Tampilkan postingan dengan label Hety Rahmawati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hety Rahmawati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Desember 2011

ARTIKEL JURNAL ILMIAH - HETY RAHMAWATI



HETY RAHMAWATI
3 B


PENGARUH METODE LEARNING CELL TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA KRITIS SISWA KELAS VII SMP NEGERI 47 JAKARTA PUSAT

Abstrak
Tiara Dwi Yulianti. Pengaruh Metode Learning Cell terhadap Kemampuan Membaca Kritis Siswa Kelas VII SMP Negeri 47 Jakarta Pusat. Skripsi: Jakarta : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.
 

Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada tidaknya pengaruh antara metode learning cell dengan kemampuan membaca kritis siswa kelas VII SMP Negeri 47 Jakarta Pusat. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan variabel bebas, yaitu metode learning cell dan variabel terikatnya adalah kemampuan membaca kritis. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok, satu kelompok yang menggunakan metode learning cell dan satu lagi kelompok yang tidak menggunakan metode learning cell. Metode learning cell menggunakan aspek penilaian yang terdiri dari kemampuan menginterpretasi bacaan, menganalisis bacaan, mengorganisasikan bacaan, menilai bacaan, dan menerapkan konsep bacaan. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak, dan sampel didapatkan sebanyak 62 siswa. Instrumen penelitian adalah tes esai membaca kritis meliputi aspek meninterpretasi, menganalisis, mengorganisasi, menilai, dan menerapkan konsep. Hasil yang diperoleh adalah rentangan skor posttest kelas ekperimen adalah 52-91 dengan skor rata-rata 72.27, sedangkan rentangan skor posttest kelas kontrol adalah 29-78 dengan skor rata-rata 51.89. hasil menunjukan bahwa metode learning cell berpengaruh positif terhadap kemampuan membaca kritis.
Kata kunci: metode learning cell, membaca kritis, kelas VII SMP

PENDAHULUAN
            Pembelajaran bahasa di sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA, pada dasarnya mencakup empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, membaca berbicara, dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut merupakan caturtunggal (Tarigan, 1998:1). Dalam kegiatan pembelajaran, siswa dituntut untuk menguasai mepat keterampilan berbahasa tersebut. Seperti yang tertera dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab III Pasal 4 ayat 5 yang berbunyi “Salah satu cara penyelenggaraan pendidikan ialah dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.” (Anonim, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003). Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan membaca dalam bidang pendidikan bagi siswa merupakan hal yang diamanatkan oleh undang-undang. Kemampuan membaca juga merupakan kemampuan dasar bagi siswa untuk mempelajari pelajaran lain.
            Membaca pada hakikatnya adalah suatu proses yang dilakukan oleh pembaca untuk membangun makna daru suatu pesan yang disampaikan melaluin tulisan. Seperti halnya dalam membaca kritis yang juga merupakan salah satu kegiatan membaca, dalam membaca kritis pembaca dituntut untuk dapat mengolah bahan bacaan secara kritis menemukan keseluruhan makna bahan bacaan, ide pokok, baik tersurat maupun tersirat, melalui tahapan mengenal, memahami, menganalisis, mensintesis, dan menilai (Nurhadi, 1989:59).
            Dalam pengajaran membaca kritis telah banyak metode pembelajaran yang digunakan oleh para guru, salah satunya adalah metode inquiry yang mennyatakan bahwa (1) rata-rata nilai pretest 55% sehingga tingkat kemampuan siswa pada kategori cukup dalam memahami bahan pembelajaran; (2) rata-rata hasil nilai posttest adalah 86,8% sehingga tingkat kemampuan siswa mengikuti uji coba pembelajaran dengan menggunakan metode inquiry meningkat: (3) metode inquiry ternyata efektif untuk digunakan dalam pembelajaran tersebut karena dapat meningkatkan kemampuan siswa. Terkait dengan penelitian di atas, dipandang perlu dilakukan kembali suatu penelitian yang memiliki pengaaruh terhadap kemampuan membaca kritis dengan menggunakan metode pembelajaran lainnya yang baru dan belum pernah diterapkan sebelumnya. Salah satu metode baru yang dianggap memiliki pengaruh terhadap kemampuan membaca kritis adalah dengan menggunakan metode learning cell. Metode learning cell dianggap memiliki pengaruh terhadap kemampuan membaca kritis siswa karena langkah-langkah dalam metode learning cell aktivitas siswa di anataranya akan dibentuk secara pasangan dan melakukan tanya-jawab mengenai isi suatu teks bacaan. Hal ini dianggap akan membantu siswa dalam memahami dan mengkritisi teks bacaan yang mereka baca.
            Selain hal di atas, pada tanggal 19 Agustus 2010 telah dilakukan pengamatan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menentukan ide pokok tersirat yang terdapat dalam bacaan. Kemudian dari hasil yang diperoleh, ternyata siswa masih kurang mampu untuk menemukan ide pokok yang tersirat dalam bacaan,
Identifikasi masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas, maka identifikasi masalah penelitian adalah “Apakah terdapat pengaruh metode learning cell terhadap kemampuan membaca kritis siswa kelas VII SMP Negeri 47 Jakarta Pusat?
Landasan Teori
            Metode learning cell merupakan salah satu dari pembelajaran dengan model kooperatif yang menggunakan tindakan kerjasama antar siswa. Metode learning cell pertama kali dikembangkan oleh Goldsmich dari Swiss Federal Institute of Technology di Lausanne (Supridjono, 2009:122). Dalam metode learning cell, siswa dibentuk secara berpasangan untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan.
            Membaca kritis merupakan kegiatan membaca yang dilakukan dengan bijaksana, penuh tenggang rasa, mendalam, evaluatif, serta analitis dan bukan ingin mencari kesalahan penulis. Membaca kritis merupakan kemampuan memahami makna tersirat dalam suatu bacaan. Dalam membaca kritis, pembaca mengolah bahan secara kritis (Mintowati, 2003:12). Kemampuan membaca kritis merupakan suatu kemampuan membaca seseorang yang bukan hanya sekedar membaca isi bacaan saja atau mengerti maksud secara eksplisitnya, melainkan juga secara implisit, sehingga kegiatan membaca yang dilakukan secara lebih dalam lagi, evaluatif, dan analitis untuk menemukan makna bacaan baik tersurat maupun tersirat.
Tujuan Penelitian
            Terdapat dua tujuan di dalam penelitian ini, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris tentang adakah perbedaan kemampuan membaca kritis siswa yang menggunakan metode learning cell dengan yang tidak menggunakan metode learning cell pada kelas VII SMP Negeri 47 Jakarta Pusat. Tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mengetahui kemampuan membaca kritis siswa yang  menggunakan metode learning cell pada kelas VII SMP Negeri 47 Jakarta Pusat; (2) mengetahui kemampuan membaca kritis siswa yang tidak menggunakan metode learning cell pada kelas VII SMP Negeri 47 Jakarta Pusat; (3) mengetahui perbedaan kemampuan membaca kritis siswa yang  menggunakan metode learning cell dengan yang tidak menggunakan metode learning cell pada kelas VII SMP Negeri 47 Jakarta Pusat. Selain hal itu, penelitian ini juga bertujuan untuk melihat pengaruh metode learning cell terhadap kemampuan membaca tekspercakapan siswa kelas VII SMP Negeri 47 Jakarta Pusat.

