juga dapat menumbuhkan sikap kritis dan demokratis.
Sebenarnya buku Tes Bahasa karya Djiwandono merupakan pengembangan dari buku Tes Bahasa dalam Pengajaran pada tahun 1996 oleh penulis yang sama. Perbedaannya, buku Tes Bahasa terbitan 2008 cakupannya lebih luas dan mendalam. Sayang bila dibandingkan dengan buku sejenis karangan Suharsimi Arikunto, yang berjudul Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, ada satu tema besar yang terlewat pada buku Djiwandono. Di dalam menyusun tes, terdapat pertimbangan mengenai tiga aspek penting, aspek ini sering disebut sebagai ranah dari Taksonomi Bloom. Tiga ranah tersebut mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Sasaran utama penulisan buku ini adalah para pengajar bahasa di berbagai jenis dan jenjang pendidikan di tingkat sekolah dasar, sekolah menengah, bahkan perguruan tinggi. Maka dari itu akan lebih baik bila buku ini tertintegrasi secara tepat sesuai kebutuhan. Menyadari begitu banyak harapan dan manfaat yang ingin diciptakan Djiwandono melalui buku ini, ia pun merumuskan garis besar isi buku di dalam kata pengantarnya secara lengkap. Sehingga ketika seseorang membaca bagian pengantar itu, gambaran umum tentang buku sudah terkonsep dengan jelas di kepala mereka.
Buku yang termasuk buku keilmuan (nonfiksi/ilmiah) agaknya mengandung istilah yang sangat beragam di dalamnya. Djiwandono seharunya membuat indeks buku untuk memberikan informasi kepada para pembacanya mengenai halaman tempat kata atau istilah itu ditemukan. Hal ini tentu akan mempermudah pembaca untuk tersungkur lebih jauh lagi dalam buku Tes Bahasa karya Djiwandono. Selain itu, indeks buku juga berfungsi untuk menuntun para pembaca dalam menemukan istilah yang mungkin belum dimengerti, sehingga akan sangat memungkinkan para pembaca menambah pengetahuan tentang kosakata mereka secara spontan.
Secara keseluruhan, buku Tes Bahasa karya Djiwandono menyuarakan betapa pentingnya evaluasi bahasa bagi penyelenggaraan pembelajaran bahasa itu sendiri. Apalagi jika kita mengingat, pelajaran bahasa di sekolah relatif membosankan dan nyaris tidak diminati. Bukankah penyebabnya hanya satu; guru/pengajar bahasa kurang evaluasi terhadap pengajaran bahasa. Dibutuhkan sebentuk tes untuk mengevaluasi cara mengajar yang berdampak menimbulkan suasana tidak kondusif dan aura membosankan khususnya dalam pembelajaran bahasa. Hal tersebut harus dan mutlak ditinjau ulang oleh para pengajar bahasa. Orang-orang dari berbagai kalangan cenderung menganggap bahasa sebagai kajian remeh yang sama sekali tidak butuh pembelajaran. Padahal jika mereka “melihat segalanya lebih dekat”, bahasa merupakan kajian paling kompleks karena salah satu cirinya yang dinamis. Di sinilah tes diperlukan dalam pembelajaran bahasa dan oleh bahasa itu sendiri.


MIND MAP RESENSI TES BAHASA


Rabu, 21 September 2011

FIFY FILDZAH HABIBAH, Komentar Resensi “Dongeng Zaman Pancaroba” oleh Bonnie Triyana dan Arif Zulkifli


