Tampilkan postingan dengan label Umi Chairunnisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umi Chairunnisa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2012

MIND MAP ARTIKEL ILMIAH
UMI CHAIRUNNISA


PEMILIHAN BAHASA DAERAH UNTUK ANAK USIA DINI DALAM MENANAMKAN KECINTAAN AKAN INDONESIA
Umi Chairunnisa
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta

1.    Pendahuluan
Menurut Fasold (1984) hal pertama yang terbayang bila kita memikirkan bahasa adalah “bahasa keseluruhan” (whole languanges) dimana kita membayangkan seseorang dalam masyarakat bilingual atau multilingual berbicara dua bahasa atau lebih dan harus memilih yang mana yang harus digunakan. Menggunakan bahasa pertama, kedua atau bahkan ketiga? Namun, dari beberapa pilihan penggunaan bahasa, bahasa yang paling dominan yang akan didapatkan oleh seorang anak adalah bahasa Ibu. Hal ini dikarenakan pemerolehan bahasa pertama tersebut hadir dalam lingkungan yang tanpa sengaja membentuknya.
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan zaman, ternyata seorang anak dari usia dini sudah ditanamkan pendidikan untuk pemerolehan bahasa kedua atau bahasa asing. Hal ini dikarenakan bahasa kedua atau bahasa asing dianggap lebih perlu digunakan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dibanding bahasa Ibu atau bahasa daerah. Selain sangat berguna dalam percakapan internasional dan hubungan kerja pada saat anak-anak itu beranjak dewasa, para orang tua merasa menggunakan bahasa asing juga dianggap prestise. Karena pikiran orang tua itulah, maka anak pun juga ikut berpikir untuk lebih perlu menggunakan bahasa asing dibandingkan dengan bahasa daerah yang notabene sudah didapatkan mereka sejak dini. Padahal bila ditelisik, pemilihan bahasa daerah untuk anak usia dini tanpa disadari dapat menanamkan kecintaan akan Indonesia pada diri si anak.

2.    Pemilihan Bahasa Daerah vs Pemilihan Bahasa Asing
Pemilihan bahasa bahasa asing yang ditanamkan orang tua pada anak-anak mereka sesungguhnya tidak dapat disalahkan. Mengapa demikian? Hal ini karena terdapat tuntutan masyarakat yang menginginkan fasihnya penggunaan bahasa asing. Alasannya adalah sistem hubungan masyarakat modern yang terjadi pada saat anak-anak tersebut beranjak dewasa dan terjun ke dalam dunia kerja. Pada saat seperti itu, mereka diharuskan berhubungan tidak hanya dengan satu suku bangsa melainkan juga dengan bangsa lain.
Bahasa daerah sebenarnya bisa didapatkan dengan mudah oleh si anak sejak ia dini. Banyak cara yang bisa dilakukan oleh anak dalam memperoleh bahasa daerah seperti meniru, memproduksi, memberikan umpan balik, dan mengoperasikan langsung. Dan cara-cara tersebut dilakukan tanpa disengaja oleh orang tua. Anak-anak mereka secara naluriah mengikuti hal-hal yang dilakukan oleh orang tua atau orang-orang yang berada dekat dengan lingkungan mereka. Bahasa daerah ini secara sadar tidak hanya membentuk karakter si anak melainkan juga membangun sikap terhadap identitasnya sebagai seorang warga negara.
Tidak seperti bahasa daerah, bahasa asing dibentuk karena disengaja. Bahasa asing ditanamkan karena ada manfaat lebih yang akan didapatkan bila anak berhasil menguasainya. Tujuan baik si orang tua dalam pemilihan bahasa asing, sebenarnya membuat anak justru kehilangan jati dirinya. Ketika sang orang tua mengenalkan bahasa asing pada tumbuh kembang sang anak, anak cenderung bingung untuk memilih mana bahasa yang seharusnya ia tiru dan ia gunakan. Tujuan orang tua semula pun membelok. Anak-anak pun pada akhirnya cenderung lebih banyak menggunakan bahasa asing yang notabene bukan bahasa yang menunjukkan identitas dirinya.
Tapi sebenarnya argumentasi tersebut tidak dapat diterima begitu saja. Karena pemilihan bahasa asing untuk anak memberikan manfaat yang dirasa sangat baik untuk masa depan sang anak. Meskipun begitu harus ada sikap dari orang tua untuk tetap terus memilih dan menggunakan bahasa daerah. Hal ini bukan semata-mata tidak ingin kalah dengan bahasa asing, tetapi usaha untuk menanamkan identitas kepada diri anak mengenai tempat kelahirannya.