METODE PENELITIAN
            Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Variabel bebasnya adalah metode learning cell, variabel terikatnya adalah kemampuan membaca kritis. Desain eksperimen yang digunakan adalah Randomized Control-Group Pretest-Posttest Design dengan satu macam perlakuan. Populasi terjangkau penelitian ini adalah seluruh siswa yang tercatat sebagai siswa kelas VII SMP Negeri 47 Jakarta Pusat pada semester genap tahun ajaran 2010/2011. Dari populasi, diambil dua kelas yang akan dijadikan sampel dengan menggunakan teknik acak. Berdasarkan hasil random, terpilihlah kelas VII-4 dan kelas VII-5 ebagai objek penelitian. Keseluruhan objek adalah 62 siswa. Kelas VII-4 terpilih sebagai kelas eksperimen dan kelas VII-5 sebagai kelas kontrol.
            Data dikumpulkan melalui beberapa langkah dan prosedur. Peneliti melakukan tahap persiapan,yaitu meminta izin pihak sekolah untuk melaksanakan penelitian, melakukan wawancara kepada guru yang bersangkutan, beradaptasi terharap objek penelitian, menyiapkan segala perlengkapan penelitian, dan menyusun langkah-langkah penelitian. Tahapan selanjutnya adalah tahap pelaksanaan dengan menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol, mendata jumlah siswa, memberikan pretest bdengan instrumen penelitian soal esai kepada objek penelitian, melaksanakan tujuan penelitian yang akan dilakukan peneliti dengan alokasi waktu dan pokok bahasan yang sama sesuai rencana pengajaran, dan memberikan posttest yang juga merupakan soal esai kepada objek penelitian. Sebelum pengujian hipotesis, peneliti terlebih dahulu melakukan uji analisis berupa uji normalitas, yaitu menggunakan Lilieferos serta uji homogenitas, menggunakan uji Barlet.
            Untuk menganalisis data, langkah yang digunakan peneliti adalah mengoreksi hasil pekerjaan siswa, mengelompokkan skor tes menjadi dua, yaitu skor kelas eksperimen dan skor kelas kontrol, mencari nilai rata-rata, median, modus, mencari nilai deviasi kelas, melakukan uji normalitas dan uji homogentitas, melakukan pengujian hipotesis, membandingkan angka t hitung dengan nilai t dalam tabel. Untuk menguji hipotesis, hipotesis menggunakan uji t dengan kriteria hipotesis nol yang diuji yaitu H0 = µ1≥µe2 dan hipotesis satu yang diuji yaitu H1 µe1 < µe2.

HASIL PENELITIAN
            Setelah melakukan serangkaian penelitian yang dilakukan pada kelas ekperimen dan kelas kontrol, dapat diketahui hasil yang didapat. Kelas ekperimen menggunakan sampel sebanyak 31 siswa dan diberi perlakuan menggunakan metode learning cell. Skor terendah dalam pretest adalah 24, sedangkan skor tertingginya adalah 55, dengan mean 41.67, median 41.91, modus 41.38, simpangan baku7.74, dan varian 59.96. sedangkan dalam posttest, skor terendahnya yaitu 52, dan skor tertinggi 90 dengan mean 72.27,  median 72.95, modus 73.72, simpangan baku 9.42, dan varian 86.84.
            Untuk kelas kontrol, skor terendah pretestnya adalah 18, skor tertingginya adalah 67, dengan mean 34.77, median 33.25, modus 31, simpangan baku 11.33, dan varian 128.39. Berdasarkan skor posttest, skor terendah adalah 29, skor tertinggi adalah 77, dengan mean 51.89, median 56, modus 63.12, simpangan baku 13.69, dan varian 187.31. secara keseluruhan, nilai posttest di kelas eksperimen dan kelas kontrol mengalami perubahan.
            Dalam pengujian persyaratan analisis data, peneliti menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas. Dalam uji normalitas dengan menggunakan uji Lilifors, pada kelompok eksperimen, Lo yang didapatkan dari nilai pretest adalah 0,0766, sedangkan Lo pada nilai posttest adalah 0,3751 dengan Lt 0,886. Untuk kelas kontrol, Lo yang didapatkan dalam pretest adalah 0,1013, sedangkan Lo yang didapatkan pada posttest adalah 0,12, dengan Lt 0,886. Hasil perhitungan uji lilifors menyatakan bahwa dk > 30 dan taraf signifikansi α 0,05. Karena keempat Lo > Lt, maka sampel berdistribusi normal
            Untuk uji homogenitas, peneliti menggunakan uji Barlet dengan menggunakan tabel Chi Kuadrat dengan taraf signifikansi α 0,05. Uji homogenitas menyatakan X² hitung < X² tabel. Dalam penelitian ini didapat  didapat bahwa X² hitung sebesar 1,38 dan X² tabel sebesar 43,8. Dengan demikian, penelitian ini menggunakan varians yang homogen
Hasil Pengujian Hipotesis
            Untuk menguji hipotesis, peneliti menggunakan uji t. Setelah digunakan uji t, t yang didapat dibandingkan dengan t tabel, atau nilai kritis pada tabel. Hasil yang didapatkan yaitu t hitung = 5,73 dan t tabel = 1,67. Oleh karena t hitung > t tabel maka H0 ditolak, dan H1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa pengaruh positif metode learning cell terhadap kemampuan membaca kritis siswa kelas VII SMP 47 Jakarta Pusat diterima.