Komentar Resensi “Dongeng Zaman Pancaroba” oleh Bonnie Triyana dan Arif Zulkifli

FIFY FILDZAH HABIBAH

Remy Sylado, salah satu sastrawan besar di negeri ini, kembali menghasilkan sebuah mahakarya di usianya yang tak kurang dari 65 tahun. Buku fiksinya kali ini ia garap hinga lebih dari 1000 halaman. Hal itu membuktikan bahwa usia tak pernah selalu membatasi daya cipta dan olah kreativitas seseorang. Buku Remy Sylado yang berjudul Hotel Pro Deo ini pun sudah sepantasnya mendapat sambutan dari para penikmat sastra, khususnya bagi pengagum-pengagum karya Remy sendiri. Namun ada satu hal yang mungkin akan menjadi pengganjal langkah Remy dalam memikat khalayak untuk membaca karyanya tersebut: buku yang mirip bantalan tidur, alias terlampau tebal. Dari celah inilah, seorang Bonnie Triyana (sejarawan) dan Arif Zulkifli memanfaatkan wawasan mereka untuk mengulas kisah panjang Remy, menyingkap kehidupan di balik cerita realita-sosial-politik dalam sebuah resensi. Dan dari pandangan-pandangan Bonnie serta Arif tersebut, penulis ingin mengomentari resensi mereka dalam rangka belajar mengungkapkan gagasan dari apa yang sudah dikomentari (reproduksi).
Resensi ini dimulai langsung ke penggambaran isi cerita, atau dapat dikatakan sinopsis cerita. Menurut Gorys Keraf dalam bukunya, Komposisi, deskripsi (penggambaran) mengenai buku itu bukan hanya menyangkut isinya, tetapi juga dapat menyangkut badan mana yang telah menerbitkan buku itu (penerbit), kapan dan di mana diterbitkan, berapa tebalnya (jumlah bab dan halaman) dan kalau perlu formatnya. Di dalam pendahuluan pada resensinya, Bonnie Triyana  tidak menyinggung-nyinggung masalah penerbit, tahun cetakan, tempat, maupun mengenai format penulisan buku tersebut. Bonnie Triyana dan Arif Zulkifli hanya mengungkapkan mengenai ketebalan buku nyaris pada bagian akhir resensi, sedangkan nama penerbit dan tahun terbitan mereka tulis pada bagian identitas resensi.
Keraf, masih dalam bukunya mengungkapkan, pokok-pokok yang dapat dijadikan sasaran penilaian sebuah buku atau karya meliputi latar belakang (tema, ikhtisar buku), macam atau jenis buku, serta keunggulan buku (termasuk di dalamnya kelemahan buku), di sinilah sebuah karya atau buku dinilai secara lebih mendalam oleh para pembuat resensi. Penilaian ini didasarkan atas empat sasaran penilaian, antara lain dari segi organisasi (hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain), isi, bahasa, dan teknik (Keraf: 279). Berdasarkan landasan ini, mari kita tilik satu persatu kesesuaian teori tersebut dengan penerapan resensi karya Bonnie Triyana dan Arif Zulkifli (untuk selanjutnya ditulis BT dan AZ) yang berjudul Dongeng Zaman Pancaroba.
Setelah mengemukakan sinopsis, BT dan AZ mengulas masalah plot dan subplot cerita yang mengisahkan bermacam insiden berlatar dunia politik. Tema mengenai kehidupan politik masa peralihan Orde Baru – Reformasi seorang tokoh utama antagonis (Dharsana)  dijelaskan secara implisit oleh BT dan AZ. Menurut mereka, buku ini menyuguhkan kompleksitas tak mudah dinyana dari segi cerita yang keseluruhannya dikemas ala Orde Baru secara piawai oleh sang pengarang. Tak hanya itu, menurut BT dan AZ dalam resensinya mengenai sang pengarang, “...ia lolos dari jebakan pretensi—penyakit yang menjangkiti banyak penulis muda. Ia terkadang memberikan ceramah—terutama tentang aspek bahasa yang memang dikuasainya. Tapi ia tak berlagak pintar. Ia juga tidak berpresensi memberikan kejutan yang tak perlu. Remy mengutamakan isi, meski bukan berarti abai pada bentuk,” sehingga dapat dikatakan selain ahli membangun cerita, Remy pun menguasai aspek paling vital dalam seni ini; bahasa.