3.    Perkembangan Zaman dan Budaya
Dari paparan diatas dapat dikatakan bahwa pemilihan bahasa sangat dipengaruhi oleh perkembangan zaman dan budaya. Perkembangan zaman menuntut seorang anak untuk mampu bersosialisasi tidak hanya dengan masyarakat dari satu suku bangsa yang sama melainkan masyarakat dari suku bangsa lain. Ini adalah suatu paksaan yang memang mengharuskan seorang anak tidak hanya memilih bahasa Ibu melainkan juga bahasa kedua atau bahasa asing. Tak hanya sosial, dalam perkembangan zaman pun tuntutan akan pemilihan bahasa asing sangat menentukan dalam bidang ilmu pengetahuan. Karena itu faktor perkembangan zaman ini sangatlah menentukan.
Pemilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa sebenarnya juga disebabkan oleh berbagai faktor sosial serta budaya. Evin-Tripp (1972) mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penanda pemilihan bahasa penutur dalam interaksi sosial, yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi; (2) partisipan dalam interaksi, (3) topik percakapan, dan (4) fungsi interaksi. Faktor pertama sebenarnya dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga. Si anak akan terbiasa memilih bahasa yang cocok dengan kepribadiannya. Disini peran orang tua sangatlah penting, karena si anak akan meniru atau mencontoh sikap dari pemilihan bahasa yang digunakan oleh si orang tua.
Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur. Tak hanya dengan orang tua, anak juga memiliki sosok lain seperti guru dan teman yang ikut berpengaruh dalam pemilihan bahasanya. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang peristiwa-peristiwa yang dialami oleh anak. Faktor keempat berupa fungsi interaksi seperti kebiasaan rutin yang dilakukan oleh sang anak (salam, meminta maaf, atau mengucapkan terima kasih).
Lewat faktor sosial dan budaya itu, pemilihan bahasa menjadi sangat berpengaruh. Misalnya saja dalam mengucapkan salam, bila orang tua selalu mengucapkan “good morning” kepada anaknya setiap pagi, maka sang anak pun meniru orang tuanya dengan mengucapkan hal yang sama pada orang tuanya. Disini dapat terlihat bahwa orang tua menginginkan anaknya untuk memilih bahasa asing dalam kebiasaan rutinnya. Lalu anak pun ikut melakukannya dalam kegiatan sosial di luar rumah. Kebiasaan rutin yang sangat sepele itu saja sudah menanamkan semacam budaya untuk menggunakan bahasa kedua dalam rutinitas sehari-hari. Tak hanya budaya dalam pemilihan bahasa tetapi juga budaya dalam rutinitas sehari-hari. Dengan mengucapkan satu kalimat dengan bahasa asing saja sudah menanamkan semacam budaya bangsa lain kepada diri si anak.
Berbeda dengan Evin-Tripp, Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur. Dalam penelitiannya tentang pemilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay, Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa, (2) sekolah, dan (3) tempat umum sangat menentukan pemilihan bahasa masyarakat. Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani, di sekolah akan memilih bahasa Spanyol, dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol.
Ini juga yang terjadi di Indonesia. Di daerah seperti Jawa, di desa pembicara akan memilih bahasa Jawa, di sekolah akan memilih bahasa Indonesia dan bahasa asing, sedangkan di tempat umum memilih bahasa Jawa. Dari sejak dini, anak disuguhi dengan kegiatan seperti ini, sehingga pemilihan bahasa ibu sangat kental di daerah Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa di daerah Jawa, pengenalan identitas diri kepada anak cukup tinggi. Tepat kiranya seperti yang dijelaskan oleh Rubin, bahwa lokasi tempat berlangsungnya peristiwa tutur sangat mempengaruhi pemilihan bahasa. Bahkan tak hanya pemilihan bahasa, melainkan juga identitas diri dalam pemilihan bahasa.

4.    Pemilihan Bahasa Ibu dan Kecintaan akan Indonesia
Dalam hal memilih bahasa mana yang harus digunakan ada tiga jenis pilihan yang dapat dilakukan, yaitu, pertama dengan alih kode, artinya, menggunakan satu bahasa pada satu keperluan, dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain. Kedua dengan melakukan campur kode, artinya, menggunakan satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-serpihan dari bahasa lain. Ketiga, dengan memilih satu variasi bahasa yang sama. Batas ketiga pilihan ini kadang-kadang dengan mudah dapat ditentukan, tetapi kadang-kadang agak sukar karena batasnya menjadi kabur.
Dari ketiga bahasa tersebut banyak orang tua yang memilih jenis pilihan yang pertama, yakni menggunakan bahasa daerah pada situasi yang memang tidak formal, dan menggunakan bahasa asing pada situasi yang memang benar-benar diperlukan. Hal ini merupakan cara orang tua untuk tidak menghilangkan identitas diri dari anak mereka. Di lain sisi orang tua memang menginginkan anak mereka untuk fasih menggunakan bahasa asing, namun di sisi lainnya, orang tua tersebut juga tidak ingin anak-anak mereka jatuh kehilangan jati dirinya karena terlalu sering menggunakan bahasa asing.
Sikap orang tua tersebut dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan terhadap pemilihan bahasa. Penelitian terhadap pemilihan bahasa sendiri menurut Fasold dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan disiplin ilmu, yaitu berdasarkan pendekatan sosiologi, pendekatan sosial, dan pendekatan antropologi. Secara pendekatan sosiologis, Di Indonesia secara umum digunakan tiga buah bahasa dengan tiga domain sasaran, yaitu bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing. Bahasa Indonesia digunakan dalam domain keindonesiaan, atau domain yang sifatnya nasional, seperti dalam pembicaraan antarsuku, bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, dan dalam surat-menyurat dinas. Bahasa daerah digunakan dalam domain kedaerahan, seperti dalam upacara pernikahan, percakapan dalam keluarga daerah, dan komunikasi antarpenutur sedaerah. Sedangkan bahasa asing digunakan untuk komunikasi antarbangsa, atau untuk keperluan-keperluan tertentu seperti seminar internasional.
Dari pendekatan sosiologis itulah yang menyebabkan orang tua mengharuskan anaknya tidak hanya fasih menggunakan bahasa daerah tetapi juga bahasa kedua. Karena yang diperlukan tidak hanya bahasa ibu tetapi juga bahasa asing yang memiliki peranan luas. Namun, untuk alasan tersebut tak membuat orang tua harus merasa terbodohi untuk membiarkan anak-anak mereka mengalami kebutaan akan jati diri. Orang tua masih menggunakan bahasa daerah dengan baik dalam rutinitas sehari-hari agar anak biasa mengerti identitas mereka yang sesungguhnya adalah dari pemilihan bahasa daerah yang mereka gunakan.
Dengan menanamkan pemilihan bahasa daerah sejak usia anak masih dini, membuat anak memiliki identitas esensial yang sah. Sejak dini, ia mengenal tentang tempat kelahiran ibunya dan dirinya sendiri. Sejak dini, ia juga mengerti bahasa seperti apa yang ibunya dan dirinya sendiri gunakan. Pemilihan bahasa daerah sendiri pada akhirnya menimbulkan semacam kecintaan akan Indonesia yang tidak mungkin didapatkan bila orang tua sejak dini terus menanamkan pemilihan bahasa asing kepada anak mereka.