PEMBAHASAN PENELITIAN
            Dari rangkaian kegiatan penelitian yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa pembelajaran membaca kritis dengan menggunakan metode learning cell lebih baik daripada pembelajaran membaca kritis tidak dengan menggunakan metode learning cell. Hal ini dilihat dari perbedaan skor antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Rentangan skor kelas eskperimen adalah 52-91 dengan skor rata-rata 72,27, sedangkan rentangan skor posttest keals kontrol adalah 29-78 dengan skor rata-rata 51,89. Dilihat dari hasil perhitungan, skor rata-rata posttest kelas eksperimen lebih tinggi daripada skor rata-rata posttest kelas kontrol. Begitu pula penilaian dari kelima aspek membaca kritis, yaitu kemampuan menginterpretasi bacaan, menganalisis bacaan, mengorganisasikan bacaan, menilai bacaan, dan menerapkan konsep bacaan. kelimanya digunakan untuk menilai pembelajaran membeca kritis di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil menunjukkan bahwa kelas eksperimenlah yang mengalami peningkatan dari segi pretest dan postest. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode learning cell memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan membaca kritis siswa kelas VII.

KESIMPULAN
            Metode learning cell ternyata memberikan pengaruh yang positif terhadap kemampuan membaca kritis siswa kelas VII, dengan diperolehnya t hitung = 5,73 > t tabel =1,67. Hal ini menyatakan bahwa hipotesis diterima. Rentangan skor kelas eskperimen adalah 52-91 dengan skor rata-rata 72,27, sedangkan rentangan skor posttest kelas kontrol adalah 29-78 dengan skor rata-rata 51,89. Berdasarkan hal tersebut, kenaikan rata-rata kemampuan membaca kritis siswa eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Hal ini pula menyatakan bahwa kemampuan membaca kritis siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode learning celllebih baik hasilnya dibandingkan dengan yang tidak menggunakan learning cell.
            Metode learning cell merupakan salah satu metode alternatif yang dapat digunakan untuk pembelajaran membaca kritis di kelas. Guru dapat menggunakan metode pembelajaran ini sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa. Implikasi bagi siswa adalah dengan menggunakan metode larning cell, akan memberikan stimulus dan motivasi pada siswa dalam pembelajaran membaca. Diharapkan siswa dapat kritis menemukan serta memahami makna yang tersirat maupun tersurat dalam bacaan.

DAFTAR PUSTAKA
Mintowati, Farida. 2003. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia: Memabbaca. Jakarta: Departemen Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
Nurhadi. 1989. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca?? Suatu teknik memahami literatur yang efisien. Bandung: CV. Sinar Baru Bandung.
Supridjono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

LAPORAN BUKU : HYPNOLEARNING - HETY RAHMAWATI









LAPORAN BUKU
HYPNOLEARNING
Hety Rahmawati

PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan kegiatan rutinitas yang berkaitan langsung dengan  kegiatan belajar dan mengajar melalui suatu proses untuk mencapai suatu tujuan. Pembelajaran sendiri dilakukan oleh pendidik dan siswa. Kedua komponen ini melahirkan hubungan timbal balik dalam situasi yang edukatif. Seorang siswa harus mampu menguasai segala yang telah diajarkan pendidik melalui serangkaian proses pembelajaran, dan seorang guru dituntut keprofesionalitasannya dalam mengajar dan menyampaikan ilmu menggunakan teknik, metode, serta strategi tertentu. Suatu teknik yang tepat dapat memudahkan proses pembelajaran siswa. Selama ini telah banyak teknik pembelajaran yang telah ditawarkan dan digunakan oleh banyak pendidik namun pendidik sendiri harus tahu bagaimana teknik serta strategi yang cocok dan tepat untuk digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kondisi si pembelajar. Untuk mengetahui itu semua, berbagai alternatif buku penunjang telah ditawarkan, salah satunya adalah HypnoLearning. Penyusun mencoba untuk menelaah buku ini dengan menyusun sebuah laporan buku untuk lebih memahami tentang pemakaian strategi pembelajaran dengan menggunakan hipnotis dan juga dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Keterampilan Menulis pada tingkat 3, semester 5, rogram studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Buku ini berjudul HYPNOLEARNING karangan Farida Yustina Sari, seorang pengelola suatu learning center sekaligus pakar HypnoLearning, serta Abdullah Mukhlis, seorang enterpreneur dan training sekaligus pakar HypnoMotivator. Buku ini menjelaskan tentang pembelajaran dengan menggunakan teknik hipnotis, ditujukan kepada pendidik sekaligus pembelajar. Buku HypnoLearning ini merupakan cetakan pertama, diterbitkan bulan April 2011 oleh Visi Media Pustaka, Jakarta Selatan dengan ketebalan xx+128 halaman, 150 x 230 mm.

Format buku HypnoLearning disajikan dengan menarik. Halaman pertama didahului oleh kesan oleh para pembaca yang kebanyakan berasal dari kalangan ahli maupun siswa setelah membaca buku ini. Setelah itu terdapat prakata oleh penulis, daftar isi, dan penyajian materi sebanyak 7 bab. Bab I berisi penjelasan tentang sekilas hipnosis dan hypnolearning. Bab II mmenjelaskan tentang paduan berpikir positif “Kamulah yang Berkuasa atas Dirimu. Bab III tentang pengenalan potensi otak serta cara kerjanya. Bab IV berisi penjelasan tentang membangun keyakinan positif. Bab V menjelaskan tentang Pengenalan Learning Channel, dilanjutkan dengan bab VI tentang Learning Skill, dan bab VII tentang HypnoLearning.