Permasalahan teknis dalam buku ini yaitu mengenai fisik buku yang ekstratebal. Menyadari hal ini, BT dan AZ menyimpulkan Remy Sylado telah membuat solusinya untuk membimbing pembaca agar tidak tersesat memaknai kompleksitas cerita. BT dan AZ menjabarkan, bab-bab dalam buku ini termasuk singkat, yakni hanya terdiri dari 6-7 halaman pada setiap babnya, dengan Remy menjelaskan konsekuensi sebuah peristiwa pada kelanjutan cerita. Teknik ini menurut BT dan AZ merupakan teknik yang tidak mempunyai efek kejutan. Dengan adanya paparan teknisi ini, diharapkan para pembaca tidak terlalu cepat mengurungkan niat untuk membaca novel bertema berat, berbobot luar biasa tebal, dan berbahasa politik era Orde Baru. Mengenai kesesuaian atau hubungan antara bab yang satu dengan bab lainnya (organisasi) tidak diulas oleh BT dan AZ, sehingga tidak jelas apakah keterbacaan buku ini tinggi atau rendah. Sasaran pembaca buku ini pun tidak dicantumkan oleh mereka dalam resensinya.
Yang menjadi nilai minus dari buku ini menurut BT dan AZ adalah terdapatnya beberapa hal ganjil (ketidaklogisan), diantaranya masalah sebutan “komisaris besar” pada tokoh Dharsana, yang dari itu pengarang dianggap telah membuat anakronisme. Selanjutnya mengenai ketidaksinkronan antara jenis musik dengan zaman di mana musik itu seharusnya diganderungi. Kelemahan terakhir dari buku yaitu terletak pada ketebalan buku yang terkesan dipaksakan tebal sehingga jalan cerita pun secara otomatis terasa dipanjang-panjangkan. Kelemahan terakhir ini merupakan pernyataan dari BT dan AZ  yang cenderung subjektif. Mungkin memang benar bahwa buku ini agaknya dipaksakan harus melampaui target di atas 1000 halaman, namun tidak berarti dengan kualitas ceritanya bukan? Pada akhirnya, setiap penikmat buku ini tentulah memiliki simpulannya sendiri mengenai bagian akhir cerita, dan tak mungkin kesemua penikmat itu menganggap buku ini merupakan tragedi perpanjangan cerita yang dipaksakan seperti pada sinetron-sinetron zaman sekarang.
Nilai sebuah buku baru akan lebih jelas bila dibandingkan dengan karya-karya lainnya, baik yang ditulis oleh pengarang itu sendiri, maupun yang ditulis oleh pengarang-pengarang lainnya. Pada resensi ini, Buku Hotel Pro Deo telah disandingkan dengan buku-buku pengarang itu sendiri untuk diperbandingkan meski bukan untuk dipertandingkan. BT dan AZ berpendapat, Hotel Pro Deo memiliki kesamaan yang mengikat kisah dengan dua buku Remy yang lain, Ca Bau Kan (2002) dan Kembang Jepun (2003); sensibilitas dalam kehidupan manusia yang membungkus percintaan, kesedihan, pertarungan, intrik, dan kebencian dalam satu genggaman. Yang jadi pertanyaan besar, mengapa BT dan AZ tidak membandingkan karya besar ini dengan buku dari pengarang besar yang lain, semisal Putu Wijaya, NH Dini, Budi Darma, dll, sehingga kurang mempertegas penilaian BT mengenai kehebohan-kehebohan buku yang sebelumnya telah dikemukakan.
***
Resensi merupakan suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak, (Keraf:274). Berdasarkan teori tersebut, BT dan AZ dapat dikatakan sudah cukup berhasil menulis sebuah resensi buku fiktif, karena mereka telah mengulas keseluruhan buku mulai dari sinopsis, keunggulan, serta kelemahan buku, meski ada juga penilaian mereka yang mengarah ke kubu subjektivitas. Sayang ulasan mengenai alasan mengapa pengarang menulis buku era Orde Baru – Reformasi di masa-masa Demokrasi (mengingat buku ini pertama kali dicetak pada tahun 2010) tidak dipaparkan BT dan AZ.

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2009
KELAS 3-B