5.    Simpulan
Pemilihan bahasa asing yang dilakukan mungkin memang dinilai cukup baik tujuan orang tua merancang masa depan anak mereka. Pemilihan bahasa asing tak hanya menunjukkan semacam prestise sendiri untuk anak mereka bila mereka fasih melafalkannya, tetapi juga memudahkan masa depan kelak dalam menjalankan kehidupan kerja. Hal ini merupakan argumentasi kuat karena pada kenyataannya, pemilihan bahasa asing sangat berpengaruh dalam sukses atau tidak seseorang berhubungan dengan orang yang tak hanya hadir dari satu suku bangsa melainkan suku bangsa lain.
Namun. Ditelisik lebih lanjut pemilihan bahasa asing nyatanya tidak memberikan semacam identitas diri tersendiri kepada anak. Hal ini karena pemilihan bahasa asing tidak memiliki penjelasan yang jelas mengenai latar belakang dari penggunaannya. Diperlukan penggunaan bahasa daerah yang kuat untuk memberikan penekanan identitas yang esensial bagi anak. Oleh karena itu pemilihan bahasa daerah sangatlah penting karena dengan begitu ia akan mengerti jati diri serta dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.

Daftar Pustaka
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta

Sabtu, 31 Desember 2011

MIND MAP JURNAL ILMIAH
UMI CHAIRUNNISA

Kategori Fatis Dialek Betawi dalam Kumpulan Cerita Pendek Gambang Jakarte Karya Firman Muntaco
Karya: Heni Rasmawati

 ABSTRAK
Heni Rasmawati, Penggunaan Kategori Fatis Dialek Betawi dalam Kumpulan Cerita Pendek Gambang Jakarte Karya Firman Muntaco, Skripsi, Jakarta: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta, Juni 2011.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan kategori fatis dalam kumpulan cerita pendek Gambang Jakarte karya Firman Muntaco. Penelitian ini dilaksanakan di Jakarta yang dimulai pada November 2010 sampai dengan April 2011 dengan objek penelitian adalah partikel dan kata fatis, gabungan fatis, serta frase fatis pada percakapan dialog. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Fokus penelitiannya sendiri adalah melihat penggunaan kategori fatis dalam percakapan dialek Betawi yang dilihat berdasarkan bentuk, distribusi, fungsi dan makna kategori fatis dalam dialognya. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan bantuan tabel analisis. Berdasarkan distribusi analisisnya, partikel fatis, paduan fatis, gabungan fatis terpisah, campuran fatis, dan frase fatis dapat berdistribusi di awal, tengah, dan akhir kalimat. Fungsi partikel fatis sendiri untuk memulai pembicaraan, mengukuhkan pembicaraan, mematahkan pembicaraan, menegaskan pembicaraan, dan membentuk kalimat interogatif. Dari sinilah analisis dikembangkan dan bila dilihat dari hasil analisisnya, kategori fatis pada kumpulan cerpen Gambang Jakarte karya Firman Muntaco digunakan hampir di setiap dialog dan membangun cerita.

Kata kunci : kategori, fatis, dialek, Betawi, Gambang Jakarte.