ISI BUKU

BAB I
Sekilas Hipnosis dan Hypnolearning

Pada awalnya, praktek hipnosis dilakukan oleh  orang hindu kuno, dan dilakukan oleh orang Yunani pada abad 5 SM.  praktek hipnotis kemudian dalam pengobatan berkembang sangat pesat, mulai dari penggunaan dalam operasi sampai ke dalam tahap penyembuhan melalui beberapa serangkaian kegiatan menggunakan sugesti yang dialirkan oleh media tertentu. Hipnosis berasal dari kata Hypnos yang berarti dewa tidur Yunani dan kemudian menjadi istilah hypnosis.
Praktik hipnosis digunakan dalam keadaan tertidur atau manusia yang tengah berada dalam alam bawah sadarnya, atau disebut trance. Hipnosis tidak hanya digunakan dalam hal kedokteran saja, namun juga dalam psikologi, pelaku bisnis, penegak hukum, dan lain-lain. Manfaat dari hipnosis sendiri sangatlah besar, yaitu dapat digunakan untuk peningkatan dan pengembangan diri, mengelola stres, gangguan medis, memberikan rasa nyaman saat melahirkan, dan aneka permasalahan lainnya. Hipnosis telah diakui oleh American Medical Assosiation sejak dekade 1950-an. Sampai saat ini pun hipnosis yang telah berkembang ini digunakan dalam pendidikan.
Pembelajaran dengan hipnosis atau HypnoLearning merupakan teknik menghasilkan trance saat belajar sehingga seseorang merasa tersugestikan untuk rajin dan ketagihan belajar.

BAB II
Kamulah yang Berkuasa Atas Dirimu

Secara tanpa di sadari, banyak orang yang tidak mengizinkan dirinya sendiri untuk menerima pelajaran yang telah diterima, sehingga pelajaran menjadi tidak menyenangkan. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab diri sendiri tidak mengizinkan otak untuk menyerap pelajaran
1.      Target yang tidak jelas
Jika seseorang menyugestiekan untuk berpikir lurus ke depan, dan target yang jelas, maka arah yang ditempuh untuk menggapainya juga jelas. Ketika arahnya jelas, kita dapat fokus untuk meraih tujuan tersebut.
2.      Merasa pelajaran yang sedang dipelajari tidak bermandaat nantinya
Kadang murid merasa pelajaran yang tidak disukanya akan tidak bermanfaat. Misal seseorang yang sangat suka pelajaran IPA tapi tidak suka dengan pelajaran muatan lokal seperti bahasa sunda, karena baginya tidak akan bermanfaat.
3.      Ada sesuatu yang jauh lebih menarik perhatian dibandingkan dengan harus belajar
Ada sesuatu yang lebih menarik perhatiandibandingkan dengan harus belajar, misalnya main game online atau jalan-jalan teman-teman sebaya. Namun hal ini perlu dikendalikan oleh penguasaan diri untuk membuat belajar menjadi semenarik bermain game dan jalan-jalan.
4.      Tidak percaya diri
Banyak siswa yang tidak percaya diri karena takut salah, merasa banyak kekurangan sehingga diri sendiri merasa tak akan mampu untuk dapat menggapai tujuan. Hal itu perlu diminimalisir dengan sugesti otak dengan menggunakan rumus EGP (Emilir, Ganti, Positif). Pikiran negatif seluruhnya diubah menjadipikiran positif dengan mengeliminir/mengecil, menggantinya dengan kata-kata yang positif.

BAB III
Mengenal Potensi Otak dan Ketahui Cara Kerjanya

Ilmuan syaraf mengatakan “kapasitas memori otak untuk menyimpan informasi itusetara dengan seluruh perpustakaan di muka bumi”. Hal ini menunjukkan bahwa bertapa maha dahsyatnya otak manusia yang dianugrahkan oleh Tuhan. Otak terdiri dari bermilyar-milyar syaraf serta sel-sel. Sel neuron, salah satunya yangmembuat seseorang menjadi lebij jenius jika sudah banyak yang terkoneksi atau terhubung

Bagian-bagian otak
Bagian otak terdiri dari 3 bagian, yaitu:
1.      Otak reptile, berfungsi untuk mengatur organ vital tubuh seperti denyut jantung dan pernafasan
2.      Otak mamalia, berfungsi untuk mengatur kebutuhan reproduksi, hubungan sosial, dan relasi manusia lainnya
3.      Otak neokorteks, berfungsi untuk menyimpan data, berpikir, dan menganalisis.

Belahan otak
Selain bagian-bagian otak, terdapat pula belahan otak yang memiliki peranan dan fungsi yang berbeda, yaitu belahan otak kiri dan otak kanan. Fungsi belahan otak ini berbeda, ditemukan oleh seorang dokter ahli bedah syaraf bernama Roger Sperry dan karena itu pula ia mendapatkan hadiah nobel. Menurut penelitiannya perbedaan fungsi belahan otak kiri dan kanan adalah:
-          Belahan otak kiri
Matermatika
Bahasa
Membaca
Menulis
Logika
Urutan
Sistematika
Analisis

-          Belahan otak kanan
Kretivitas
Konseptual
Inovasi
Gagasan
Gambar
Warna
Musik
Irama
Melodi
Bermimpi

Selain belahan otak, terdapat pula bagian otak sadar dan bawah sadar. Otak sadar 88% mengendalikan aktivitas tubuh sedangkan otak bawah sadar mengendalikan aktifitas otak tanpa disadari dan memerlukan interaksi gelombang otak.

Gelombang Otak
Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan alat EEG (Elektrosensefalograph) yang ditemukan oleh Hans Berger pada tahun 1929, gelombang otak dibedakan menjadi empat, yaitu:
1.      Gelombang Beta (14-100 Hz)
Pada frekuensi ini kita tengan berada dalam kondisi aktif terjaga sadar penuh, dan didominasi oleh logika. Dalam kondisi ini pula kita sedang berada pada aktifitas normal seperti bekerja, berlajar, berbicara, danlainnya
2.      Gelombang Alpha (8-13,9 Hz)
Pada frekuensi ini orak menghasilkan emosi yang khusyuk, tenang, terkendali  dan relaks. Pada gelombang inilah saat paling idealuntuk menyerap informasi dan cenderung lebih cepat menangkap pelajaran.
3.      Gelombang Theta (4-7 Hz)
Gelombang ini sering memunculkan sisi kreatif dan intuitif seseorang. Gelombang ini menghasilkan emosi yang sangat relaks, hening, damai, serta pasrah. Biasanya gelombang ini ada saat sedang khusyuk berdoa atau beribadah kepada Tuhan.
4.      Gelombang Delta (0,1-3,9 Hz)
Gelombang delta terjadi saaat seseorang tertidur pulas tanpa mimpi, dan tanpa perasaan.

BAB IV
Bangun Keyakinan Positif

Pada dasarnya seseorang memikiki potensi dasar yang sama. Tuhan telah menganugrahkan otak yang begitu luar biasa kepada manusia. Namun banyak sekali orang yang mampu mencapai impian hidupnya, banyak juga yang tidak dapat mencapai impian hidupnya. Hal itu tak lebih dari kemampuan diri sendiri dalam menciptakan suatu keyakinan dalam diri.



SIKLUS KEYAKINAN

Keyakinan akan membuka potensi dalam diri seseorang. Selanjutnya potensi akan menggerakkan tubuh untuk melakukan massive action atau tindakan massif yang hasilnya akan membuahkan hasil. Jika diri sendiri secara sungguh-sungguh dapat membulatkan tekat, meyakini diri, menyadari potensi, dan beraksi, maka akan menmbuahkan hasil yang maksimal. Akan tetapi terkadang hasil pun tidak selau sesuai dengan yang diharapkan. Jika hal tersebut terjadi, maka tahapan yang harus digunakan adalah sebagai berikut


Jika telah mengalami kegagalan, jangan pernah untuk mundur, tetapi bangkit dengan belajar kembali serta memperbaiki tindakan sehingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan, yaitu sukses.

STRATEGI MEMBANGUN KEYAKINAN YANG MEMBERDAYAKAN

Keyakinan merupakan bentuk perasaan, rasa yang pasti akan sebuah ide. Semakin tinggi rasa pasti yang muncul maka akan semakin tinggi pula tingkat keyakinannya. Keyakinan awalnya adalah ide yang merupakan salah satu bentuk presepsiyang ada di otak. Segala permasalahan tidak terletak pada benar atau salah, akurat atau tidak akuratnya keyakinan yang dimiliki, tetapi apakah keyakinan dapat memberdayakan atau bahkan melemahkan ketika ingin mencapai sesuatu. Untuk membangun hal tersebut, hendaknya seseorang dapat menyugestikan diri sendiri dengan menuliskan kesuksesan yang pernah dialami, menuliskan hal-ha positif yang telah diberikan Tuhan dan orang-orang yang telah berada di sekeliling kita, menuliskan segala hal yangmendukung sehingga hal tersebut dapat dicapai, mlihat seseorang yang dapat menginspirasi diri sendiri untuk menyugestikan kata BISA dan MAMPU, serta melakukan afirmasi dengan kata-kata yang positif.

BAB V
Mengenal Learning Channel

LEARNING CHANNEL VISUAL
Learning Chanel Visual adalah kecenderungan seseorang untuk menerima informasi paling baik dan efektif dengan menggunakan indera penglihatan/visual.

LEARNING CHANNEL AUDITORI
Learning chanel auditori adalah kecenderungan untuk menerima informasi paling baik dan efektif dengan menggunakan indera pendengaran atau audio

LEARNING CHANNEL KINESTETIK
Learning channel kinestetik adalah kecenderungan menerima informasi paling baik dan efektif dengan melibatkan gerakan tubuh, pengalaman, dan perasaan.

Ketiga learning channel ini terdapat pada orang yang berbeda-beda. Kita didahulukan untuk mengetahui apa learning  channel kita sehingga kita tahu bagaimana cara belajar yang paling efektif untuk diri sendiri.

BAB VI
Learning Skill

Learning skill atau kemampuan belajar berkaitan penuh dengan penggunaan strategi belajar.  Ada beberapa strategi belajar, yaitu:
1.      Quantum memory system
Quantum memory system merupakan strategi mengafal nama benda secara berurutan dengan menggunakan imajinasi dan kreatifitas, artinya dari benda-bedan tersebut kita dapat menciptakan sebuah cerita sehingga menghafal akan lebih mudah.
2.      Mneumonic
Mneumonicmerupakan strategi menhafal dengan memplesetkan kata-kata yang hendak dihafal. Teknik ini berguna untuk menyimpan informasi berupa kata atau kalimat yang asing atau tidak berwujud bagi otak.
3.      Loci
Teknik loci merupakan teknik menghafal dengan menggantungkan informasi yang kita hafalkan pada  lokasi tertentu yang sudah diketahui sebelumnya.
4.      Strategi Mencatat dengan Otak Kanan
Strategi ini menggunakan teknik menghafal dengan menggunakan mind mapping atau peta pikiran. Mind mapping mengabsorbsi cara kerja otak kanan yang lebih menggunakan bentuk, simbol, warna, dan gambar sehingga lebih menarik bagi otak.

BAB VII
HypnoLearning

HypnoLearning adalah teknik yang mneghasilkan trance saat belajar. Teknik ini akan membuat seseorang yang belajar menjadi lebih meyenangkan denganmengikuti beberapa langkah-langkah, yaitu:
1.      Menetapkan impian dan target belajar
Impian akan mengarahkan kehidupan di setiap saat dan dengan impian pulalah seseorang dapat fokus akan satu tujuan. Impian pun mendorong kita untuk dapat mendapatkan target yang sudah ditentukan sebelumnya. Impian juga dapat memperbesar potensi.
2.      Visualisasi
Setelah menetapkan impian dan target belajar, segera visualisasikan. Bayangkan bahwa segala impian tersebut akan segera nyata. Tanamkan kebahagiaan karena dapat memperoleh impian dalam hati dan rasakan emosinya. Setelah itu, sebelum memulai belajar pastika otak dalam kondisi super genius. Ini membuat belajar akan lebih ful dan lebih fokus serta konsentrasi. Sugestikan semangat positif dalam diri saat belajar, buat semuanya menjadi mudah dan meyakini diri dengan ungkapan”saya bisa”.
3.      Afirmasi
Afirmasi atau penegasan adalah pernyataan penerimaan yang digunakan oleh individu untuk mencapai suatu tujuan. Afirmasi harus bersifat positif dan tidak bertentangan dengan kepercayaan yang ada dalam diri. Afirmasi juga bertujuan untuk menyiapkan diri dan pikiran sadar maupun tidak sadar untuk merespon apa yang akan dipelajari dan memudahkan diri menyerap informasi. Untuk itu afirmasikan diri dari sekarang dan seterusnya bahwa “mulai sekarang dan seterusnya apapun yang saya pelajari akan terserap sempurna ke otak dan akan selalu semangat daam belajar.”
4.      Action Belajar
Saatnya menggunakan aksi belajar dengan terlebih dahulu melakukan”TEPE MARAHI SEMBAH”, yaitu tegak tapi rileks, pandangan ke depan, mata berbinar-binar, rasa ingin tahu yang besar, senyum dah bahagia. Setelah itu aktifkan learning channel untuk mengaktifkan dua belahan otak kiri dan kanan.
5.      The Power of Repetisi
Saat menerima informasi baru terkandang mengalami kebingungan. Untuk itu seseorang harus melakukan repetisi atau pengulangan agar otak semakin berlatih untuk memahami maksud yang dipeajari.
6.      Bersyukur
Saat mengakhiri pelajaran, ucapkan syukur kepada Tuhan karena berkat anugrah-Nya kita dapat memperoleh informasi yang dapat terserap di otak.