A.    Pendahuluan
Bahasa Betawi merupakan salah satu bahasa daerah yang masih hidup di Indonesia. Bahasa tersebut merupakan alat komunikasi sehari-hari yang digunakan oleh penutur bahasa Betawi yang tinggal di daerah DKI Jakarta, Bekasi, Bogor, Tanggerang dan Depok. Migrasi besar-besaran yang melanda kota Jakarta sesudah kemerdekaan Indonesia menempatkan kelompok etnis penduduk asli yaitu kaum Betawi hanya sebagian kecil masyarakat Jakarta yang multietnis. Bersamaan dengan itu terbentuklah, yang menurut Stephen Wallace disebut bahasa Betawi Modern.
Bahasa betawi sebagai komunikasi sehari-hari menggunakan dialek Betawi yang tentu banyak mengandung unsur daerah yang pada umumnya merupakan ragam lisan nonstandar. Dalam dialognya banyak yang tidak menyadari penggunaan ungkapan seperti sih, ko dan dong. Ungkapan-ungkapan ini merupakan partikel fatis maupun kata fatis yang digolongkan dalam kategori fatis. Hal ini ditemui di dalam kumpulan cerpen Gambang Jakarte karya Firman Muntaco.
Gambang Jakarte merupakan kumpulan cerpen karya Firman Muntaco. Cerita yang ada dalam kumpulan cerpen tersebut merupakan gambaran spesifik khusus kehidupan Jakarta. tradisi yang begitu kental sangat tergambar di kumpulan cerpen ini karena Firman Muntaco sendiri merupakan putra asli Betawi yang juga duta budaya Jakarta. kumpulan cerpen ini memomulerkan bahasa Betawi dengan humornya yang “hidup” dan segar yang lebih banyak menceritakan orang-orang asli Jakarta.
Dengan gaya bertutur santai, kalimat percakapan sehari-hari dalam dialek Betawi yang ditemui pada kumpulan cerpen Gambang Jakarte dapat dikatakan sangat komunikatif, seperti pada kalimat “Lu ude nggak kenal langgar sih?”. Dapat dilihat dari kalimat tersebut  termasuk ke dalam kategori fatis yaitu sih di akhir kalimat. Bentuk kata atau partikel fatis digunakan sebagai ungkapan penutur mengenai perasaannya. Selain itu juga untuk menyatakan perasaan penuturnya, fatis juga dipakai untuk menjalin hubungan antara penutur dan lawan tuturnya. Jalinan tersebut dapat berupa ucapan salam maupun keakraban hubungan dengan basa-basi pergaulan. Dari sinilah kategori fatis ini sangat berkembang dalam bahasa percakapan nonformal.
Kategori fatis sendiri terbagi atas partikel dan kata fatis, serta frase fatis. Fatis tidak memiliki makna leksikal, namun memiliki makna yang menimbulakan fungsi tersendiri dalam kalimat. Fungsi dalam kategori fatis pun berbeda dengan fungsi dalam tataran sintaksis. Di dalam tataran sintaksis, fungsi merupakan peran sebuah unsur dalam satuan sintaksis yang lebih luas, sedangkan fungsi yang dimaksud dalam kategori fatis adalah pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi. Kehadiran kategori fatis dalam berbagai distribusi tertentu yang memberikan makna berbeda. Fungsi atau makna kata fatis dapat terlihat pada konteks penggunaannya, yakni dalam situasi dan pendistribusian dalam kalimat.
Dari latar belakang masalah tersebut dapat dilihat rumusan masalah dalam penelitian ini. Rumusan masalahnya sendiri adalah bagaimana penggunaan kategori fatis dialek Betawi pada kumpulan cerpen Gambang Jakarte karya Firman Muntaco. Dari perumusan masalah tersebut diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan dalam bidang linguistik dan sosiolinguistik.

B.    Teknik Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, digunakan beberapa teknik. Hal yang paling awal dilakukan adalah membaca berulang kali 46 cerpen yang terdapat di dalam buku kumpulan cerpen Gambang Jakarte karya Firman Muntaco. Lalu setelah itu mencari kalimat percakapan yang mengandung kategori fatis pada kumpulan cerpen Gambang Jakarte. Setelah menemukan kalimat yang dianalisis, maka selanjutnya mengidentifikasi kalimat-kalimat percakapan yang mengandung kategori fatis secara acak dengan mengambil dari 14 cerpen pada kumpulan cerpen Gambang Jakarte.
Identifikasi tersebut berdasarkan bentuk kategori fatis berupa partikel fatis, dan frase fatis. Distribusi kategori fatis seperti awal, tengah, dan akhir pada bentuk kategori fatis. Fungsi kategori fatis yakni, memulai pembicaraan, mengkukuhkan, mematahkan pembicaraan, meminta persetujuan atau pendapat lawan bicara, meyakinkan, membentuk kalimat interogatif, serta mengakhiri pembicaraan antara pembicaraan dan kawan bicara. Makna kategori fatis yakni menghaluskan paksaan, menyatakan bantahan, menekankan kekesalan, pemberian garansi, menyatakan kesungguhan, menekankan keheranan, menyatakan basa-basi, menekankan kebenaran suatu fakta, menyatakan keberadaan tempat atau waktu, menyatakan kesetujuan, dan menekankan keingintahuan.