KESIMPULAN
            Seiring berjalannya waktu banyak terobosan baru yang dipakai oleh kebanyakan orang dalam belajar, salah satubya adalah dengan menggunakan teknik hipnosis atau HypnoLearning. HypnoLlearning adalah teknik menggunakan trance saat belajar sehingga seseorang dapat ketagihan belajar. Tentu saja dibarengi oleh sugesti dan beberapa kegiatan positif yang dapat mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan. Seorang pakar HypnoLearning dan pakar HypnoMotivation, Farida Yustina dan Mr. Mukhlis, ST menyusun buku ini dengan tujuan untuk menciptakan inovasi terbaru dalam pembelajaran.
Buku HypnoLearning ini menyuguhkan beberapa cara belajar dengan menyuguhkan suatu aura positif lewat sugesti-sugesti di tiap halaman demi halamannya serta menggunakan langkah-langkah tepat untuk dapat mewujudkannya, dimulai dari menetapkan impian dan target belajar, memvisualisasikan impian, melakukan afirmasi, dilanjutkan dengan aksi belajar, pengulangan atau repetisi, dan yang diakhiri dengan bersyukur.g. Biasanya seseorang merasa sangat malas belajar karena dirinya tidak dapat menguasai diri oleh keadaan yang mengaharuskannya untuk belajar. Lewat HypnoLearning, seseorang akan merasakan belajar yang sama menyenangkannya dengan bermain game atau jalan-jalan.
            Pada penjelasannya, pembaca akan disuguhkan oleh aneka sugesti positif. Banyak sejarah ilmuan-ilmuan ternama yang diceritakan tentang potensinya yang dapat menjadi inspirasi  pembaca. Penulis sendiri pun menyertakan pendapat-pendapat ahli dan teori yang mendukung. Pada tiap bab terdapat pula kutipan kata-kata positif yang membuat pembaca menjadi terpacu untuk berpikir positif dan belajar. Selain kutipan, penulis juga menggunakan kata kunci yang digunakan dalam setiap bab agar pembaca lebih mudah memahami bab-baba tersebut. Beberapa materi disajikan dengan menggunakan gambar, tabel, serta contoh-contoh sebagai penjelas. Bahasa yang digunakan denotatif, dan mudah dicerna bagi pembaca. Teknik kepenulisannya, buku ini menggunakan jenis huruf, ukuran, margin, dan spasi yang tepat, sehingga pembaca dapat nyaman membacanya. Buku Sampul buku juga didisain unik, anti air, dan dapat menarik perhatian pembaca.. Untuk lebih mendukung buku ini, penulis juga menyertakan VCD penunjang berisi pengantar HypnoLearning. Namun sayangnya buku ini terkadang terlihat membosankan. Banyak materi yang dijelaskan secara rumit, karena contoh yang disajikan sangatlah banyak sehingga membingungkan pembaca.
            Secara keseluruhan buku HypnoLearning ini sangatlah penting dan dapat dijadikan acuan untuk belajar dengan menggunakan hipnotis. Buku ini ditujukan tidak hanya untuk pelajar tetapi juga untuk pendidik sebagai referensi dalam menerapkan strategi belajar pada siswanya. Penulis berharap, kekayaan strategi serta teknik pembelajaran makin berkembang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui buku ini pula penulis berharap seorang pendidik tidak hanya menjalankan pekerjaannya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai motivator bagi siswa-siswanya dengan selalu menyuguhkan pikiran, tindakan, serta sugesti yang positif sehingga siswa merasa termotivasi untuk lebih mencintai belajar.




Minggu, 20 November 2011

HETY RAHMAWATI (2115091884) Resensi Buku Tes Bahasa : Acuan Jitu Penunjang Evaluasi Pembelajaran


ACUAN JITU PENUNJANG EVALUASI PEMBELAJARAN
Hety Rahmawati

Proses pembelajaran selalu diikutii oleh kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk menilai serta mengukur kemampuan peserta didik dalam menangkap semua pelajaran yang telah diberikan padannya. Hal ini dapat dikatakan bahwa evaluasi merupakan penentuan, apakah tujuan yang telah diharapkan dalam pembelajaran melalui materi, metode, serta media yang diterapkan sesuai atau tidak.

 

Judul             :  Tes Bahasa: Pegangan bagi Pengajar Bahasa
Penulis          :  Prof. Dr. M. Soenardi Djiwandono
Tebal             :   xiv + 260 halaman
Penerbit        :  PT. Indeks, Jakarta
Cetakan ke-  :  Pertama, 2008
ISBN              :  979-683-881-8

           
            Evaluasi berkenaan dengan keberhasilan siswa selama memeproleh pengajaran di sekolahnya. Hal ini dapat ditentukan oleh proses pengukuran yang bersifat kuantitatif dengan menggunakan satuan ukur yang berkriteria agar kegiatan menilai menjadi lebih efektif, untuk memperoleh informasi sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi peserta didik. Viviane dan Gilbert de Lansheere (1954) mengatakan bahwa penentuan proses evaluasi salah satunya bisa ditentukan dengan pemberian tes kepada pembelajar atau siswa. Dari teori tersebut dapat dikatakan bahwa tes sangatlah penting dalam melihat ketecapaian tujuan pembelajaran.
            Buku Tes Bahasa: Pegangan bagi Pengajar Bahasa, menjelaskan komponen-komponen tes yang dikaitkan dengan pengajaran bahasanya. Dapat dilihat bahwa buku ini bertemakan pembelajaran, berjenis pengayaan pengetahuan IPS-Humaniora. Buku ini memaparkan tes bahasa ke dalam 7 bab. Bab 1: Evaluasi Kemampuan Bahasa, menjelaskan tentang fungsi bahasa pada umumnya, yang dibedakan menjadi tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi hasil pembelajaran. Selain itu penulis menjelaskan tentang penitikberatan objek evaluasi hasil pembelajaran dan konsep evaluasi, yakni kegiatan pengukuran dan alat penilaian berupa tes. Bab 2: Pendekatan Tes Bahasa, menjelaskan tentang pendekatan yang diampu dalam tes bahasa. Dalam pengkajiannya, pendekatan tes bahasa dilakukan dengan kajian linguistic, yang memusatkan perhatiannya pada pengukuran tingkat kemampuan bahasa. Pendekatan ini dibagi menjadi pendekatan diskretm pendekatan integratig, pendekatan pragmatik, dan pendekatan komunikatif. Bab 3: Jenis Tes Secara Umum, menjelaskan tentang jenis tes yang dikenal pada umumnya, yaitu tes objektif dan subjektif, serta tata penskoran dua jenis tes tersebut. Selain hal itu, terdapat pula cara penyusunan tes yang meliputi tes standard an tes buatan guru. Diakhir bab 3, dijelaskan pula tentang tindakan selanjutnya dalam penskoran hasil koreksi yang dilakukan dengan tes acuan norma dan tes acuan kriteria. Bab 4: Jenis Tes Bahasa, menjelaskan tentang jenis tes bahasa secara khusus. Tes bahasa menitikbertakan pada tes bahasa diskret, tes bahasa integratif, tes bahasa paradikmatik, dan tes bahasa komunikatif. Selain itu, tes bahasa pun dilihat dari kemahirannya dalam berbahasa, meliputi tes kemampuan menyimak, tes kekampuan membaca, tes kemampuan menulis, dan tes kemampuan berbicara. Tes selanjutnya yang digunakan yaitu tes pelafalan, tes kosa kata, tes tata bahasa, tes dikte, serta tes close.
            Berbagagai pengertian hingga jenis tes telah dijelaskan dalam bab 1 sampai dengan bab 4. Di bab 5, penulis menjelaskan tentang Ciri-ciri Tes yang Baik. Bab ini menjelaskan tentang penunaian fungsi tes yang baik, agar umpan balik penyelenggara pembelajaran menjadi baik pula. Jenis tes yang baik harus sesuai (valid) dengan kemampuan yang menjadi sasaran tes, serta memberikan hasil yang ajeg dan dapat diandalkan (reliable) dan secara teknis, dapat dilaksanakan tanpa terlalu banyak kesulitan (praktis). Bab 6: Penyusunan Tes, menjelaskan tentang persiapan penyusunan tes secara seksama. Tahapan tersebut dilihat dari penyusunan tes yang meliputi informasi kelembagaan penyelenggaraan tes dan garis besar tes yang akan disusun, serta penulisan petunjuk pengerjaan tes, kunci jawaban, rambu-rambu penskoran, penetapan metode validasi, umpan balik, revisi dan penyusunan seluruh perangkat tes. Bab 7: Analisis Hasil Tes, menjelaskan tentang penskoran pekerjaan tes, pengolahan skor dengan memuat rumus-rumus statistika penunjang pengolahan skor, dan analisa tes secara keseluruhan. Bab terakhir atau bab 8: Interpretasi Hasil Tes, menjelaskan lebih lanjut tentang pengolahan skor mentah menjadi nilai akhir berdasarkan pada Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acian Kriteria (PAK).
            Berbagai materi dengan komponen-komponen yang detail telah dijelaskan dengan baik oleh penulis, yaitu Prof. Dr. Soenardi Djiwandono, seorang dosen Universitas Negeri Malang. Sonardi menjelaskan bahwa buku ini merupakan pengembangan dari buku yang telah ditulis sebelumnya, berjudul Tes Bahasa dalam Pengajaran tahun 1996. Soenardi menulis buku ini dengan upaya untuk menyediakan buku tes pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa yang dapat digunakan sebagai pegangan bagi pengajar bahasa maupun calon pengajar bahasa sebagai bahan rujukan dan pembekalan. Soenardi juga menjelaskan, dalam penulisan buku ini dipicu oleh kesadaran bahwa hingga dewasa ini belum cukup tersedia buku pegangan tes bahasa yang merupakan bagian dari kurikulum pembelajaran bahasa, dimaksudkan untuk melengkapi ketersediaan buku rujukan bidang tes bahasa yang hingga dewasa ini umumnya masih ditulis dalam bahasa asing.
            Secara keseluruhan, buku ini memang perlu digunakan dalam lingkungan akademik. Buku ini termasuk ke dalam buku pendidikan, berjenis buku IPS dan humaniora. Sebagaimana telah dijelaskan Soenardi, buku ini dipakai oleh para pengajar bahasa untuk mendalami hal-hal yang berkenaan dengan tes. Jika dibandingkan dengan buku sebelumnya, yaitu buku Tes Bahasa dalam Pengajaran, buku ini mencakup lebih lengkap dan detail mengenai tes pada umumnya dan tes bahasa pada khususnya. Kupasan mengenai berbagai masalah yang disajikan pun lebih rinci dan mendalam. Berbeda jika buku ini dibandingan dengan buku Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan karya Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. Keduanya merupakan buku yang sama-sama mengkaji tentang komponen evaluasi pembelajaran dan kaitannya dengan tes. Hanya saja, buku karangan Suharsimi Arikunto menjelaskan hal tersebut secara luas dan umum disertai penyantuman teori kognitif Taksonomi Bloom, sedangkan buku Soenardi cakupannya dapat menjadi umum maupun khusus, yaitu tentang tes bahasa.
            Ada beberapa hal menarik yang terdapat dalam buku ini. melalui bab perbab, Soenardi menjelaskannya dengan detail, disertai dengan pemberian contoh contoh yang lengkap, yaitu disertai rumus-rumus, bagan, dan ilustrasi, yang secara langsung dapat mempermudah pembaca tentang apa yang telah dijelaskan. Di akhir bab pun, Soenardi meberikan ringkasan mengenai butir-butir intisari, diikuti pendalaman materi berupa pertanyaan-pertanyaan yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan isi bab tersebut. Hal itu pula merupakan fasilitas pemahaman isi buku yang digunakan pula untuk memperkaya wawasan dalam berdiskusi. Secara penampilan, desain sampul buku menarik dengan dominasi warna biru. Sistematika yang tersusun pun baik dan harmonis. Penjelasan tiap bab mengandung hubungan dengan bab-bab yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini dapat mendorong pembaca untuk berpikir kritis dan berpikir sistematis dalam merangkaikan hal-hal yang berhubungan tersebut. Kalimat demi kalimat diutarakan dengan baik, paragrafnya pun berkoheren dan diksi yang digunakan dapat dimengerti oleh pembaca. Beberapa istilah asing yang terdapat di buku ini pun dijelaskan kembali ke dalam bahasa Indonesia untuk mempermudah pemahaman pembaca.
            Sayangnya buku ini tidak menampilkan detail tentang biografi penulis. Padahal dalam sebuah buku, penyantuman biografi penulis sangatlah penting untuk meyakinkan pembaca bahwa penulis bukanlah orang sembarangan yang menulis buku. Buku ini pun tidak menyantumkan alamat penerbit. Bahasa yang digunakan baik, tetapi ada beberapa kata yang absurd dan tidak dimengerti karena memiliki makna yang ganda. Terdapat pula kesalahan penyuntingan, yakni masih terdapat beberapa ejaan yang terbalik.
Namun secara keseluruhan, buku ini merupakan buku yang tepat dijadikan referensi atau bahan rujukan untuk mengetahui seluk beluk tes serta pengolahannya. Selain itu pula efektif bagi pengajar maupun calon pengajar dalam memberikan evaluasi terhadap peserta didik. Selamat membaca, semoga bermanfaat!