C.    Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini yang didapatkan dari analisis kategori fatis pada kumpulan cerpen Gambang Jakarte karya Firman Muntaco berdasarkan bentuk, distribusi, fungsi, dan makna. Berdasarkan bentuk, kategori fatis terdiri atas 36 partikel fatis, jumlah gabungan fatis ada 114 buah yang terbagi atas paduan fatis yang berjumlah 21 buah, gabungan terpisah fatis y6ang berjumlah 89 buah, dan perulangan fatis yang berjumlah 4 buah, serta frase fatis yang berjumlah 5 buah. Berdasarkan distribusi, partikel fatis dapat berdistribusi di awal kalimat berjumlah 17 buah, di tengah berjumlah 22 kalimat, dan di akhir kalimat berjumlah 12 buah. Sedangkan paduan fatisnya, di awal kalimat terdapat 11 buah, di tengah kalimat berjumlah 7 buah, dan di akhir 9 buah. Gabungan terpisah fatis, di awal kalimat terdapat 44 buah, di tengah kalimat berjumlah 133 buah, dan di akhir 35 buah. Perulangan fatis, di awal kalimat terdapat 4 buah, di tengah kalimat berjumlah 1 buah, dan tidak ditemukan di akhir kalimat. Frase fatis, di awal kalimat terdapat 4 buah, di tengah kalimat berjumlah 1 buah, dan di akhir 2 buah.
Berdasarkan fungsinya, partikel fatis berfungsi untuk memulai pembicaraan sebanyak 4 buah, mengkukuhkan pembicaraan sebanyak 9 buah, mematahkan pembicaraan sebanyak 5 buah, meminta persetujuan sebanyak 6 buah, meyakinkan pembicaraan sebanyak 10 buah, menegaskan pembicaraan sebanyak 19 buah, dan membentuk kalimat interogatif sebanyak 5 buah. Paduan fatis berfungsi untuk memulai mengkukuhkan pembicaraan sebanyak 11 buah, meminta persetujuan sebanyak 4 buah, dan menegaskan pembicaraan sebanyak 10 buah. Gabungan terpisah fatis berfungsi untuk memulai pembicaraan sebanyak 1 buah, mengkukuhkan pembicaraan sebanyak 29 buah, mematahkan pembicaraan sebanyak 12 buah, meminta persetujuan sebanyak 6 buah, meyakinkan pembicaraan sebanyak 10 buah, menegaskan pembicaraan sebanyak 111 buah, dan membentuk kalimat interogatif sebanyak 7 buah. Perulangan fatis berfungsi untuk mengkukuhkan pembicaraan sebanyak 1 buah, meyakinkan pembicaraan sebanyak 1 buah, dan menegaskan pembicaraan sebanyak 3 buah. Frase fatis berfungsi untuk memulai pembicaraan sebanyak 2 buah, mengkukuhkan pembicaraan sebanyak 1 buah, meyakinkan pembicaraan sebanyak 1 buah, menegaskan pembicaraan sebanyak 1 buah, dan membentuk kalimat interogatif sebanyak 1 buah.
Berdasarkan maknanya, partikel fatis bermakna yaitu menghaluskan paksaan sebanyak 10 buah, menyatakan bantahan sebanyak 4 buah, menekankan kekesalan sebanyak 14 buah, pemberian garansi sebanyak 7 buah, menekankan kesungguhan sebanyak 8 buah, menekankan keheranan sebanyak 9 buah, basa basi sebanyak 4 buah, menekankan kebenaran suatu fakta sebanyak 18 buah, menyatakan keberadaan tempat atau waktu sebanyak 2 buah, menyatakan kesetujuan sebanyak 4 buah, dan menekankan keingintahuan sebanyak 1 buah. Paduan fatis bermakna yaitu menghaluskan paksaan sebanyak 10 buah, pemberian garansi sebanyak 1 buah, menekankan kesungguhan sebanyak 1 buah, basa basi sebanyak 3 buah, menekankan kebenaran suatu fakta sebanyak 2 buah, menyatakan kesetujuan sebanyak 8 buah, dan menekankan keingintahuan sebanyak 3 buah. Gabungan terpisah fatis bermakna yaitu menghaluskan paksaan sebanyak 20 buah, menyatakan bantahan sebanyak 13 buah, menyatakan kekesalan sebanyak 25 buah, pemberian garansi sebanyak 8 buah, menekankan kesungguhan sebanyak 47 buah, menyatakan keheranan sebanyak 14 buah, basa basi sebanyak 4 buah, menekankan kebenaran suatu fakta sebanyak 53 buah, menyatakan keberadaan tempat atau waktu sebanyak 5 buah, menyatakan kesetujuan sebanyak 11 buah, dan menekankan keingintahuan sebanyak 21 buah. Perulangan fatis bermakna menghaluskan paksaan sebanyak 1 buah, menekankan kesungguhan sebanyak 10 buah, dan menekankan keheranan sebanyak 4 buah. Frase fatis bermakna yaitu menyatakan salam sebanyak 2 buah, menekankan pujian atau syukur sebanyak 2 buah, membalas salam sebanyak 1 buah, dan menyatakan doa sabanyak 1 buah. Kategori fatis ditemukan pada variasi bahasa santai yang merupakan ragam bahasa non standar karena kategori fatis muncul pada dialek kedaerahan seperti pada kumpulan cerpen Gambang Jakarte karya Firman Muntaco yang menggunakan dialek melayu Betawi.

D.    Kesimpulan
Dari analisis berdasarkan bentuk, distribusi, fungsi, dan makna, maka kategori fatis pada kumpulan cerpen Gambang Jakarte karya Firman Muntaco digunakan hampir di setiap dialog dan membangun cerita.

Daftar Pustaka
Alwasilah, A. Chaedar. 1990. Sosiologi Bahasa. Jakarta: Angkasa.
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
B.S, Kusno. 1985. Pengantar Tata Bahasa Indonesia. Bandung: CV Rosda.
Anggraini, Maria Rosa. 2009. Penggunaan Kategori Fatis Bahasa Indonesia. Skripsi. Jakarta: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaniago, Sam Mukhtar. 1997. Pragmatik. Jakarta: Universitas Terbuka.
Keraf, Gorys. 1991. Tata Bahasa Indonesia. Ende: Penerbit Nusa Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
————— . 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
————— . 2008. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
————— . 2010. Forum Linguistik Pascasarjana 2010. Jakarta: Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Depok.
Malinowski, Bronislaw. 1972. “The Problem of Meaning in Primitive Languages” dalam The Meaning of Meaning. London: Routledge dan Kegan Paul.
Muhajir. 2000. Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Muntaco, Firman. 2006. Gambang Jakarte. Jakarta: Masup Jakarta.
Muslich, Masnur. 1990. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Malang: YA3.
Saidi, Ridwan. 2010. Potret Budaya Manusia Betawi. Jakarta: Perkumpulan Renaissance Indonesia.
————— . 2010. Riwayat Tanjung Priok. Jakarta: Perkumpulan Renaissance Indonesia.
Sudaryanto. 1990. Menguak Fungsi Hakiki Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Sutami, Hermina. 2005. Ungkapan Fatis dalam Pelbagai Bahasa. Depok: Pusat Leksikologi dan Leksikografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Yohanis, Yan Sehandi. 1991. Tinjauan Kritis Teori Morfologi dan Sintaksis Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah.
Yusuf, Sudaryanto. 2010. Bunga Rampai Probelematika Bahasa Indonesia. Jakarta: Trikars Media.
MIND MAP LAPORAN BUKU
Umi Chairunnisa



Laporan Buku: Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan
Oleh Umi Chairunnisa

Buku ini berjudul Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan yang dikarang oleh salah seorang tenaga pengajar di Jurusan Kurikulum dan Tekhnologi Pendidikan FIP Universitas Pendidikan Indonesia bernama Dr. Wina Sanjaya, M.Pd. Selain sebagai tenaga pengajar, beliau juga salah seorang anggota Tim Perumus Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Bila dilihat dari latar belakang pendidikan penulis, dapat disimpulkan bahwa pekerjaannya sangat berhubungan dengan isi buku ini, yakni menyoal strategi pembelajaran. Buku ini memiliki ketebalan mencapai 249 halaman dengan panjang buku 23 cm dan diterbitkan oleh penerbit Kencana yang terletak di Rawamangun, Jakarta Timur. Selain menyertakan alamat, buku ini disertai juga dengan ISBN. ISBN yang tertera dalam buku ini adalah 979-3925-73-6.
Dilihat dari tujuannya, buku ini sebenarnya diperuntukkan untuk para guru. Mengapa guru? Sebab buku ini membahas mengenai strategi pembelajaran yang berorientasi pada standar proses pendidikan. Tak hanya membahas mengenai strategi-strategi pembelajarannya saja namun dibahas juga pengertian dari standar proses pendidikan dan perlunya standar proses pendidikan bagi para guru. Sesungguhnya pengetahuan lewat buku ini bertujuan untuk membantu para guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang sesuai dengan tujuan dan kompetensi yang akan dicapai.
Dari segi isi, penulis membagi teori yang dibahasnya menjadi 14 bab. Bab pertama membahas tentang standar proses pendidikan. Disini dijelaskan pengertian, fungsi dan perlunya standar proses pendidikan untuk seorang guru. Bab kedua membahas tentang pencapaian standar proses pendidikan. Maksudnya adalah bagaimana guru mengoptimalkan peran guru dalam proses pembelajaran serta bagaimana keterampilan dasar yang cocok bagi guru. Kemudian pada bab ketiga dibahas tentang sistem pembelajaran dalam standar proses pendidikan beserta komponen-komponen di dalamnya. Selanjutnya di bab keempat dibahas mengenai tujuan dan standar kompetensi. Di bab kelima dibahas tentang konsep dan teori mengajar dan belajar dalam standar proses pendidikan.
Di bab keenam masuk ke bahasan mengenai tentang strategi pembelajaran aktivitas siswa. Seperti apa jenis-jenis strategi pembelajaran yang termasuk ke dalam pembelajaran aktivitas siswa serta bagaimana prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran dalam konteks standar proses pendidikan dibahas dalam proses pendidikan. Bab ketujuh dibahas tentang metode dan media pembelajaran dalam standar proses pendidikan. Lalu bab yang selanjutnya dibahas tentang strategi pembelajaran ekspositori. Bab kesembilan membahas tentang pembelajaran inkuiri yaitu pembelajaran yang minitikberatkan pada mencari dan menemukan. Kemudian pada bab kesepuluh membahas strategi pembelajaran berbasis masalah. Pada bab kesebelas dibahas tentang strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir. Pada bab keduabelas dibahas strategi pembelajaran kooperatif dan pada bab ketigabelas membahas strategi pembelajaran kontekstual. Lalu pada bab terakhir membahas tentang strategi pembelajaran afektif.
Dari segi isi buku tersebut dapat dinilai buku ini sangatlah membantu para guru dalam mengajar. Secara pendekatan persoalannya sendiri buku ini cukup membantu para guru dalam meningkatkan kompetensi profesionalnya. Sedangkan dalam segi bahasa, penulis menggunakan bahasa yang cukup dimengerti oleh sasaran pembacanya. Namun dari segi percetakannya, buku ini dapat dinilai kurang baik. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa halaman yang tercetak tidak jelas. Tapi, dapat dikatakan secara keseluruhan buku ini sangat menarik dan bagus dalam segi isi, meski dalam segi kemasannya maupun cara mencetaknya pun terkesan kurang menarik dan tidak diperhatikan.

Minggu, 13 November 2011

Mengenal Lebih Dekat Tes Bahasa
oleh Umi Chairunnisa

Dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa, sebagaimana halnya dalam penyelenggaraan pembelajaran bicang-bidang yang lain, evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari penyelenggaraan pembelajaran secara keseluruhan.