Sabtu, 24 September 2011

Hety Rahmawati, Komentar Resensi " Dongeng Zaman Pancaroba" oleh Bonnie Triyana dan Arif Zulkifli

PENILAIAN PRINSIP NOVEL SEBAGAI CERITA
Komentar Resensi Novel Dongeng Zaman Pancaroba  karya Remy Sylado oleh Bonnie Triyana dan Arif Zulkifly

HETY RAHMAWATI


Meresensi sebuah karya sastra tidaklah mudah. Butuh pertimbangan khusus mengenai seluk beluk karya sastra itu sendiri secara mendalam, serta dibutuhkan pengetahuan yang luas agar resensi yang terciptakan mampu menarik pembaca untuk dapat mempertimbangkan karya sastra itu sendiri dengan objektif. Gorys Keraf dalam bukunya, Komposisi, menjelaskan bahwa peresensi harus memahami sepenuhnya tujuan dari pengarang aslinya, dan menyadari sepenuhnya apa maksudnya membuat resensi. Peresensi pun harus menyusun strategi agar mendapatkan sasaran-sasaran resensi yang tepat. 

Salah satu karya sastra adalah novel. Tentu semua orang tahu bahwa novel sangatlah digandrungi oleh masyarakat kebanyakan, karena isi cerita yang menarik, mengimajinasi, serta menginspirasi kehidupan. Novel pada umunya merupakan sebuah penggambaran kehidupan masyarakat yang dibalut oleh cerita dengan ciri khas pengarangnya. Nurgiyantoro (1955:9) menjelaskan bahwa novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus. Melalui novel, pengarang dapat menyuguhkan secara aktraktif dan dengan latar yang berani tampil beda, yang memungkinkan tidak dapat disamakan oleh pengarang lainnya. Ada makna yang diguratkan dalam setiap kata. Meski novel merupakan non fiksi, tapi terdapat fakta yang menjelmakan karangan ini menjadi sesuatu yang hidup dan dapat dipetik hikmahnya.

Remy Silado, salah satu dari pengarang ternama di Indonesia selalu menyuguhkan cerita yang menghibur. Latar politik serta kehidupan “zaman dahulu” ia masukkan dalam karangan novelnya. Salah satunya adalah Hotel Prodeo yang mengisahkan berbagai macam peristiwa serta insiden bernuansa politis namun kompleks.

Setiap novel unik, memiliki suatu keunggulan namun ada pula kelemahannya. Bonnie Triyana, sang peresensi yang juga seorang sejarawan dan Pemimpin Redaksi Majalah Historia Online dan Arif Zulkifli mendeskripsikan penilain mengenai novel ini dengan lugas. Diawali oleh sinopsis novel yang mengisahkan watak dari tokoh utama bernama Dharsana, seorang perwira komisaris besar bergaya parlente dan hobi bermain perempuan. Ada konflik cinta, rumah tangga, syahwat, dan tentu saja politik yang disusung di dalamnya. Bonnie dan Arief menceritakan dengan dari sudut pandang yang tajam mengenai struktur isi cerita dengan fakta sejarah yang ada pada zaman Orde baru tersebut. Bonnie membandingkan pula novel Hotel Prodeo dengan novel-novel Remy Sylado yang lainnya, yakni Ca Bau Kan dan Kembang Jepun. Latar waktu “zaman dahulu” yang menjadikan cirri khas Remy serta pergolakan politik yang menjadi ciri khas Remy. Remy menegaskan lebih memilih isi ketimbang bentuk, maka cerita yang ditampilkan merupakan penggambaran dari prinsip novel itu sendiri, yakni sebagai cerita.

Selain itu, mereka pun dengan detailnya menemukan keganjilan dalam novel ini mengenai tangkapannya dalam jiwa zaman sebuah periode yang aktraktif untuk diriwayatkan, yakni tentang jenjang kepangkatan polisi beda era serta perubahannya. Ada anakronisme yang tertera dalam resensinya. Selain itu, mereka juga menjelaskan kelemahan novel ini bahwa Remy terkesan seperti memanjang-manjangkan cerita meskipun secara keseluruhan novel ini dapat menghibur. Dan diakhir resensinya, Bonnie dan Arief menuliskan pesan yang mereka tangkap dari novel ini.

Bonnie dan Arif tak lupa menyantumkan identitas buku, seperti judul, penulis, penerbit, cetakan, serta tebal. Namun sayang sekali, tidak dicantumkan kode ISBN serta kategori buku, meski memang secara pasti pembaca dapat menebak kategori buku ini.