Judul                : Tes Bahasa: Pegangan Bagi Pengajar Bahasa
Penulis             : Prof. Dr. M. Soenardi Djiwandono
Penerbit           : PT Indeks
Cetakan           : I, 2008
Tebal               : 260 Halaman
ISBN                : 979-683-881-8



Sebagai suatu pembelajaran, pembelajaran bahasa diselenggarakan untuk mencapai sejumlah tujuan pembelajaran yang telah diidentifikasi dan dirumuskan berdasarkan telaah mendalam terhadap kebutuhan yang perlu dipenuhi. Tujuan-tujuan pembelajaran tersebut harus diupayakan dan diselenggarakan dengan matang dan seksama, agar dapat berjalan secara semestinya. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, maka diperlukan rangkaian kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan bahan ajar dan latihan yang teliti. Upaya untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran itu maka diselenggarakan rangkaian evaluasi terhadap hasil pembelajaran yang telah dilakukan dalam kurun waktu tertentu.
Evaluasi sendiri secara umum adalah suatu upaya pengumpulan informasi tentang penyelenggaraan pembelajaran sebagai dasar untuk pembuatan berbagai keputusan. Dalam penyelenggaraan pembelajaran sendiri, evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk melakukan penilaian terhadap seluruh penyelenggaraan pembelajaran. Penilaian ini bisa dalam bentuk observasi, wawancara, pengisian kuisioner dan tes.
Termasuk dalam bahasa, terdapat tes bahasa yang dimaksudkan sebagai suatu alat atau prosedur yang digunakan dalam melakukan penilaian dan evaluasi pada umumnya terhadap kemampuan bahasa dengan melakukan pengukuran terhadap tingkat kemampuan bahasa. Pengukuran ini dimaksudkan untuk menentukan tingkat kemampuan dalam penguasaan bahasa. Namun, dalam pemahaman tes bahasa sendiri terdapat beberapa pendapat yang sesuai dengan pendekatan-pendekatan berbeda. Begitu juga dengan jenis-jenis tes secara umum dan jenis-jenis tes secara khusus yang menjelaskan tentang bahasa.
Penjelasan-penjelasan itu dijelaskan dengan sangat baik oleh Prof. Dr. M. Soenardi Djiwandono. Dengan tujuan sebagai buku pegangan dalam pembelajaran bahasa, buku ini sangat membantu dalam memahami evaluasi bahasa. Penulis memaparkan dengan bahasan yang baik tentang landasan dan latar belakang penyelenggaraan tes bahasa pada bab (1) Evaluasi Kemampuan Bahasa, yang mengetengahkan fungsi tes bahasa dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa pada umumnya. Dilanjutkan dengan bab (2) Pendekatan Tes Bahasa, yang menyajikan beberapa cara memandang dan memahami bahasa yang berbeda-beda, sesuai dengan perkembangan ilmu bahasa yang menjadi dasar dan latar belakang masing-masing pendekatan dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa, dan tes bahasa yang digunakan.
Bagaimana tes bahasa dapat dibedakan satu dari lainnya, dikupas rinciannya bab (3) Jenis Tes Secara Umum, yang memabahas jenis dan ciri-ciri tes sebagaimana dikenal dan digunakan dalam wacana tentang tes pada umumnya. Kemudian disajikan pada bab (4) Jenis Tes Bahasa, yang membahas tes yang khusus hanya dikenal dan digunakan dalam pembelajaran bahasa. Pembahasan tentang tolak ukur mutu tes dikupas di bab (5) Ciri-ciri Tes yang Baik, dengan bahasan tentang hakekat, jenis, dan cara verifikasinya yang dapat diterapkan pada tes berbagai bidang kajian, termasuk tes bahasa.
Penerapan berbagai pokok bahasan tentang seluk beluk tes di Bab 1 sampai dengan bab 5 dilanjutkan dengan bab tentang penerapannya dalam merencanakan dan menyusun tes pada bab (6) Penyusunan Tes. Bagaimana skor yang diperoleh sebagai hasil penyelenggaraan tes yang telah disusun itu dibahas pada bab (7) Analisis Hasil Tes, sedangkan bagaimana hasil tes itu diinterpretasikan menjadi hasil akhir berupa nilai akhir, dikupas pada bab (8) Interpretasi Hasil Tes, yang merupakan bab terakhir dari buku ini.
Sebagai buku penunjang, buku ini sangat bermanfaat dalam menyelenggarakan dan memproses hasil tes yang diselenggarakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tugas pengajar. Tak hanya itu, seperti yang disebutkan oleh penulisnya dalam kata pengantar bahwa buku ini dimaksudkan untuk melengkapi ketersediaan bahan rujukan bidang tes bahasa yang hingga dewasa ini pada umumnya masih ditulis dalam bahasa asing. Buku ini diharapkan penulis sebagai buku tes pembelajaran bahasa bagi pengajar di berbagai tingkat dan jenjang pendidikan.
Dari ulasan ringkasan dan alasan pengarang menulis buku ini dapat dinyatakan bahwa buku ini merupakan buku pengayaan pengetahuan jenis IPS dan Humaniora. Cukup banyak buku serupa dengan buku ini, seperti salah satunya buku Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan karangan Suharsimi Arikunto. Bila dibandingkan dari segi konten, buku ini sama-sama membahas tentang evaluasi. Namun dari cara pembahasan dan bahasannya pun banyak perbedaan. Seperti halnya materi yang disajikan. Buku karangan Suharsimi Arikunto membahas tes secara umum, sedangkan buku Tes Bahasa sendiri membahas tes lebih khusus, yakni tes bahasa.
Bicara tentang evaluasi, buku ini mengupas tentang berbagai masalah yang ada kaitannya dengan tes bahasa secara mendalam. Buku ini juga dilengkapi dengan contoh-contoh dan ulasan yang lebih lengkap, termasuk rumus-rumus penghitungan yang sering digunakan untuk mengungkap berbagai aspek dan ciri tes, khususnya tes bahasa. Bila dilihat secara menyeluruh, isi buku ini memang sangat membantu dalam memahami tes bahasa. Sayangnya ada beberapa contoh-contoh yang kurang dimengerti, seperti contoh-contoh yang hanya dijelaskan dengan bagan sedangkan penjelasannya sendiri menggunakan rumus-rumus yang cukup rumit.
Dari uraian di atas maka dapat dinyatakan bahwa buku ini dapat dibaca oleh siapa saja. Terutama adalah pengajar di berbagai tingkat pendidikan. Hal ini karena bahasan buku ini mengulas tentang tes bahasa, dimana beberapa pengajar sangat membutuhkan banyak referensi untuk kegiatannya dalam menilai dan mengukur kemampuan bahasa peserta didiknya. Tak hanya pengajar, peserta didik setingkat mahasiswa yang berhubungan dengan bidang pendidikan juga membutuhkan buku ini untuk bahan rujukan ketika menyusun tes, terutama tes bahasa.

MIND MAP

Jumat, 23 September 2011

Umi Chairunnisa, Komentar Resensi "Dongeng Zaman Pancaroba" oleh Bonnie Triyana dan Arif Zulkifli


Dongeng Zaman Pancaroba di Mata Sejarawan

Dengan ketebalan mencapai 1.016 halaman, Hotel Prodeo menyajikan sebuah fakta yang dirasakan oleh penulisnya bahwa banyak bandit yang berkeliaran di luar penjara.

Dengan judul resensi Dongeng Zaman Pancaroba, sejarawan sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Historia Online, Bonnie Triyana dan temannya Arif Zulkifli menggambarkan dengan singkat bagaimana isi dari novel terbaru Remy Sylado yang berjudul Hotel Prodeo. Dari awal paragraf, penulis resensi ini menjelaskan mengenai sinopsis cerita. Tak banyak yang digambarkan dengan kata, namun siapapun yang membacanya pasti mengerti cerita singkat dari isi novel yang ditulis oleh Remy Sylado tersebut. Seakan memahami, penulis resensi juga mengulas perbandingan novel ini dengan novel-novel sebelumnya yang ditulis oleh Remy Sylado. Penulis menganggap bahwa novel ini tak jauh beda dari novel-novel sebelumnya yang menghadirkan romantika kehidupan manusia dalam konflik perasaan dan problematika zaman yang ikut membelenggu.
Resensi ini pun memberikan data singkat tentang buku, baik itu tentang penulis, penerbit, tahun terbit serta tebal buku yang mencapai 1.016 halaman. Dari ketebalan halaman yang mencapai 1.016 halaman ini, penulis resensi menganggap bahwa Remy Sylado seperti ingin membuktikan sesuatu. Ini memang tepat adanya, karena dengan usia yang sudah tidak muda lagi, rasanya Remy memang memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa. Tak hanya itu, apa yang diungkapkan penulis resensi mengenai kepintaran Remy dalam membaca kebiasaan orang Indonesia yang malas untuk membaca novel panjang juga tepat. Setidaknya dilihat dari latar belakangnya, penulis resensi sudah sangat jelas memberi deskripsi mengenai isi, data buku, juga kepengarangannya.
Deskripsi singkat mengenai cerita novel yang disisipkan oleh penulis resensi di awal resensi membuat pembaca resensi akan berpikir bahwa buku dengan ketebalan 1.016 halaman tersebut merupakan sebuah novel. Bahasa yang digunakan oleh penulis resensi pun dianggap jelas dan menarik. Penulis resensi memang tidak menjelaskan secara detil dari awal cerita hingga akhir, namun justru itu yang membuat pembaca tertarik untuk membaca novel karangan Remy Sylado. Selain deskripsi singkat mengenai isi buku, penulis resensi juga dengan baik membuat perbandingan dengan novel-novel Remy Sylado yang terdahulu. Hal ini membuat pembaca semakin tertarik untuk membaca novel ini, karena tema yang diangkat tidak jauh dari percintaan dan konflik batin tokoh-tokohnya seperti di novel-novel karangan Remy Sylado sebelumnya.
Penulis resensi juga dengan sangat jelas menggambarkan keunggulan novel. Penulis resensi mengungkapkan bahwa Remy Sylado menyuguhkan kompleksitas yang tak mudah ditebak. Tak hanya itu, sang penulis resensi yang merupakan sejarawan mengerti dengan baik bagaimana gambaran perubahan zaman dari orde baru ke era reformasi. Karena itu keganjilan-keganjilan yang terjadi dalam novel ini dan berkaitan erat dengan perubahan zaman, dikritik dengan sangat jelas oleh penulis resensi yang juga adalah sejarawan. Dari kelebihan dan kelemahan buku ini patut kiranya bahwa buku ini dianggap menarik oleh penulis resensi. Dengan ketebalan mencapai 1.016 halaman, Hotel Prodeo menyajikan sebuah fakta yang dirasakan oleh Remy Sylado bahwa banyak bandit yang berkeliaran di luar penjara.
Selain menarik, novel ini juga dianggap sebagai novel yang menghibur. Dilihat bagaimana penulis resensi mengagumi pemikiran Remy Sylado yang menyajikan aktor-aktor kejahatan kemanusiaan orde baru yang harus mendekam di dalam hotel prodeo. Meskipun ini hanya sebuah bentuk keinginan, namun dengan sangat jelas penulis resensi juga berharap bahwa itu dapat dijadikan sebuah kenyataan. Mungkin inilah yang menjadikan penulis resensi tertarik untuk meresensi novel karangan Remy Sylado ini.